Mengisolasi Diri ?

Oleh: Fauzi Aziz

BERBANGSA bernegara serta berekonomi dalam dunia yang mengglobal sangat kompleks. Ibarat kata, tidak ada ruang bagi negara-negara di dunia mengambil sikap ekstrim dan kemudian memutuskan go to held globalisasi. Atau secara emosional mengatakan lebih baik kami berdiri sendiri.

Bulsit integrasi ekonomi, atau kolaborasi dan aliansi ekonomi, toh ujungnya tidak mendapatkan manfaat optimal dari berbagai model kerjasama ekonomi yang kini tumbuh menjamur di berbagai kawasan di dunia.

Fenomena ini menarik karena di saat dunia sedang asyik mencermati kerja lembaga internasional seperti PBB, IMF, Bank Dunia,WTO dan lain-lain, serta maraknya pembentukan kerja sama ekonomi kawasan, ada Uni Eropa, TPP, RECP, NAFTA, APEC, ASEAN dan masih banyak lagi di kawasan-kawasan lain, nampaknya ada yang mulai jengah berekonomi dengan cara mengguyub.

Contoh, Inggris keluar dari Uni Eropa. AS keluar dari TPP dan kini yang sedang gonjang-ganjing adalah jika Marine Le Pen, pemimpin Front Nasional Perancis terpilih jadi presiden di negerinya, akan melakukan langkah yang sama keluar dari Uni Eropa.

Dari berbagai fenomena yang ada, kita dapat membaca hal-hal yang berkembang di dunia dewasa ini dengan beberapa analisis sebagai berikut:

Pertama, ada trend bahwa model kerjasama ekonomi secara multilateral mengalami stagnasi dan bergeser marak menuju kerjasama ekonomi di berbagai kawasan, seperti dicontohkan di atas. Ini semua dilakukan secara sadar dengan kalkulasi yang matang, baik dilihat aspek politik, ekonomi dan budaya.
Satu diskursus yang kita dapatkan adalah ada semacam pengakuan berbangsa dan bernegara serta berekonomi pada khususnya harus dilakukan melalui kerjasama/kolaborasi dan aliansi untuk menciptakan stabilitas politik dan ekonomi kawasan dan global.

Semakin menguat diskursus yang kita dapatkan adalah bahwa mengisolasi diri menjadi berekonomi secara “tertutup” adalah hal yang mustahil karena sistem ekonomi global sudah sangat terbuka yang terjadi akibat globalisasi dan digitalisasi.

Jadi isolasi bukan pilihan yang tepat dan kerjasama/kolaborasi dan aliansi ekonomi adalah keniscayaan. Kedua, regionalisasi adalah ibarat rumah gadang raksasa dimana rumah tangga ekonomi kawasan diurus dan dikelola bersama untuk menciptakan kesejahteraan seluruh warganya di kawasan sebagai visi bersama.

Regionalisasi adalah sebuah pilihan politik di antara negara-negara yang bergabung. Dan kesepakatannya harus bisa saling memberi manfaat. Mereka terformat dalam satu kesataraan, membangun visi, misi, strategi dan kebijakan, serta rencana aksi bersama untuk menumbuhkan ekonomi kawasan dan peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

Meski demikian, ada satu fakta bahwa kerjasama tidak selamanya solid karena pasti ada sejumlah kepentingan yang tidak bisa dikompromikan sehingga terjadilah seperti AS tak mau bergabung dengan TPP, Inggris keluar dari Uni Eropa. Keluar tidak berarti menafikkan kerjasama atau akan mengisolasi diri.

Ketiga, apapun perkembangan politik dan ekonomi global dan regional berlangsung, praktek hubungan ekonomi yang bersifat bilateral juga berjalan seperti biasa dan dilakukan oleh hampir semua negara di dunia dan dengan siapapun mereka akan berpartner adalah pilihan politik masing-masing negara yang bermitra.

Diskursus yang kita dapatkan adalah bilamana secara ekstrim kerjasama regional mengalami perpecahan, dunia tak akan runtuh akibat misalnya ASEAN, UE, RECP dan TPP bubar, karena semua negara masih akan bisa bertahan dan hidup dalam lingkungan baru yang menikmati hubungan timbal balik saling memberi manfaat.

Keempat, melihat fenomena politik dan ekonomi di tingkat global, dewasa ini kita dapat memandangnya sebagai dunia mempunyai ruang bermain dan sistem kontigensi berlapis tiga jika ekonomi global yang berlindung di balik tirai kerjasama multilateral stagnasi, masih ada ruang bermain di layer kedua, yakni berlindung di balik tirai kerjasama regional.

Dan pada kondisi paling buruk terjadi kerjasama regional tidak dipandang perlu, maka layer ketiga akan bekerja melalui kerjasama bilateral antar dua negara sahabat untuk membangun kemitraan politik, ekonomi dan budaya sebagai tiga pilar utamanya.

Kelima, sistem itu bisa bekerja seperti penjelasan-penjelasan di atas, tetapi jangan serta merta dipandang secara kaku bahwa ada penjenjangan yang bersifat statis seperti penggambaran di atas karena berdasarkan dinamika yang ada ketiga sistem tersebut hingga kini secara bersamaan sedang bekerja sesuai kaidah-kaidah dan code of conduct masing-masing, apakah itu sistem multilateral, sistem regional, maupun sistem bilateral.

Inilah sistem ekonomi global bekerja dan menata dirinya dan semua dilakukan dalam satu semangat kerjasama dan hampir tidak ada satupun negara pihak akan mengisolasi diri dalam kesendirian mengelola sistem ekonomi nasional.

Kalau sekarang sebagai contoh AS mengambil keputusan assertive,maka tidak bisa dipandang bahwa negara itu akan melakukan isolasi ekonomi. Kalau melakukan langkah proteksi, kita bisa memahami karena AS menghadapi beban ekonomi yang berat. Tahun lalu ekonominya tumbuh 1,9%, hutangnya besar, neraca perdagangannya defisit dan sebagainya.

Setelah ekonominya pulih, AS pasti akan melakukan upaya baru menjalin kerjasama ekonomi dengan banyak negara. Seiring berjalannya waktu, membaca lingkungan strategis regional dan global harus terus menerus kita lakukan. Masing-masing bisa saling sharing karena kita benar-benar merindukan zona damai dan zona makmur secara global, meskipun harus dengan susah payah merealisasikannya karena berbagai kepentingan bercokol di setiap ruang dan waktu dalam pergaulan internasional.

Kita selama ini telah terprovokasi habis-habisan oleh berbagai ramalan para ahli, lembaga pemeringkat bahwa kini telah terjadi pergeseran peran dimana “Barat” tidak lagi dikatakan sebagai lokomotif sistem ekonomi global dan bergeser. Sang lokomotif ekonomi global itu ada di belahan “Timur”.

Kalau kita lihat faktanya menurut ramalan, Tiongkok terbesar nomor 1 dan AS nomor 2. Yang pasti dua-duanya masih sangat besar dan berpengaruh dalam menggerakkan perekonomian global sehingga Indonesia harus bisa mengikuti perkembangan regional dan global.

Berdagang dan berbisnis dengan AS dan Tiongkok tetap penting dan dengan serta dengan negara-negara lain tetap sama pentingnya. Yang tidak boleh adalah Indonesia tidak menjadi boneka atau koloni negara manapun di dunia karena Indonesia adalah negara yang berdaulat penuh, (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar