Menperin: Tahun Ini RI Menduduki Posisi ke-9 di Dunia

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Industri manufaktur nasional semakin memperlihatkan kinerja yang positif, dengan naiknya indeks manajer pembelian (purchasing manager index/PMI) Indonesia dari 48,6 pada bulan Juli menjadi 50,7 periode Agustus 2017 yang dirilis oleh Nikkei dan Markit. PMI di atas 50 menandakan manufaktur ekspansif, sedangkan di bawah 50 menunjukkan manufaktur kontraksi.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai kenaikan indeks manufaktur tidak hanya didorong oleh penguatan permintaan, tetapi juga karena mengalirnya realisasi investasi dan meningkatnya utilisasi di sektor industri.

“Momentum baik seperti ini harus terus dijaga bersama dan semestinya makin ditingkatkan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (6/9).

Oleh karena itu, Menperin berpendapat perlu koordinasi sektoral yang kuat untuk memacu laju pertumbuhan industri manufaktur nasional. Faktor penentu ekspansi tersebut, antara lain ketersediaan bahan baku dan harga energi yang terjangkau.

“Makanya pemerintah melakukan harmonisasi regulasi agar seluruh pelaku industri dalam negeri mendapat kemudahan berusaha,” tuturnya.

Terlebih lagi, menurut Airlangga, peringkat nilai tambah manufaktur Indonesia  juga tengah terangkat di antara negara-negara G20. Berdasarkan data United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dalam penilaian manufacturing value added, juga mencatatkan Indonesia berhasil masuk peringkat 10 besar dunia, melewati capaian Meksiko dan Spanyol, bahkan di atas Inggris dan Rusia.

“Tahun ini, Indonesia diproyeksi menduduki posisi ke-9 di dunia. Untuk itu diperlukan langkah sinergi dengan stakeholders untuk mewujudkan kinerja industri nasional tetap dapat tumbuh dan meningkat di periode berikutnya. Apalagi, industri manufaktur yang dilihat basisnya adalah nilai tambah,” paparnya.

Dalam hal ini, kebijakan prioritas yang tengah dijalankan Kemenperin, di antaranya pengembangan industri berbasis sumber daya alam melalui hilirisasi, meningkatkan daya saing dan produktivitas industri padat karya berorientasi ekspor, serta memacu kompetensi sumber daya manusia industri. (ril/sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar