Menyiasati Kehidupan Yang Dirasa Berat

Oleh: T. Bambang

Ilustrasi

Ilustrasi

MEJALANI kehidupan di dunia ini oleh beberapa orang dirasakan berat. Betulkah demikian? Bila mengamati penayangan berita di media publikasi akhir-akhir ini, sepertinya demikian dan seolah-olah sebagian penduduk dunia ini terkadang mengeluh, “Mengapa Kehidupan Terasa Berat?”

Bila kita rasa-rasakan setiap perikehidupan di dunia ini dengan mata hati yang jernih, sebenarnya yang membuat berat kehidupan ini adalah dari dalam diri kita sendiri. Sebagai hamba Tuhan yang percaya akan kekuasaan-Nya, maka semua yang terjadi pada diri kita sebenarnya merupakan perwujudan dari hasil olah pikir (angan-angan) dan nafsu-nafsu kita sendiri. Pikiran dan nafsu-nafsu itu sendiri merupakan manifestasi dari sifat kuasa Tuhan yang diberikan kepada manusia untuk menjalankan kehidupan di dunia ini.

Mengapa kehidupan terasa berat?

Beberapa orang mengalaminya yaitu: ketika cinta tidak diterima seseorang, Ego tidak mau menerima, akibatnya marah (nafsu negatif), perasaan menjadi kecewa. Cinta telah dilepaskan tetapi ditolak. Hal ini terjadi karena tidak rela/ikhlas melepaskannya dan tidak mau menerima kenyataan. Keadaan yang demikian membuat hati menjadi berat, semua jadi serba salah. Contoh lain, Aku (Ego) kita telah merasa berbuat banyak, bekerja sungguh-sungguh tetapi apa yang didapat tidak seimbang dengan tenaga, pikiran yang sudah dikeluarkan. Lagi-lagi tidak rela/ikhlas, tidak mau menerima kenyataan bahwa ada orang yang lebih baik pekerjaannya dari diri kita, mungkin salah perhitungan, terlalu ambisi mencapai sesuatu tetapi kemampuan belum optimal. Ini pun membuat kecewa, marah, benci, iri dan akhirnya putus asa.

Rasa benci, tidak suka, kesal, marah dalam hati yang terpendam lama, mau marah yang meledak-ledak, merasa tidak dicintai atau tidak diperhatikan, iri terhadap keberhasilan kawan/saudara yang terpendam melumpuhkan perasaan, sehingga tidak ada rasa percaya pada sifat adil Tuhan, yang sejatinya hanya mengembalikan semua perbuatan manusia.

Sebagai hamba yang percaya kepada-Nya, sebenarnya harus menyadari bahwa setiap perbuatan akan kembali kepada yang berbuat, sekecil apa pun perbuatan itu. Akan tetapi, begitu banyak perbuatan yang dilakukan manusia dalam 24 jam (satu hari), padahal telah berpuluh-puluh tahun menjalani kehidupan di dunia ini, bagaimana dapat mengingat semua perbuatan yang telah lampau, dan terkadang apa yang telah diperbuat dilakukan tanpa sadar. Apa pun perbuatan yang dilakukan dengan sadar atau tanpa kesadaran akan kembali kepada yang berbuat juga.

Jadi, sebenarnya Allah tidak pernah menghukum, tetapi hanya mengembalikan apa yang telah diperbuat manusia. Perbuatan baik akan kembali mendapat kebaikan, sedang perbuatan sesat/jahat akan mendapatkan kesesatan atau kejahatan.

Bagaimana mengatasinya?

Mari kita lihat ke dalam diri, semua yang ada pada diri kita, apa pun itu dengan rasa syukur, walau tidak semua keinginan terkabul tetapi sebagian telah kita miliki. Juga perlu dimengerti bahwa tidak semua keinginan seseorang sesuai dengan kebutuhannya.

Sedangkan Tuhan Mahatahu, Tuhan memberikan sesuai dengan kebutuhan tiap hamba sesuai dengan perbuatannya. Oleh karena itu, katakanlah selalu, “Terimakasih Tuhan, atas segala yang telah Tuhan berikan kepada hamba, hari ini hamba masih dapat melaksanakan tugas lahir dengan kekuatan yang telah Tuhan berikan kepada hamba ini.” Akan tetapi, jangan pernah lupa pula memohon ampun kepada Tuhan atas kealpaan kita.

Oleh karena kealpaan itulah yang membuat kita telah mengecewakan orang lain sehingga merusak hubungan persaudaraan antar sesama hamba. Lupa sebagai hamba-Nya yang harus berbuat sesuai kehendak-Nya, yaitu untuk kesejahteraan orang banyak. Tiada lain yang harus kita perbuat setiap pagi ketika akan memulai kehidupan lahir di dunia ini, adalah memohon tuntunan dan sinar terang-Nya agar nafsu-nafsu kita tertuntun ke arah yang positif dan pikiran senantiasa mendapat sinar terang-Nya sehingga kita dapat berbuat yang sesuai dengan kehendak-Nya. Permohonan ini harus dari ketulusan hati dan kesadaran bahwa, “Tiada yang kuasa selain Allah” dan manusia tidak memiliki kekuasaan apa-apa tanpa ridha-Nya.

Dengan cara ini, pikiran menjadi positif, semangat untuk berbuat baik, sehingga hari-hari dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah diniatkan dengan sungguh-sungguh. Bila kita memohon sungguh-sungguh kepada Tuhan dari hati yang tulus, pasti terwujud, tanpa kita mengharap-harapkannya. Percayalah, pikiran yang baik akan membuat perbuatan juga menjadi baik.

Ketika semua yang ada dalam pikiran hanya hal-hal yang baik saja, mudah menumbuhkan rasa kasih sayang tulus kepada semua orang yang kita temui, sehingga akan menumbuhkan kesabaran ketika menemui yang berbeda dengan jalan pikiran sendiri. Saat kesabaran tumbuh dalam hati, hidup tidak lagi terasa berat, semua dilakukan hanya dengan niat karena Allah saja. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar