Pelaku Industri Fesyen Ikut Pameran di Moskow

BERI PENJELASAN – Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Eddy Siswanto (kedua kiri) memberikan penjelasan mengenai keikutsertaan Indonesia dalam ajang pameran busana Collection Premiere Moscow (CPM) di Rusia pada Konferensi Pers di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 22 Agustus 2017.-tubasmedia.com/ist

 

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Eddy Siswanto menyampaikan, pihaknya akan memfasilitasi pelaku industri fesyen dalam negeri untuk “melenggang” di tingkat internasional.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengikutsertakan sembilan produk pakaian lokal ternama pada ajang Collection Premier Moscow (CPM) di Expocenter Fairground, Moskow.

“Kesembilan label produk yang akan tampil, yaitu Kabana by Itang Yunasz, Dian Pelangi, Kasha by Sjully Darsono, Devyros, Ekuator, Warnatasku, Kalyana Indonesia, Huraira dan Teha Bags. Fesyen trade show tersebut berlangsung pada 30 Agustus-2 September 2017,” tuturnya di Jakarta, Selasa (22/8).

Menurut Eddy, sekitar 1000 fesyen brands bakal berpartisipasi dalam acara yang dihadiri lebih dari 22.600 pembeli potensial dari 27 negara. Tahun 2017, kali kedua Kemenperin memfasilitasi promosi pada pameran tersebut. Tahun 2016, area Paviliun Indonesia seluas 54 m2 di hall CPM Premium, sedangkan tahun ini dengan mengusung tema The Heart of Fesyen Craft akan menempati area 62 m2.

“Partisipasi ini untuk memperkenalkan industri fesyen Indonesia dengan fesyen craft-nya yang mampu menembus pasar internasional,” ujarnya. Diharapkan, para pelaku industri fesyen Tanah Air tidak lagi hanya berkutat sebagai pemain lokal, melainkan juga membangun kapasitas untuk bersaing secara global guna mewujudkan visi Indonesia sebagai salah satu pusat mode dunia dalam satu dekade ke depan.

Eddy mengungkapkan, keunikan industri fesyen Indonesia ada pada kekayaan seni budaya yang tertuang dalam berbagai kain tradisionalnya. “Berbicara tentang fesyen Indonesia, maka pasar akan berkenalan dengan fesyen craft, yaitu produk fesyen yang diperkaya dengan nilai seni pekerjaan tangan,” paparnya.

Kekhasan lokal itu menjadi kekuatan industri fesyen Indonesia dalam menembus pasar dunia, walaupun membutuhkan waktu produksi yang berbeda dengan kecepatan industri fesyen ‘pabrikan’ pada umumnya. “Fesyen craft memiliki beberapa bagian yang pembuatannya dikerjakan langsung dengan tangan, sehingga memiliki batasan jumlah produksi dalam konsumsi waktu yang berbeda juga,” imbuh Eddy.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan, pihaknya semakin gencar meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional agar terus menghasilkan produk-produk yang memiliki keunggulan komparatif. Selain didukung dengan sumber daya alam yang melimpah, potensi tersebut bisa tercapai karena juga adanya kebijakan pro bisnis dari pemerintah.

“Di tengah ketatnya persaingan global, beberapa produk Indonesia mampu kompetitif dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perdagangan dunia. Tentunya ini dapat membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya. (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar