R&D Industri Karet Indonesia Masih Lemah

MEMIMPIN SIDANG- Teddy Sianturi (tengah) saat memimpin sidang -tubasmedia.com/sabar hutasoit

MEDAN, (tubasmedia.com) – Pemerintah Indonesia dipandang perlu memperkuat riset & development (R&D) di bidang industri perkaretan. Pasalnya, hingga kini kemampuan R&D karet Indonesia masih sangat lemah, bahkan tertinggal dari negara-negara anggota ASEAN lainnya.

Hal itu dikatakan Teddy Sianturi, yang tampil sebagai Chairmain ASEAN Rubber, pada acara ‘The 24th Meeting of ASEAN Consultative Committee for Standards and Quality Rubber Based Product Working Group” di Medan, Senin, 27 Februari 2017.

Diskusi yang dihadiri seluruh delegasi dari negara-negara ASEAN, kecuali Singapura dan Brunai Darussalam tersebut berlangsung dari tanggal 27 Pebruari hingga 2 Maret 2017.

Hasil R&D karet, lanjut Teddy sangat penting dalam menunjang kemajuan industri karet di tingkat nansional maupun internasional. Dengan kuatnya kemampuan R&D, katanya, industri olahan bahan baku karet akan semakin variatif dan tidak terlalu sulit lagi untuk melakukan diversifikasi karet.

Akibat dari lemahnya riset & development tersebut, lanjut Teddy, Indonesia sifatnya menjadi lebih sering tampil sebagai follower, mengikuti sepak terjang negara lain. ‘’Padahal, maju mundurnya sektor industri karet dan turunannya, bermula dari hasil riset,’’ katanya.

BERBINCANG- Teddy Sianturi (kanan) saat berbincang dengan peserta diskusi. -tubasmedia.com/sabar hutasoit

Di bagian lain keterangannya, Teddy yang juga Direktur Industri Kimia Hilir, Kementerian Perindustrian itu menyatakan standar industri karet dan hasil olahannya adalah salah satu isu menarik untuk dibahas dalam diskusi tersebut.

‘’Termasuk didalamnya soal standar tentang ban keras kendaraan bermotor kemudian standar bantalan karet di pelabuhan-pelabuhan,’’ katanya.

Akibat dari lemahnya penelitian dan  pengembangan industri karet, Indonesia menjadi tampil sebagai eksportir karet mentah ke negara-negara tetangga.

‘’Di negara tetangga, karet kita diolah kembali menjadi barang jadi dan dijual dengan harga mahal sehingga nilai tambah karet itu hanya dinikmati negara tetangga,’’ jelasnya.

Ditanya tentang apa saja yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan riset & development tersebut, dikatakan bahwa para partisipan harus benar-benar menyiapkan seluruh perangkat yang diperlukan. ‘’Termasuk menyiapkan laboratorium serta seluruh peralatannya,’’ tegas Teddy. (sabar)

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar