Prabowo Katanya Negarawan, Koq Kerap Ngomong Tanpa Data?

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto terus melontarkan kritik ke pemerintahan Presiden Joko Widodo, termasuk soal utang Indonesia yang disebut telah mencapai hampir Rp 9.000 triliun.

Ketua DPP Hanura, Inas Nasrullah Zubir menyayangkan sikap Prabowo yang seorang negarawan, namun kerap salah mengutip data.

“Prabowo itu kan katanya negarawan, tapi mengutip datanya selalu salah,” kata Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir, Senin (25/6/2018).

Menurut Inas, sikap tersebut seolah Prabowo politikus baru yang tengah mencari panggung. Ia pun lalu menyeret nama Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais yang disebutnya kerap asal mengkritik tanpa data.

“Layaknya politikus yang baru belajar aja yang sedang nyari panggung model Amien Rais, yaitu asal jeblak walaupun nggak punya data,” ujarnya.

Inas menjelaskan, dari utang pemerintah yang Rp 4.060 triliun, 49 persennya merupakan utang swasta. Sementara utang pemerintah hanya 51 persen.

“Sedangkan utang BUMN adalah utang untuk usaha dan setiap badan usaha selalu berutang. Mosok Prabowo punya usaha tapi nggak punya utang? sama karyawan-nya aja masih ngutang!” sebut Inas.

Inas juga menyebut mantan Danjen Kopassus itu seperti tak memiliki pengetahuan tentang akuntasi. Padahal Prabowo juga merupakan seorang pengusaha.

“Di mana liability di lembaga keuangan itu terdiri dari utang, deposito dan asuransi, jadi bukan semuanya utang,” katanya.

Sebelumnya, Prabowo melontarkan kritik atas utang Indonesia saat ini. Mengutip data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Prabowo menyebut total utang RI sampai hari ini hampir Rp 9.000 triliun.

Prabowo menampilkan slide tentang utang RI. Di bawah slide itu, tampak sumber data yang dipakai Prabowo adalah ‘Statistik Uang Sektor Publik, Kementerian Keuangan, 2018, Asumsi Kurs Rp 14.000 per US$ 1; Per Tutup Tahun 2017’.

“Utang-utang kita sudah sangat membahayakan. Selain utang pemerintah, ada utang lembaga-lembaga keuangan milik pemerintah dan utang-utang BUMN. Kalau dijumlahkan sungguh sangat besar,” ucap Prabowo di Jl Widya Chandra IV, Jakarta, Senin (25/6/2018). Pernyataan ‘berbahaya’ itu disampaikan Prabowo dengan mengutip data lembaga Moody’s yang jadi sumber rujukan berita Bloomberg.

Slide itu menampilkan data utang pemerintah, BUMN, dan lembaga keuangan publik. Total utang tiga sektor itu dihitung Prabowo hampir Rp 9.000 triliun.

“Utang pemerintah memang Rp 4.060 triliun, tapi ada utang BUMN ditambah Rp 600 triliun. Ditambah lagi utang lembaga keuangan publik, Rp 3.850 triliun. Kalau kita jumlahkan ya hampir Rp 9.000 triliun,” ucap dia.(red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar