KMP Ihan Batak Sudah Diluncurkan, Mutu Pelayanan Perlu Dibenahi

Oleh: Sabar Hutasoit

 

KMP Ihan Batak sudah diluncurkan ke perairan Danau Toba pada Sabtu (1/9/2018). Kapal berukuran raksasa itu, semula direncanakan untuk melayani penumpang pada liburan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019. Namun pembangunan kapal itu rampung lebih awal dari yang direncanakan.

Dan sesuai jadwal, kapal yang peluncurannya dilaksanakan di Desa Parparean, Kabupaten Tobasa dan  dilepaskan ke Danau Toba di Desa Parparean II Kecamatan Porsea Kabupaten Toba Samosir, untuk melayani rute Ajibata – Ambarita Samosir PP.

Sampai tahun 2020 diprogramkan akan diluncurkan sebanyak empat unit kapal penyeberangan sejenis sehingga hingga saat ini masih terus berlanjut fabrikasi.

Sudah barang tentu, pengadaan kapal raksasa di Danau Toba adalah bentuk komitmen Presiden Joko Widodo yang ingin menjadikan Danau Toba sebagai destinasi pariwisata international.

Sebagai sarana transportasi untuk melayani para turis domestik dan mancanegara, KMP Ihan Batak ini sengaja dibangun sebagai kapal yang bisa memuat kendaraan yang berjalan masuk ke dalam kapal. Karenanya kapal tersebut disebut sebagai kapal roll on-roll off atau disingkat Ro-Ro.

Diharapkan, dengan kehadiran KM Ihan Batak, penyeberangan ke Kabupaten Samosir akan dapat dibuat semakin lancar dan tidak terulang lagi peristiwa-peristiwa menyedihkan seperti yang terjadi pada masa silam.

Pelayanan transportasi penyeberangan di seputar Danau Toba memang sudah saatnya dibenahi. Baik secara fisik sarana angkutan kapalnya, manajemen, perilaku pekerja yang melayani wisatawan, pemeliharaan sarana dan banyak lagi yang erat kaitannya dengan dunia pariwisata.

Pekerja wisatawan, khususnya di belahan Sumatera Utara tampaknya butuh perhatian dari semua pemangku kepentingan, agar kualitas pelayanan kepada seluruh tamu, baik tamu lokal maupun tamu asing, berlangsung sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.

Keberadaan kapal roro yang serba mewah itu, akan menjadi tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan mutu pelayanan di lapangan dari seluruh kru industri pariwisata.

Sentuhan tangan-tangan dingin dari para pelaku industri pariwisata amat didambakan. Karena hanya dengan cara demikian harapan pemerintah yang ingin menjadikan Danau Toba sebagai destinasi pariwisata internasional, dapat terwujud.

OK, sarana transportase kapal sudah dibenahi, tinggal perawatan dan pemeliharaan yang perlu diperhatikan. Namun sebagai obyek wisata, Danau Toba tidak cukup hanya membenahi jalur transportase. Obyek-obyek pendukungnya juga harus turut serta dibenahi, misalnya pelayanan rumah makan atau restoran.

Dari sisi sopan santun dan tata kerama tidak salah kalau ada niat membenahinya sehingga dari hilir sampai hulu pelayanan kepariwisataan menjadi sangat sempurna.

Pemerintah setempat bersama dengan Kepala Pengembangan Badan Otorita Danau Toba (BODT), harus memiliki power untuk menertibkan tarif makanan dan minuman di seluruh rumah makan atau restoran yang ada sekitar Danau Toba, khususnya di Parapat.

Imej negatif seputar tarif makan di Parapat, seiring dengan hadirnya kapal ro-ro sudah saatnya dipulihkan menjadi positif, khususnya jika ada perayaan di Danao Toba, seperti lomba Solu Bolon dan sebagainya.

Keberadaan keramba di Danau Toba juga saatnya disingkirkan sehingga Danau Toba murni sebagai danau yang kesejukannya bisa dinikmati semua orang. Danau Toba pasca kehadiran kapal ro-ro sebaiknya bersih dari keramba. (penulis adalah seorang wartawan)

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar