Keramik Lokal Harus Menjadi Tuan di Negeri Sendiri

DILANTIK – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, disaksikan Sekjen Kemenperin, Haris Munandar, bersalaman dengan Adie Rochmanto Pandiangan usai dilantik menjadi Direktur Industri Bahan Galian Non Logam, di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 15 Oktober 2018. -tubasmedia.com/ist

 

JAKARTA, (tubasmedia.com) –    Direktur Industri Bahan Galian Non Logam, Kementerian Perindustrian, Adie Rochmanto Pandiangan, berniat menjadikan keramik buatan dalam negeri menjadi tuan di negeri sendiri.

Hal itu dikatakan Adie kepada wartawan di ruang kerjanya kemarin sebagai responnya tentang keramik impor yang  membanjiri pasar dalam negeri.

Sebenarnya menurut Adie yang baru sehari menduduki jabatan barunya sebagai Direktur Industri Bahan Galian Non Logam, keramik impor yang membanjir di Indonesia adalah keramik yang menyasar konsumen menengah ke bawah, sementara konsumen menengah ke atas, sepenuhnya diisi dengan keramik buatan dalam negeri.

‘’Dan disitulah kelebihan keramik impor, harganya sangat kompetitif dan bisa melayani kebutuhan kelas menengah ke bawah,’’katanya.

Namun demikian, Adie menambahkan, pemerintah akan terus melakukan kajian, agar keramik buatan dalam negeri bisa menyaingi nilai tambah keramik impor sehingga keramik nasional menjadi mandiri.

Diakui bahwa kelebihan keramik impor dari China, selain mereka berlimpah bahan baku, China memproduksi keramik secara massal sehingga harga satuannya menjadi sangat kompetitif.

‘’Selain itu, pemerintah China memberi insentif kepada eksportir keramik sehingga daya saing mereka di negara-negara tujuan menjadi semakin tinggi,’’ jelasnya.

Kendati demikian, Adie optimis, keramik buatan dalam negeri akan segera bisa mandiri dan mengejar ketertinggalan dari negara asing. Ini bisa dibuktikan bahwa desain keramik Indonesia tidak perlu diragukan lagi, pasalnya produk dalam negeri, umumnya dterima di tempat-tempat tertentu seperti hotel dan rumahsakit.

Di tempat terpisah, Forum Pengguna Keramik Seluruh Indonesia (FPKSI) meminta pemerintah untuk tidak terlalu memproteksi industri keramik.

Seperti diketahui Ketua Umum FPKSI Triyogo, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan tengah memproses pengajuan safeguard yang diajukan oleh Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) terkait impor keramik yang semakin menggerus ceruk pasar keramik nasional.

‘’Pemerintah seharusnya tidak terlalu protektif.  Industri keramik dilepas saja, agar memberikan kompetisi antara impor dan industri,” ungkap Triyogo di Jakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut kata dia, saat ini produsen keramik dalam negeri masih menggunakan peralatan dan sistem lama yang masih memproduksi keramik glasir, sedangkan tren dunia sudah menggunakan keramik porselen.

“Industri-industri semacam ini yang seharusnya pemerintah dukung, bagaimana keramik glasir menuju keramik porselen. Tren dunia  sudah menggunakan keramik porselen,” katanya. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar