Pilpres 2019, Ambisi Jadi Presiden ?

Oleh: Sabar Hutasoit

 

DUA pasangan capres/cawapres, Joko Widodo – Ma’aruf Amin  dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, sudah resmi mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), untuk berlaga merebut kursi RI 1 periode 2019-2024, pada April 2019.

Sudah barang tentu, kedua pasangan ini saling mengklaim dirinya mampu dan siap membuat negeri ini semakin berjaya, membuat rakyatnya semakin sejahtera dan menciptakan suasana semakin kondusif dan akan melakukan hal-hal yang enak-enak lainnya untuk dinikmati seluruh warganegara.

Kita setuju dengan niat mulia mereka dan kita mengharap agar niat itu menjadi kenyataan, tidak lagi hanya hiasan bibir saja seperti lazimnya janji-janji yang diucapkan para juru kampanye melalui panggung kampanye.

Catatan positif selama proses penjaringan capres dan cawapres hingga pengumuman pasangan, seterusnya tahap pendaftaran ke KPU, pantas diacungin jempol. Pasalnya, tidak ada gesekan. Aman dan nyaman.

Untuk itu diharapkan pula agar suasana yang kondusif ini bisa dipertahankan hinga tahap pencoblosan dan penghitungan suara nanti. Tidak berlebihan jika kita mengutarakan rasa khawatir bahwa nanti saat masa kampannye, suasana akan semakin memanas, para pendukung  calon akan lebih panas lagi.

Apalagi suasana panas ini hinggap pada pihak calon yang punya ambisi berlebihan untuk memenangkan pertarungan merebut kursi kepresidenan tersebut. Kelompok ini bisa menghalalkan segala cara untuk mewujudkan mimpinya.

Biasanya bila ambisi sudah merasuki pikiran kontestan kemudian ambisi itu menjalar kepada kelompok pendukung, tidak jarang yang terjadi adalah perbuatan atau tindakan kekerasan yang bisa-bisa membabibuta.

Kekerasan dicampur dengan kecurangan itu dapat memicu keributan yang sangat amat bisa memporakporandakan kesatuan dan persatuan yang sudah tercipta lama.

Ambisi jadi presiden dan keinginan mengembalikan modal kampanye yang harganya triliunan rupiah itu bisa jadi pemantik membuat ambisi menjadi semakin membara.

Maka itu, masyarakat sebagai konstituen mengharapa para calon berlagalah secara sportif. Juallah program dan ide yang membangun negeri sekaligus mensejahterakan rakyat.

Tidak elok jika para calon saling menyerang dan saling membuka kelemahan lawan, sebab belum tentu anda lebih hebat dari lawan politik mu itu.

Tunjukkanlah kehebatanmu melalui pemaparan program, bukan melalui pengungkapan kelemahan lawan, sebab jika itu yang anda jual, rakyat akan mengatakan bahwa diantara para calon tidak ada yang sempurna.

Intinya kepada para calon presiden dan calon wakil presiden, agar masing-masing menjaga kesejukan. Kalau menang, menang terhormat dan jika kalah, ya kalah terhormat pula. (penulis adalah wartawan)

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar