Melalui TASS, Ale Yakin Dapat Melahirkan Pemain Bola Andalan Indonesia

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Motivasinya cuma satu, bagaimana mendidik anak-anak Indonesia yang gemar bermain sepak bola, dengan pendidikan dan pengajaran yang terarah.

Demikian diucapkan Husaini Yaur, pelatih (coach) bola pada Tunas Asa Soccer School (TASS) saat berbincang dengan tubasmedia.com sesaat sebelum melatih anak didiknya di lapangan bola Setu, Jakarta Timur kemarin.

Husain Yaur yang dikenal dengan sapaan Ale merupakan pelatih untuk kelompok umur (KU) 12 pada TASS bersama lima pelatih lainnya untuk KU yang berbeda.

Menurut Ale, pemahaman tentang teori persepakbolaan, amat penting diterapkan kepada para pemula, khususnya anak-anak. Pasalnya, pemahaman teori dasar bermain bola adalah modal utama setiap pemain bola untuk bisa tampil prima di lapangan hijau.

‘’Di awalnya, para pemain bola wajib diberi pemahanam dan pengertian terori sepak bola dengan benar dan tepat. Apa itu pashing, apa kontrol dan sebagainya, para siswa wajib menguasainya untuk kemudian dapat dilepas untuk bermain memperkuat kesebelasannya,’’ jelas Ale ayah dari dua putra berdarah Ambon ini.

Mantan pemain Kesebelasan Liga Dua Pasuruan ini sejak dua ahun silam sudah mengantongi lisensi sebagai coach yang diperoleh melalui kursus di Cibubur Wiladatika, Jakarta Timur.

Ale mengakui dia mendapat lisensi tentang program Filanesia (Filosofi Sepak Bola Indonesia) untuk mengajarkan teori sepak bola modern. Teori itulah yang mau diterapkan kepada anak-anak didik di TASS.

Kendati tidak mudah untuk menerapkannya, khususnya kepada anak-anak, tapi Ale yakin melalui TASS, dirinya bersama coach lainnya akan berusaha maksimal melahirkan pemain bola andalan Indonesia.

Satu hal yang perlu diperhatikan selama mendidik pemain bola adalah soal disiplin, khususnya saat latihan.

Kata Ale, jangankan anak-anak, orang dewasa yang sudah punya cucu sekalipun tidak sediki yang masih main-main saat latihan di lapangan yang bisa mengganggu jalannya pelatihan.

‘’Inilah menurut saya salah satu kelemahan dunia pendidikan persepakbolaan nasional. Disiplin siswa sangat rentan. Padahal di awalnya saya katakan, pelatihan itu sangat menentukan berhasil tidaknya sebuah kesebelasan yang berlaga di rumput hijau,’’ katanya. (sabar)

 

 

 

Berita Terkait

  • Tidak Ada

Komentar

Komentar