Petani Muslim Pakistan Menabung untuk Bangun Gereja Tetangga

081750100_1450934870-masjid_dan_gereja

PETANI miskin pemeluk agama Islam di satu desa di daerah Gojra, Pakistan mengumpulkan tabungan mereka untuk membangun gereja untuk tetangga mereka. Mengapa toleransi dan harmonisasi terjadi dan gampang di daerah yang terkenal dengan kekerasan sektarian?  Sementara di Negara berlandaskan Pancasila, toleransi dan harmonisasi menjadi barang langka dan amat mahal.

Warga muslim di provinsi Punjab, sebelah timur laut Pakistan, mengumpulkan dana untuk membantu tetangga kristiani kurang mampu mereka dalam membangun sebuah gereja.

Inisiatif untuk mendirikan tempat ibadah umat kristiani itu digagas oleh sekelompok muslim di desa Faisalabad, sesaat sebelum perayaan hari Paskah.

“Populasi mereka tidak banyak, hanya 20 keluarga. Mereka tidak memiliki tempat untuk beribadah,” kata Aftab James, seorang pastor setempat.

James mengatakan, seperti dikutip dari Muslimnews.co.uk, Minggu (12/6/2016), penganut agama Kristen di desa harus menggunakan rumah seseorang atau tempat lainnya untuk dijadikan tempat beribadah pada perayaan hari besar dan suci mereka.

“Muslim tinggal di daerah kota, namun, mereka berbaik hati membangun gereja kami sebagai hadiah,” kata James.

“Kami sangat berterima kasih atas kebaikan mereka. Membuat kami merasa bangga,” kata dia melanjutkan.

Kristiani di daerah itu kini sangat bergembira, karena sebentar lagi mereka akan memiliki tempat beribadah sendiri.

Sebelumnya, kami harus menyewa atau meminjam rumah untuk merayakan Natal, Paskah, dan perayaan lainnya,” kata seorang warga, Faryad Masih.

Banyak penduduk yang tidak mempercayai bahwa tetangga muslim mereka, bersedia membantu mereka membangun sebuah gereja.

“Awalnya aku tidak percaya. Tapi, sebulan setelah pengumuman tersebut, konstruksi gereja dimulai,” kata Masih.

“Mimpi kami akhirnya menjadi kenyataan,” kata dia.

Masyarakat setempat telah mengumpulkan dana sebanyak 150.000 rupee atau setara dengan Rp 29 juta, untuk memulai pembangunan gereja.

Seorang penggalang dana, Mian Ejaz, mengatakan dana tersebut akan terus bertambah angkanya, seiring dengan berjalannya pembangunan tempat ibadah tersebut.

Gereja tersebut akan dilengkapi dengan ruangan pengakuan dan doa berukuran sedang, serta ruangan lainnya.

“Kami memiliki empat masjid di desa, tapi mereka tidak punya satu pun tempat ibadah,” kata Ejaz.

Itulah yang menjadi alasan pimpinan komunitas muslim di daerah tersebut memutuskan untuk membangun gereja, sebagai ‘hadiah’ perayaan Paskah.

“Kami ingin memberitahu dunia bahwa Pakistan bukanlah negara ekstremis. Tapi merupakan negara yang peduli dan percaya pada toleransi dan kerukunan umat beragama,” kata Ejaz.

Ejaz, yang juga ikut mendanai pembangunan masjid di desanya, mengatakan hal tersebut semata-mata mereka lakukan, untuk membalas budi umat Kristen yang telah bersedia menampung dan menolong para pengungsi muslim dari daerah konflik.

“Umat Kristen telah melakukan banyak hal untuk para pengungsi. Setidaknya ini yang bisa dilakukan untuk membalas mereka,” kata dia.

Kristen, merupakan minoritas agama terbesar di Pakistan, meliputi sekitar tiga persen dari total penduduk negara, lebih dai 180 juta jiwa. Enam puluh persen dari penganut Kristen di daearah tersebut adalah Protestan dan sisinya Katolik. Kebanyakan dari umat kristiani itu tinggal di Punjab, berprofesi sebagai penjaga kebersihan, guru dan perawat.(red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar