Pilpres 2019, Bisakah Berlangsung Damai dan Sejuk?

Oleh: Sabar Hutasoit

 

PELAKSANAAN pemilihan presiden (Pilpres) untuk periode 2019-2024, sudah diambang pintu. Pilpres yang juga sering disebut sebagai pesta demokrasi, ibarat tontotan, sudah siap tayang.

Kenapa? Panitianya sudah siap kerja, pemain utamanya-pun sudah didaftarkan ke panitia penyelenggara Pemilu, bahkan kesehatan mereka sudah diperiksa tim dokter yang berwenang. Hasilnya disebut, kesehatan kedua pasangan (petahana Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan penantangnya, Prabowo-Sandiaga Uno) layak untuk bertanding.

Dari kepentingan administrasi dan kesehatan, tampaknya tidak ada masalah. OK…OK…saja, walau tidak dapat dikatakan sempurna.

Nah sekarang, yang diharapkan banyak pihak adalah bagaimana caranya menampikan pesta demokrasi yang sejuk, dipenuhi suasana riang dan gembira, jauh dari berita bohong dan fitnah. Serta menjadikan Pilpres ini menjadi festival adu gagasan dan adu program.

Bukan adu fitnah, bukan saling menjatuhkan, bukan saling mengejek, bukan mencari-cari kelemahan lawan, bukan menghabiskan waktu membicarakan kelemahan lawan dan jangan sampai tampil hanya sebagai pengamat saja. Sejelek apapun kau sebut lawan politikmu itu, belum tentu anda lebih baik dari yang kau sebut jelek itu.

Jadi jangan sampai seperti pertandingan bola dunia. Italia dengan Spanyol yang berlaga di lapangan hijau, yang menang Indonesia karena pengamatnya banyak sekali di Indonesia sementara pengamat itu nendang bola pun belum tentu bisa.

Untuk itu masyarakat mengharap agar kedua calon pemimpin  bangsa ini mau dan bersedia mengubah cara berpikir yang lebih dewasa. Jangan hanya karena nafsu mau duduk di kursi RI-1, menjadi menghalalkan segala cara.

Bahasa Santun

Berdebatlah dengan bahasa yang santun dan didukung dengan data-data yang akurat sehingga tidak asal mangap agar masyarakat yang mendengar-pun menjadi tambah pintar. Jangan diajarin rakyatnya menjadi rakyat pembohong karena anda menggunakan data bohong-bohongan.

Jadikanlah perhelatan Pilpres 2019 menjadi Pemilu yang aman, damai, jurdil dan bermartabat serta bahagian dari sekolah politik, sehingga saat rakyat menonton perdebatan kedua calon, rakyat tidak lagi hanya terpaku menunggu siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Akan tetapi lebih dalam itu, rakyat bisa menimba ilmu berpolitik dari debat para calon. Jadi nanti, jika tiba saatnya debat calon, berdebatlah dengan santun, damai, sejuk, gembira dan saling menjual program.

Yakinlah, jika program yang anda tawarkan kepada konstituen, masuk akal dan konstituen yakin kalau program anda itu akan mensejahterakan mereka, pasangan anda akan dipilih.

Jadi intinya, jangan sekali-kali menjelek-jelekkan lawan politik, rakyat sudah muak mendengar kata-kata ejekan yang tiada mutunya dan tak elok disuarakan calon pemimpin bangsa. Sory to say, kata-kata yang anda keluarkan selama ini hanya layak disuarakan manusia yang tidak berpendidikan yang hidup di jalanan.

Tim sukses anda-anda juga harus dididik secara ketat, agar mereka juga mampu menjaga kesejukan dan kenyamanan saat “tuannya” berperang untuk merebut kursi kekuasaan.

Para calon juga jangan mencoba-coba menutupi siapa anda sebenarnya. Pasalnya, tanpa anda jelaskan juga, mayarakat calon pemilih anda sudah tau siapa anda yang sebenarnya.

Ingat, sebesar apapun perbedaan yang ada diantara para calon, pasti ada kesamaannya, jadi mulailah dari sana. * (penulis adalah seorang wartawan)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar