Keseimbangan Investasi Portofolio dan Investasi Langsung

Oleh: Fauzi Aziz

INVESTASI selalu berkorelasi dengan pelipatgandaan nilai. Apakah itu nilai aset atau nilai pasar. Investasinya juga harus bisa kembali setelah memperhitungkan berbagai resiko yang harus dipikul.

Di era sekarang, investasi portofolio berkembang lebih pesat ketimbang investasi langsung di sektor-sektor produksi yang menghasilkan barang dan jasa. Ini bisa kelihatan dalam data statistik, dimana perkembangan jasa keuangan dan asuransi di Indonesia berdasarkan data BPS 2016 laju pertumbuhannya tinggi, 8,90% lebih tinggi dari laju pertumbuhan di Tiongkok sebesar 5,7%.

Pertumbuhan tertinggi di Tiongkok justru diraih sektor property/realestate, 8,6%. Laju pertumbuhan sektor produksi di tahun yang sama di Indonesia, mengalami tekanan. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan tumbuh 3,25%; pertambangan dan penggalian 1,06% dan industri pengolahan 4,29%.

Data ini paling tidak mengkonfirmasi bahwa investasi portofolio berkembang lebih cepat daripada investasi langsung, khususnya di Indonesia.

Apakah ini bersifat alamiah atau karena dampak dari kebijakan atau merupakan trend yang terjadi secara global karena pengaruh globalisasi dan liberalisasi pasar finansial dan pasar modal, serta liberalisasi perdagangan.

Perkembangan ekonomi dewasa ini bersifat kompleks. Faktanya memang pasar selalu diramaikan perdagangan uang, saham, obligasi serta barang dan jasa yang diperdagangkan secara bebas. Keramaian dan kesepian di pasar pasti akan berpengaruh terhadap kegiatan investasi, baik portofolio maupun investasi langsung.

Inilah mengapa pemerintah dimana saja selalu mengupayakan fondamental ekonomi agar selalu baik dan terjaga, serta mampu menangkal resiko eksternal, baik karena siklus ekonomi/bisnis maupun akibat krisis ekonomi sekalipun.

Kebijakan investasi, portofolio dan investasi langsung, dikembangkan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan Indonesia memerlukannya. Pada dasarnya kedua kebijakan tersebut tunduk pada regulasi yang berbeda meskipun prakteknya sama-sama liberal pasca krisis likuiditas tahun 1997/1998.

Secara teoritis, antara investasi portofolio dan investasi langsung semestinya bisa saling berkaitan, khususnya investasi yang dilakukan di pasar modal dan pasar obligasi (swasta/pemerintah) karena dapat menjadi sumber pembiayaan investasi langsung maupun untuk pengembangan usaha.

Hanya saja investasi portofolio lebih sering dilakukan untuk jangka pendek, sedangkan investasi langsung cenderung bersifat pembiayaan jangka panjang sehingga dari sisi sourcenya para investor di sektor riil lebih memilih pembiayaan bank atau lembaga pembiayaan lainnya yang menyediakan pinjaman jangka panjang.

Investasi portofolio lebih cenderung bersifat trading (bahkan sebagai tindakan spikulasi), dimana investornya lebih mengharapkan dapat yield atau capital gain dan laba kurs dan sebagainya.

Bagaimana menciptakan keseimbangan di antara keduanya. Apakah mungkin dilakukan. Jawabnya bu kan keseimbangan yang diperlukan karena secara nyata perputaran uang dan modal di investasi portofolio gapnya sudah sangat jomplang dengan investasi langsung.

Karena itu, yang realistik adalah bagaimana mendorong dana investasi portofolio masuk dalam jaringan investasi langsung, misalnya untuk membangun infrastruktur, membangun pabrik baru, cetak sawah dan kebun agar sektor tradable dapat tumbuh rata-rata 6-7% per tahun.

Investasi portofolio dan investasi langsung di Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk tumbuh, asalkan ada jaminan stabilitas politik keamanan, stabilitas ekonomi makro, harmonisasi regulasi dan pelayanan publik yang makin efisien.

Sisi lain dapat kita lihat dari permintaan, khususnya terkait dengan perkembangan kelas menengah dan sejauh mana berkorelasi dengan kegiatan investasi portofolio dan investasi langsung. Dari sisi Indonesia, perkembangan kelas menengahnya dapat dipandang sebagai pilar kemajuan negeri ini dalam kedudukannya sebagai konsumen sekaligus investor, baik di sektor portofolio maupun menjadi enterpreneur.

Jumlah kelas menengah Indonesia sekitar 134 juta orang. Logika ekonominya mengatakan mereka mempunyai potensi demand yang sangat kuat terhadap berbagai produk dan layanan. Dampak positipnya diharapkan mampu mendorong investasi baru di sektor manufaktur dan industri-industri yang sudah ada.

Di saat yang sama, mereka juga aktif menjadi investor portofolio, dalam banyak instrumen investasi yang ditawarkan, sehingga karena itu, kita tidak kaget jika sektor jasa keuangan dan asuransi di tahun 2016, laju pertumbuhannya mencapai 8,90%.

Di Tiongkok saja hanya 5,7%. Tapi industri skunder dan tersiernya mampu tumbuh masing-masing 6,1% dan 7,8% sehingga total pertumbuhan ekonomi Tiongkok masih bisa tumbuh 6,7% di tahun 2016.

Ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,02% akibat sektor tradablenya hanya tumbuh rendah, pertanian, kehutanan dan perikanan 3,25%, pertambangan dan penggalian 1,06% dan industri pengolahan 4,29%.

Pemerintah tidak boleh abai dalam melihat perkembangan kelas menengah Indonesia, apalagi Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2025-2035. Saat ini banyak tertarik minat berinvestasi di sektor industri kreatif yang berkaitan dengan pengembangan software, animasi dan sebagainya.

Terkait dengan ini, data BPS 2016, usaha di bidang informasi dan komunikasi pertumbuhannya termasuk tinggi, 8,87%. Welcome the great Indonesia ada di depan mata. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar