Klise, Normatif dan Sudah Berulangkali Diputar

Oleh; Fauzi Aziz

 

KETIKA kekuasaan bersatu dan bekerjasama dengan pengendali modal global membangun perekonomian suatu bangsa, yang terjadi pasti bagaimana melawan conflict of interest.

Problemnya adalah tidak semua berhasil melawan konflik tersebut sehingga berkembanglah fenomena tentang konspirasi antara korporatokrasi dengan birokrasi, dan fenomena ini membuka peluang emas terjadinya KKN.

Ini bukan hal baru karena fenomena ini sudah berkembang sejak abad lampau sekitar abad 18dan 19 ketika sistem kapitalisme tumbuh dan berkembang di Barat.

Sistem kapitalisme makin dewasa, tumbuh dan makin mengglobal hingga abad ini, sehingga kian menggurita pengaruhnya di seluruh dunia. Kini kita hidup dalam jaringan sistem kapitalisme yang dikatakan sangat ambisius untuk mengendalikan sistem ekonomi global, dan berhasil.

Sebab itu, kita dituntun untuk tidak bisa melepaskan diri keluar dari jaringan sistem kapitalisme global. Pola kerjanya juga sudah banyak difahami, yaitu eksploratif dan eksploitatif terhadap sumber daya ekonomi suatu negara.

Selain itu juga bersifat ekspansif menjelajah ke seluruh pelosok dunia dengan membawa misi besar tunggal, yaitu menguasai aset bangsa yang berdaulat.

Sebelum mencapai apa yang mereka inginkan, perilaku kapitalisme global tidak akan berhenti melakukan operasinya. Mereka bisa mengendalikan IMF, World Bank dan WTO yang bekerja untuk mengamankan kepentingannya.

Sistem ini adalah invisible hand.Invisible hand-nya siapa? Jawabnya adalah sistem kapitalisme itu sendiri. Kita tahu bahwa sistem ini sudah melembaga dan terorganisir untuk mengendalikan modal global yang berputar di seantero jagad raya, di  negara-negara di bawah pengaruhnya.

Kuda Tunggangan

Kekuatan dan kekuasaannya melebihi kapasitas kekuasaan politik dimanapun. Inilah sesungguhnya sang super power dalam ekonomi liberal. Super power bukan berbasis kekuatan politik, tapi berbasis pada kekuatan modal.

Kekuatan politik sesungguhnya hanya dijadikan kuda tunggangan semata, dan bisa “dibayar” untuk kepentingan para kapitalis.  Senjata paling ampuh yang digunakan adalah konspirasi dan target utamanya adalah negara – negara yang pemerintahnya lemah dan korup.

Sampai kapanpun, rezim devisa bebas tidak pernah akan diganti oleh rezim devisa control selama sistem kapitalisme global mengusai perekonomian dunia.

Diskursus ini memberikan satu situasi dan postur ekonomi global dewasa ini yang diramaikan oleh pergerakan modal, akuisisi dan merger. Modal cenderung mengalir dari negara emerging economy menuju ke negara maju.

Capital outflow lebih sering terjadi daripada capital inflow. Menjadi jelas kondisi ekonomi di beberapa emerging economy mengalami kesulitan menjaga dan mempertahankan stabilitas ekonomi dalam negerinya.

Sistem kapitalisme global sangat jelas hanya minta tiga hal yakni jaga stabilitas politik dan keamanan dalam negeri, status invesment grade (layak investasi), dan kendalikan inflasi.

Krisis ekonomi kapan hari H-nya bisa terjadi, pemegang kekuasaan politik tidak pernah tahu kapan akan terjadi. Tapi para pengendali sistem kapitalisme global mereka tahu kapan hari H-nya akan terjadi karena mereka yang pegang remote controlnya,seperti ibarat ketika AS menjatuhkan bom atom di nagasaki dan hirosima tahun, 1945. Andrew Hitchcock pernah memberikan catatan menarik tentang ini, yaitu bahwa dengan kekuatan manipulasi uang, mereka bisa mendalangi berbagai krisis ekonomi di banyak negara.

Mereka bisa menjatuhkan nilai uang sebuah negara, membuat negara menjadi miskin, menghancurkan nilai properti, membantai industri manufaktur, dan mengeringkan keuangan nasional. Indonesia pernah mengalami sendiri ketika terjadi krisis 1997/1998.

Apa yang dikatakannya hampir semuanya pernah kita alami di kala itu,  dan jangan lupakan itu dalam lintasan sejarah ekonomi Indonesia.

Apa yang berlangsung dewasa ini sepertinya tidak ada lagi pihak otoritas moneter dan fiskal di seluruh dunia (termasuk IMFdan World Bank) yang sanggup mengendalikan sistem kapitalisme global  yang beroperasi tanpa batas sehingga mengancam kebangkrutan ekonomi di banyak negara.

Sistem itu ibarat sudah menjadi bola liar yang panas. Sekali datang (membawa capital inflow) , ekonomi domestik bisa turun tensi ekonominya, tapi begitu terjadi capital outflow semua. meradang.dan deman tinggi.

Panadol

Intervensi tidak lebih seperti obat panadol. Seakan menjadi negara berdaulat tidak berarti apa-apa ketika kekuatan modal datang dan segera pergi, meskipun kadang datang untuk kembali dan kemudian pergi lagi. Kita bisa lihat apa yang berkembang hingga 11 Oktober 2018 di pertemuan IMF-WB di Bali.

Yang sudah dinyatakan di media nasional sudah dapat kita duga, antara lain bahwa dunia menghadapi tantangan ketidak pastian keuangan dan perekonomian global.

Negara-negara diminta bekerjasama dan saling membantu untuk mengatasinya. Itu saja yang menonjol, klise, normatif dan sudah berulang kali diputar. Masalah pokoknya tidak pernah dibahas, misalnya bahwa sistem kapitalisme global telah menciptakan ketidak adilan global.

Dalam hal yang dihadapi Indonesia adalah jelas, ekonomi dalam negeri tertekan sekali. Dan Indonesia sulit keluar dari pusaran sistem kapitalisme dan liberalisme yang sudah mendarah daging dalam kondisi fondasi ekonominya tidak terlalu kuat, dan daya saingnya juga belum baik.

Bagaimana dengan persoalan akuisi dan merger? Aksi korporasi ini sudah mendunia dan bukan hal yang aneh dan tak perlu diratapi. Mengapa? Karena akuisisi dan merger adalah bagian dari strategi untuk menguasai aset atau build in dalam cara kerja sistem kapitalisme global untuk mengusai aset dan mengendalikan bisnis di sektor produksi dan jasa di seluruh dunia.

Mereka sering kita sebut sebagai global player yang manja dan selalu minta dimanjakan, dan tak mau diganggu. Membayar pajakpun minta tarif yang murah,dan dalam kondisi tertentu minta bebas pajak. Bendera besar sistem ini yang berkibar adalah globalisasi dan demokratisasi. Bendera kecilnya liberalisasi, dan privatisasi.

Bendera-bendera tersebut harus dikibarkan di seluruh dunia, di darat, laut, dan di udara, dimana aset-aset nasional bisa dengan cepat dan mudah, berpindah tangan ke pemilik modal global antara lain melalui mekanisme akuisisi dan merger.

Pertumbuhan bisnis startup yang mulai tumbuh di berbagai belahan dunia sudah diincar oleh mereka. Karena mereka tahu para startup company butuh dana untuk pengembangan bisnisnya. Startup company akhirnya bukan lagi miliknya si polan atau si badu, tapi sudah menjadi miliknya penguasa kapital besar.

Begitu lahir sudah menganga si mulut buaya untuk mencaploknya atas nama kerjasama investasi, dan sesudah itu diajak bicara pembagian saham, setelah itu bicara tentang akuisisi dan merger.

Kita tahu mereka mempunyai likuiditas besar, mengusai teknologi dan jaringan pasar. Pendek kata semua negara emerging economy sudah sulit melepaskan diri dari sistem yang sudah mapan ratusan tahun dan melembaga dan akhirnya harus rela mengikuti cara kerja sistem kapitalisme global yang sudah menjadi The Giant yang sangat perkasa mengendalikan sistem perekonomian dunia hingga kini. Siapa melawan pasti tewas, dan bisa dibuat bangkrut. Apakah yang sudah diakuisisi dan merger bisa di-spin off? (penulis pemerhati masalah ekonomi dan industri)

Berita Terkait

Komentar

Komentar