Pendidikan Kita Masih Konvensional, Sibuk Mengejar Persentase Kelulusan

JAKARTA, (tubasmedia.com) –  Lembaga pendidikan nasional saat ini belum mampu mencetak lulusannya sesuai kebutuhan pasar. Bahkan sekolah-sekolah konvensional itu masih sibuk mengejar target persentase kelulusan siswanya bagaimana agar lulus seratus persen.

Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Industri, Kementerian Perindustrian, Mudjiono kepada wartawan di kantornya kemarin.

Padahal lanjut Mudjiono yang dalam waktu dua minggu lagi akan memasuki masa pensiun itu, sejatinya, tugas lembaga pendidikan adalah menelorkan tenaga-tenaga kerja siap pakai atau yang langsung diserap pasar.

Keberhasilan sebuah sekolah katanya, bukan hanya bisa meluluskan siswanya, tapi harus bisa meluluskan siswa yang langsung diserap pasar dalam arti langsung bekerja.

‘’Buat apa lulus dari sekolah kalau setelah lulus jadi pengangguran dan jadi beban masyarakat,’’ katanya.

Untuk itu lanjutnya, pemerintah saat ini mendorong lembaga pendidikan yang konvensional menjadi pendidikan yang link and match dengan sektor industri yang membutuhkan cukup banyak tenaga kerja.

Pendidikan yang link and match dengan dunia industri menurut Mudjiono saat ini sangat dibutuhkan, sebab manfaatnya tidak hanya pada pemilik industri yang langsung dapat tenaga siap pakai, akan tetapi si siswa yang lulus sekolah itupun langsung dipekerjakan.

Banyak Hal

Karenanya untuk mencapai target tersebut banyak hal yang harus disesuaikan, misalnya penyempurnaan kurikulum, penambahan alat-alat peraga di sekolah serta mendatangkan tenaga pengajar yang mumpuni di bidangnya.

Kurikulum kata Mudjiono harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Demikian juga peralatan belajar sangat penting disiapkan karena sebagian besar waktu belajar siswa adalah praktek sehingga begitu lulus, mereka para siswa tidak asing lagi dengan peralatan-peralatan yang ditemui di pabrik.

Namun walau semua peralatan sudah siap dan kurikulum sudah disempurnakan, kedua-duanya belum bisa bermanfaat jika tidak diajarkan oleh tenaga pengajar yang memiliki sertifikasi kompetensi.

‘’Semua ini pada akhirnya membutuhan dana investasi yang cukup besar. Barangkali disinilah tantangannya, tapi harus dihadapi dan tidak bisa menyerah,’’ katanya.(sabar)

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar