Memetakan Strategi Pendidikan SMK Sesuai Kebutuhan

Laporan: Redaksi

Muhyidin

Muhyidin

BEKASI, (Tubas) – “Model Perencanaan Strategi Pendidikan Menengah Kejuruan (SMK) dalam Membangun Bekasi sebagai Wilayah Strategis Provinsi Jawa Barat”, judul disertasi Muhyidin dalam menyelesaikan pendidikan pasca sarjana S-3 Manajemen Pendidikan dengan lulus cum laude.

Pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat itu membuat perencanaan strategi pendidikan menengah kejuruan (SMK) dengan metode research and development (penelitian dan pengembangan) yang dilakukan selama satu tahun di Kabupaten Bekasi. Intinya merencanakan pendidikan menengah kejuruan sesuai kebutuhan dunia industri dan kebutuhan kewilayahan.

Menurut Muhyidin ada dua sisi perencanaan yakni segi pemetaan kewilayahan dan segi kebutuhan tenaga kerja di dunia industri. Perencanaan pendidikan menengah kejuruan sebagai merencanakan program dan keahlian yang sesuai kebutuhan dunia industri dan kebutuhan wilayah. Bagaimana melibatkan partisipasi dunia usaha, dunia industri dan pemerintah daerah. Artinya melibatkan SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) terkait seperti Bappeda, Dinas Perdagangan Perindustrian, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pendidikan juga stakeholders lain di masyarakat, termasuk sekolah dan majelis pendidikan kejuruan daerah.

“Koordinasi sangat penting sehingga mampu memetakan tenaga kerja industri yang ada meliputi tenaga kerja dengan spesifikasi seperti apa. Program dan keahlian apa yang ada di SMK Bekasi yang dapat memenuhi kebutuhan bidang industri,” jelasnya kepada Tubas di ruang kerjanya, pekan lalu.

Diharapkan hasilnya akan merekomendasikan pendirian-pendirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) baru atau penambahan program dan bidang keahlian yang dibutuhkan dunia usaha dan industri. “Juga dilakukan pemetaan perencanaa ke depan sesuai RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) yang sedang dilakukan perubahan di wilayah utara Bekasi dengan akan berdirinya pelabuhan terbesar di Asia Tenggara, pusat industri dan pusat niaga lainnya,” ujarnya.

Mengantisipasi kebutuhan itu, tambah Muhyidin wajar jika jalan pemikiran mengarah kepada harus ada SMK dengan program keahlian tertentu. Misalnya berkenaan dengan kebutuhan pelabuhan, diperlukan SMK yang berhubungan dengan material handling. Program keahlian ini sampai saat ini belum ada, karena program ini memerlukan pelabuhan untuk tenaga-tenaga ahli yang merawat alat-alat angkut di pelabuhan yang difungsikan untuk memindahkan barang peti kemas dan barang berat lainnya.

Ide Muhyiddin itu cukup brilian. Tanpa harus menunggu ahli dari luar negeri dalam melakukan pemetaan pendidikan SMK yang disinergikan dengan kebutuhan dunia industri dan usaha. Lulusan SMK sudah bisa me-maintenance alat-alat berat pelabuhan.

Untuk wilayah Bekasi telah dilakukan pemetaan menjadi empat wilayah pengembangan. Pertama, wilayah pengembangan yang meliputi Kecamatan Tarumajaya, Babelan, dan Muara Gembong. Kedua, meliputi Cabang Bungin, Pebayuran, Suka Karya, Suka Wangi, dan Tambun Utara. Ketiga, meliputi daerah perkotaan seperti Tambun Selatan, Cikarang Barat, dan Cikarang Utara. Keempat, meliputi Setu, Selang, Cibarusah, dan Bojong Mangu. (rudi kosasih)

Berita Terkait

Komentar

Komentar