Produsen Elektronika Tingkatkan Riset

KUDUS, (tubasmedia.com) – Industri elektronika di Indonesia semakin meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan serta penguatan desain dalam upaya menciptakan inovasi teknologi dan produk di tengah era digital yang berkembang.

Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri elektronika merupakan salah satu dari lima sektor yang akan menjadi percontohan dalam penerapan revolusi industri 4.0 di Tanah Air.

“Di Indonesia, industri elektronika mempekerjakan banyak tenaga kerja, Polytron adalah salah satu produsen elektronika yang menjadi pionir karena sudah punya fasilitas research and development serta design (R&DD),” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika mengunjungi pabrik PT Hartono Istana Teknologi di Kudus, Jawa Tengah, Senin (4/6).

PT Hartono Istana Teknologi merupakan perusahaan manufaktur yang menghasilkan berbagai produk elektronika jenis audio video, telepon seluler dan kebutuhan rumah tangga dengan merek Polytron. Memiliki tiga pabrik di Jawa Tengah dengan luas total mencapai 69 hektare, perusahaan yang berstatus penanaman modal dalam negeri ini mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 10 ribu orang.

Mengenai perkembangan teknologi yang sangat cepat, Menperin menjelaskan, industri sifatnya tidak disruptif melainkan bertransformasi dengan mengikuti tren terkini, termasuk yang dialami di sektor elektronik.

“Banyak produk elektronik yang dahulu sudah hilang dari pasar, karena diganti dengan produk lain. Dulu kita mengenal Betamax dan VHS, yang kemudian digantikan oleh VCD dan DVD. Selanjutnya, DVD juga mulai tergantikan dengan live streaming,” ujarnya.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri elektronika nasional agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Langkah strategis yang telah dilakukan, antara lain meningkatkan kompetensi tenaga kerja melalui program pendidikan dan pelatihan vokasi.

“Mereka bisa mendorong kegiatan inovasi lanjutan dan mempercepat transfer teknologi,” terang Airlangga.

Menperin menyampaikan, pemerintah sedang menyiapkan insentif fiskal yang disebut super deductible tax atau pengurangan pajak di atas 100 persen. Selain guna mendorong agar terlibat dalam program pendidikan vokasi, insentif ini dapat dimanfaatkan bagi perusahaan yang berkomitmen melakukan riset untuk menciptakan inovasi.

“Jadi, inovasi menjadi dasar kekuatan industri untuk berkompetisi di era persaingan yang semakin ketat,” tegasnya.

Bahkan, industri elektronika juga berperan penting mengoptimalkan terhadap penyerapan bahan baku lokal. Upaya ini dinilai dapat mendorong penguatan nilai rupiah.

“Contohnya, dengan perkembangan bioskop di Tanah Air yang belakangan banyak membutuhkan speaker, di mana boks speaker yang berbahan kayu tersebut seharusnya bisa dibuat di dalam negeri,” kata Airlangga.(ril/sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar