Rupiah Masih Belum Lepas dari Bayang-bayang Pelemahan

rupiah-terperosok

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Head of Research PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memaparkan, laju Rupiah kembali melanjutkan pelemahannya seiring melemahnya laju Yuan pasca dirilisnya penurunan indeks manufaktur Tiongkok.

“Pergerakan Rupiah pun sesuai dengan ekspektasi kami sebelumnya dimana masih akan melanjutkan pelemahannya,” kata Reza, Senin (9/2/15).

Membaiknya laju inflasi dan neraca perdagangan Indonesia kurang mampu membawa perbaikan pada laju Rupiah. Laju US$ sempat turun setelah merespon pelemahan pada pertumbuhan GDP nya di akhir pekan sebelumnya namun, pelemahan tersebut diimbangi dengan penurunan Yuan.

“Pelaku pasar masih melihat perlambatan ekonomi yang ada di Tiongkok. Hawa positif yang ada di Asia sempat turut mempengaruhi laju Rupiah yang mampu mengalami kenaikan mesti tipis,” tutur Reza.

Di sisi lain, penguatan Rupiah sejalan dengan berhasilnya Pemerintah mengadakan lelang SUN sebanyak 4 seri dengan nilai total penawaran yang masuk Rp 40,23 triliun dan berhasil diserap Rp16 triliun.

Penguatan Rupiah juga ditopang menguatnya Euro seiring meredanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap Grexit pasca PM terpilih mengadakan kunjungan ke Negara-negara kreditor di Eropa dan rilis penguatan indeks manufaktur di beberapa kawasan di Zona Eropa.

Meningkatnya harga minyak mentah secara tidak langsung membuat demand atas US$ sedikit turun sehingga dapat dimanfaatkan oleh mata uang Asia untuk menguat, termasuk Rupiah.

Kebetulan juga laju Euro masih bertahan positif. Begitupun dengan Yuan yang menguat pasca PBoC menginginkan dibatasinya volatilitas aliran modal untuk meningkatkan nilai mata uang Yuan.

Laju Rupiah mendekati akhir pekan kembali mengalami pelemahan seiring antisipasi akan adanya perlambatan ekonomi yang terefleksi pada rendahnya rilis GDP.

“Sebelumnya kami pun telah menurunkan perkiraan angka GDP di Q4-14 secara YoY akan berada di level 4,27% dari estimasi sebelumnya 5,15%. Nyatanya meski rilis resmi GDP oleh BPS lebih tinggi dari estimasi kami namun, tetap saja belum mampu memberikan imbas positif pada Rupiah. Rp 12.768-12.600 (kurs tengah BI),” ucap Reza. (angga)

Berita Terkait

Komentar

Komentar