Kenapa Budaya 3S Mulai Luntur

Oleh: Tony Situmeang

BUDAYA Senyum Sapa Salam (3S) nampaknya sudah jarang diterapkan oleh masyarakat terutama dikota-kota besar. Budaya 3S merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan,misalnya saat kita bertemu dengan teman lama, saudara maupun keluarga dekat, spontanitas merasa bahagia dan senyum lalu menyapanya sekalian memberi salam.

Tapi jika kondisi tidak memungkinkan memberi 3S, kita cukup memberi 1S saja yakni senyum. Contoh saat mengendarai kendaraan. Orang tersebut merespon dengan senang hati. Jika tersenyum tubuh akan mengeluarkan hormon yang baik dan positif tentunya kesehatan.

Tetapi kenapa budaya 3S mulai luntur. Apa susahnya menerapkannya ?
Dalam kehidupan bermasyarakat, budaya 3S sangatlah diperlukan menjaga keharmonisan antarsesama baik bernegara dan berbangsa demi keutuhan Kebhinekaan dan Persatuan.

Dengan menerapkan budaya 3S ini perbedaan yang ada di Tapanuli Utara dapat dilebur hanya satu budaya, yaitu Senyum Sapa Salam. Bahkan memberi banyak dampak positif, baik pada diri sendiri maupun mempererat tali persaudaraan, agama dan suku.

Orang yang kita benci tak perlu diperlakukan kasar cukup menerapkan budaya 3S dan juga akan mendapatkan pahala.

Percaya atau tidak, obat dari dokter tidak selalu bisa menyembuhkan semua penyakit. Baik penyakit ditimbulkan akibat stres, belum tentu disembuhkan total jika hanya mengkonsumsi obat dari dokter.

Selanjutnya kita akan menghilangkan akar tekanan dan stres dengan keampuhan budaya 3S.

Budaya 3-S adalah konsep yang mengandalkan sikap personifikasi dengan kemampuan tutur kata yang santun serta merta tidak menunjukkan sikap aprori.

Respon positif atau negatif adalah bukti apresiasi yang spontan, harfiah, tersirat, tercermin dari arut wajah dan mimik.Untuk itu mengapa budaya 3-S kembali dihanturkan sebagai landasan hidup bersosialisasi, menghargai dan saling menghormati salah satu ujung tombak Ketuhanan dan Kesatuan.

Semakin kokoh meningkatkan Kesatuan yang berlandaskan Ketuhanan maka semakin tangguh menghadapi tantangan hidup.

Konsep dan Progres 3S, adalah pembentukan karakter yang berporos pada asas kesantunan secara personal atau jamak.

SENYUM : Adalah Ketika budaya ramah terlihat dari raut wajah,mengundang lawan bicara dengan ajakan familiar.
SAPA : Adalah Ketika membuka diri untuk silahturahmi dan bersikap menerima akan personal
SALAM : Adalah Ketika akrab dimana nilai santun dan keterbukaan dengan terjalin secara komunikatif juga respon positif. (penulis adalah wartawan tinggal di Tarutung)

 

Berita Terkait

  • Tidak Ada

Komentar

Komentar