Pelaku Industri Perangkat Lunak Perlu Diberi Insentif

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Guna meningkatkan keunggulan komparatif industri perangkat, pemerintah dipandang perlu memberikan insentif bagi industri yang membangun perangkat lunak (software) untuk enterprise agar mereka dapat lebih kuat dalam bersaing.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin, Achmad Rodjih Almanshoer mengatakan hal itu kepada wartawan di ruang kerjanya kemarin.

Diyakini oleh Rodji bahwa era millenium ketiga merupakan ajang persaingan industri perangkat lunak yang sangat ketat seiring dengan akselerasi peningkatan teknologi yang sangat cepat.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, lanjutnya, munculnya era ekonomi baru seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terutama di bidang software, menjadi terbuka luas serta menjanjikan.

‘’Profesi di bidang TIK juga ikut menerima imbasnya dengan menjadikan profesi ini bergengsi dan sangat dibutuhkan,’’ tegasnya.

Di bagian lain keterangannya, Rodji mengatakan bahwa sudah lama bangsa ini bermimpi untuk bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Kebijakan TKDN (tingkat kadungan dalam negeri) hardware dan software mempunyai potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan industri software/aplikasi di tanah air.

Penerapan TKDN tersebut, telah ‘memaksa’ para manufaktur untuk membangun pabriknya di Indonesia yang dapat menyerap tenaga kerja sekaligus merupakan strategi untuk memasukkan komponen software lokal di dalam proses produksinya.

 


Patut dibanggakan katanya, bahwa industri ini di Indonesia sudah dapat menghasilkan produk-produk aplikasi yang dapat menunjang operasional industri lain. Produk aplikasi software yang telah mampu dihasilkan diantaranya financial management, geogaphical information system, inventory, office animation, multimedia presentation, excecutive information system, internet, intranet dan aplikasilainnya.

Kondisi ini disadari tidak lepas dari komitmen dan kemampuan pemerintah dalam menyiapkan sarana dan prasarana pengembangannya. Kemampuan untuk mengembangkan perangkat lunak dalam skala industri sangat perlu didorong secara terarah dengan menyiapkan sistem serta strategi alih teknologi dan inovasi teknologi yang sesuai, diantaranya peningkatan pembiayaan penelitian dan pengembangan, termasuk sinergi antara pemerintah, pengusaha dan akademisi.

Melihat peluang bisnis industri TIK di Indonesia, berdasarkan data yang dikeluarkan International Data Corporation (IDC) untuk tahun 2015, belanja smart phone nasional adalah 5.4 miliar USD atau sekitar Rp 75,6 triliun, komputer tablet 1.0 miliar USD atau sekitar Rp 14 triliun dan belanja personal computer (PC) 0,9 miliar USD atau sekitar Rp 12,6 triliun.

Dari data tersebut menunjukkan smart phone telah mengungguli penjualan PC di Indonesia, bahkan komputer tablet juga mempunyai nilai penjualan yang lebih tinggi dari pada PC.

Artinya, pengembang aplikasi seharusnya fokus pada pasar yang besar ini, yaitu mengembangkan aplikasi berbasis mobile atau berbasis tablet. Aplikasi untuk PC/desktop tetap ada, tapi tidak sebesar dulu lagi, tidak seperti jaman Windows dari Microsoft, menguasai 90% pasar sistem operasi untuk desktop. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar