Lili: Ketergantungan Industri Kepada Bahan Baku Impor Terlalu Tinggi

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Salah satu tugas pokok pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian adalah mengurangi ketergantungan Indonesia akan bahan baku impor. Hingga kini tercatat tidak kurang dari 78 persen bahan baku industri dalam negeri didatangkan dari luar negeri alias impor.

Hal itu dikatakan Lili Asdjudiredja, anggota Komisi VI DPR kepada tubasmedia.com di kantornya, kemarin. Keadaan ini kata dia menjadi faktor utama melemahkan daya saing produk nasional di mancanegara.

Untuk itu lanjut politisi gaek dari Golkar ini, langkah apapun ditempuh pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan industri nasional, akan sulit membuahkan hasil maksimal selama bahan bakunya masih tergantung kepada impor.

‘’Apalagi jika nilai tukar rupiah kita terhadap dolar AS melemah, maka daya saing produk kita itu akan semakin merosot,’’ jelasnya.

Sebenarnya kata Lili, masalah pengadaan bahan baku di dalam negeri ini sudah sejak dari dulu dipersoalkan, misalnya melalui strategi membangun pabrik yang khusus memproduksi bahan baku yang dibutuhkan industri nasional.

Jika pabrik bahan baku sudah ada di Indonesia, kita tidak lagi ketergantungan impor dan biaya produksi dalam negeri-pun bisa semakin kecil sehingga produk olahannya menjadi kompetitif.

‘’Tapi sayangnya hal itu tidak pernah dispersiapkan pemerintah dan lebih baik memilih mengimpor bahan baku. Bagi kami di dewan, ini menjadi aneh,’’ katanya.

Industri 4.0

Menyinggung pengenalan teori industri 4.0 yang saat ini sedang booming, Lili menyebut langkah itu bagus, tapi jangan berhenti sampai disitu saja. Sehebat-hebatnya teknologi yang kita pakai, tapi jika tidak diikuti dengan pengadaan mesin yang juga canggih, teori itu menjadi kurang menggembirakan.

Penerapan industri 4.0 lanjutnya, harus diikuti dengan peremajaan seluruh mesin industri dengan mesin yang tentunya memiliki teknologi yang bisa diandalkan.

Demikian juga infrastruktur seperti harga listrik dan tingkat suku bunga yang masih bertengger di level termahal. Ditinjau dari harga listrik dan suku bunga bank saja, kata Lili, sudah jelas produk Indonesia kalah bersaing dengan negara lain.

‘’Harga listrik kita termahal di dunia, pengadaan gas juga sering tidak lancea ditambah lagi produktivitas  yang sangat rendah. Ini harus lebih dulu dituntaskan. Kalau tidak, industri 4.0 jangan diharap membawa hasil yang maksimal,’’ katanya. (sabar)

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar