Rp 50 Juta untuk 15 Pembuat Film Pendek

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

SEBAGAI bentuk perhatian dan dukungan terhadap perkembangan kemajuan dan pembinaan film pendek Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan apresiasi kepada 15 pembuat film pendek Indonesia. Acara khusus ini berlangsung di Graha Utama Kemendikbud. Apresiasi itu berupa insentif uang tunai senilai Rp. 50 juta dipotong pajak untuk setiap penerima.

Pemilihan para penerima penghargaan itu ditentukan oleh Komite Seleksi yang terdiri dari Hanung Bramantyo (Sutradara), Ifa Isfansyah (Sutradara), Sari Mochtan (Produser), Ladya Cheryl (Aktris), Tito Imanda (Akademisi) , Zakiah (Komunitas Film), dan Varadila (Komunitas Film). Ke-15 penerima insentif tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, Gotot Prakosa (Anugerah Pengabdian Seumur Hidup). Ia adalah pelopor film pendek eksperimental di Indonesia. Dedikasi, totalitas dan konsistensinya dalam membuat film pendek dan eksperimental berdampak pada perkembangan film pendek di Indonesia.

Kedua, Faozan Rizal. Ia lebih banyak dikenal sebagai penata sinematografi handal. Karya-karya film pendeknya yang sangat kuat diiringi semangat eksplorasi sinematografi telah diakui dunia dan sangat mempengaruhi perkembangan film alternatif di Indonesia.

Ketiga, BW Purbanegara. Ia dianggap sebagai pembuat film pendek paling berprestasi di tahun ini, dengan pencapaian-pencapaian film pendeknya. Bermula dari A meraih penghargaan dari Piala Citra sampai Vladivostok Film Festival.

Keempat, TonnyTrimarsanto. Ia merupakan salah satu pembuat film yang konsisten membuat film-film dokumenter dan menghasilkan karya-karya berprestasi. Renita-Renita menjadi film pendek terbaik di Cinemanila Film Festival 2007 dan Culture Unplugged Film Festival di India. Sedang The Dream Land mendapatkan penghargaan di Earth Vision Global Tokyo danYamagata International Film Festival.

Kelima, Yuli Andari. Ia adalah pembuat film muda yang konsisten membuat film-film dokumenter pendek. Joki Kecil memenangkan dokumenter terbaik di Festival Epona France dan sutradara terbaik di Tehran International Short Film Festival.

Keenam, Chairun Nissa. Film pendek pertama dia adalah Purnama di Pesisir yang mendapatkan penghargaan khusus di Rome Independent Film Festival dan diputar di Rotterdam International Film Festival. Ia juga membuat film dokumenter Payung Hitam yang masuk seleksi resmi Flying Broom International Women’s Film Festival di Turki dan Kompetisi Salaya International Documentary Festival, Bangkok.

Ketujuh, Ariani Darmawan. Ia konsisten dengan film pendek yang mempunyai bentuk dan cara bertutur tidak biasa. Karya-karya film pendeknya meliputi fiksi, dokumenter, eksperimental sampai instalasi. Karya-karya filmnya diputar di banyak festival internasional. Dia juga giat mengembangkan tempat pemutaran film alternatif yang mempertemukan para pembuat film alternatif dan penontonnya.

Kedelapan, Ismail Basbeth. Ia merupakan pembuat film paling aktif dan serius dalam kurun lima tahun terakhir. Perhatian dari festival-festival terbesar diraihnya sejak film ketiganya, Shelter. Film ini diputar di Rotterdam International Film Festival, Busan International Film Festival dan berkompetisi di Vladivostok International Film Festival.

Kesembilan, Eddie Cahyono. Ia selalu mencari tema yang berbeda dari film-film pendek di masanya. Dia membuat film pendek perang Bedjo Van Derlaak dan berhasil menjadi finalis di Akira Kurosawa Memorial Short Film Competition.

Kesepuluh, Yosep Anggi Noen. Kelebihan dia adalah kemampuan menggambarkan situasi dan fenomena lokal dalam konteks yang global. Filmnya “It’s Not Raining Outside” yang diputar di banyak festival luar negeri adalah cikal bakal film panjang pertamanya. Film-film pendeknya diputar di beberapa festival internasional, antara lain Rotterdam, Singapore, Berlin, Manila, dan Mumbai.

Kesebelas, Tintin Wulia. Ia merupakan pembuat film pendek Indonesia yang paling banyak menarik festival film pendek dan pagelaran seni dunia. Filmnya diputar di festival luar negeri seperti Rotterdam, New York Underground Film Festival, Pusan International Film Festival.

Keduabelas, Aryo Danusiri. Latar belakang disiplin ilmu antropologi dia membuat film-film dokumenternya selalu mempunyai pendekatan yang kuat dan menggambarkan kehidupan keseharian subyeknya. Filmnya banyak diluncurkan di Rotterdam Film Festival, Amnesty Amsterdam, Margaret Mead Film Festival, Yamagata Film Festival, dan lain-lain. Lukas Moment mendapatkan Best Student Film Prize di RAI Ethnographic Film Festival.

Ketigabelas, Hafiz. Bersama kelompoknya Forum Lenteng, dia banyak menghasilkan karya-karya dokumenter dengan pendekatan yang berbeda. Ia juga menyutradarai film-film pendek eksperimental yang berkolaborasi dengan pembuat film dari Argentina, Mexico maupun Belanda. Beberapa karyanya diputar di festival film termasuk Gwangju, Istanbul, dan Toronto.

Keempatbelas, Bowo Leksono. Ia paling konsisten dalam menggerakkan dan membangun komunitas-komunitas film pendek lokal. Dia banyak membuat film pendek dengan konten yang sangat lokal di daerah Purbalingga dan sekitarnya.

Kelimabelas, Ari Rusyadi. Film dia berjudul Pabrik Dodol menunjukkan benturan antara tradisi dan modernitas. Film ini diputar di berbagai festival luar negeri antara lain Hamburg Film Festival, Kassel Film Festival, Hanover Film Festival, Bilbao Film Festival di Spanyol dan Turkey Film Festival. (stevie)

Berita Terkait

Komentar

Komentar