Menperin Jajaki Kerja Sama Vokasi Industri dengan Singapura

DI SINGAPURA – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura Ngurah Swajaya (ketujuh dari kiri), Anggota DPR RI Robert Joppy Kardinal (ketujuh dari kanan), Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan, Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kemenperin Harjanto, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri Mujiyono berfoto bersama pimpinan dan para siswa Institute of Technical Education (ITE) Singapura di hanggar praktek kampus ITE, 24 Maret 2017.-tubasmedia.com/ist

SINGAPURA, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian tengah menjajaki kerja sama dengan institusi pendidikan di Singapura untuk mengembangkan program pendidikan vokasi industri yang efektif di Indonesia.

Terobosan ini akan diterapkan di dalam kurikulum sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan pola dual system sehingga dapat menghasilkan tenaga kerja terampil yang sesuai kebutuhan sektor industri.

“Kita memerlukan hasil yang cepat dan tepat untuk mencetak sumber daya manusia industri. Maka kami susun program link and match antara SMK dengan industri serta mendirikan sekolah-sekolah baru dengan desain khusus,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam rangkaian kunjungannya menemui Minister for Education (Higher Education and Skills) Singapura Ong Ye Kung dan mengunjungi kampus Institute of Technical Education (ITE), Singapura, Jumat (24/3).

Menperin menyampaikan, bentuk kerja sama potensial kedua negara yang akan dilakukan, antara lain pengembangan sistem pendidikan vokasi dengan konsep dual system, yakni pendekatan pendidikan yang tidak hanya belajar teori, tetapi juga lebih menekankan pada praktek lapangan. Selain itu, perluasan akses dan kesempatan bagi pelajar Indonesia untuk pemagangan pada perusahaan industri di Singapura.

”Kami juga akan memfasilitasi peningkatan kapasitas bagi penyelenggara pendidikan vokasi melalui workshop, seminar, pelatihan teknis dan magang industri, pembentukan master trainer bidang vokasi industri, penyesuaian dan penyetaraan standar kualifikasi tenaga kerja industri serta pengembangan fasilitas dan teknologi pembelajaran pendidikan vokasi,” papar Airlangga.

Terkait strategi tersebut, Menperin berencana mengadaptasi modul-modul yang digunakan di lembaga pendidikan vokasi Singapura seperti ITE.

“Kami juga sudah sampaikan kepada Menteri Ong, bahwa kita ingin belajar dari modul pendidikan di sini yang memberikan pelatihan untuk berbagai jenis keterampilan serta mengirimkan para trainer kami untuk belajar di Singapura,” tuturnya.

Selain mengirimkan trainer, Menperin juga mengharapkan pertukaran pelajar dalam program pemagangan di industri.

Chief Executive Officer ITE Bruce Poh menyambut positif rencana kolaborasi yang dipaparkan Menperin. Institusinya selama ini memberikan jasa konsultasi, khususnya mengenai program pendidikan vokasi.

“Kerja sama antara industri dan pendidikan merupakan peluang besar dan hal tersebut menjadi tujuan dari pelatihan yang kami berikan,” ujarnya.

ITE juga diharapkan membuat fasilitas pendidikan vokasi di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah. Kawasan ini merupakan proyek patungan perusahaan Singapura, Sembcorp Development Ltd dengan perusahaan lokal, PT. Jababeka Tbk. Fasilitas yang diberikan terutama penyediaan pengajar untuk mewujudkan prototipe ITE di Indonesia.

“Apabila diwujudkan, fasilitas pendidikan vokasi tersebut turut menandai 50 Tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Singapura yang diperingati September nanti,” tambah Direktur Jenderal Ketahanan dan Akses Industri Internasional Kemenperin Harjanto yang mendampingi Menperin di kesempatan itu.

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri (Pusdiklat Kemenperin) Mujiyono yang juga mendampingi Menperin menyampaikan bahwa Kemenperin memiliki sembilan SMK, sembilan politeknik serta satu akademi komunitas.

“Sekolah-sekolah kejuruan milik Kemenperin tiap tahunnya meluluskan sekitar 5.000 siswa yang semuanya terserap dunia kerja. Ke depan, akan ditambah tujuh politeknik atau akademi komunitas di kawasan industri dengan program dual system dan sistem blok waktu,” katanya.

Menambah penjelasan Menperin, Mujiyono memaparkan peluang-peluang kerjasama lain seperti kerjasama ITE dengan unit pendidikan Kemenperin yang memiliki kesesuaian program studi, pertukaran materi pembelajaran serta pengembangan sistem sertifikasi.

Selain itu, kerjasama dalam pembangunan politeknik dan akademi komunitas di kawasan industri dan wilayah pusat pertumbuhan industri juga diperlukan untuk mendukung pertumbuhan investasi.

Kementerian Perindustrian mempelopori pembangunan link and match antara SMK dengan dunia usaha industri secara massif untuk menghasilkan lulusan SMK yang kompeten dan siap kerja. Kemenperin menargetkan dapat terbangun link and match antara 355 perusahaan industri dengan 1.755 SMK dalam kurun waktu 2017-2019. (ril/sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar