Selain Meningkatkan Mutu Kertas, Terobosan BBPK Juga Menghemat Devisa

BANDUNG, (tubasmedia.com) – Ada banyak terobosan yang sudah dan akan dilakukan Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) untuk memajukan industri nasional. Namun semua terobosan tersebut, nyaris tak diketahui masyarakat banyak. Penyebabnya, lembaga pemerintah ini nyaris pula tak pernah bersentuhan dengan jurnalis.

BBPK merupakan salah satu unit peneliti dan pengembangan (litbang) di bawah Badan Peneliti dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian yang telah berkiprah selama lebih dari 50 tahun.

BBPK sendiri memiliki tugas  pokok melakukan litbang dan pelayanan bagi industri, terutama industri pulp, kertas, drivat selulosa dan industri pendukung lainnya.

Plt Kepala BBPK, Heronimus Judi Tjahjono, kepada wartawan yang melakukan kunjungan ke dapur BBPK di Bandung pekan silam mengatakan, ada beberapa hasil litbang yang dilakukan BBPK yang sifatnya inovatif dan aplikatif bagi dunia industri dan masyarakat luas yang meliputi penelitian bahan baku alternatif pembuatan kertas yaitu tandan kosong sawit (TKS) sebagai bahan baku pembuatan kertas serta daur ulang kemasan aseptic.

Penelitian BBPK  terhadap TKS sebagai bahan baku pembuatan kertas, merupakan penelitian inovatif dalam hal pemanfaat TKS sebagai limbah perkebunan kelapa sawit.

Pada awalnya limbah TKS yang melimpah, mencapai 30 juta ton/tahun,  sempat menimbulkan masalah karena dapat menimbulkan bau busuk dan terbentuknya gas.

Namun melalui penelitian ini, TKS dijadikan sumber serat alternatif dan dikombinasikan dengan serat yang berasal dari kemasan aseptic bekas sehingga menghasilkan kertas medium dan kertas liner yang memenuhi standar spesifikasi yang ditetapkan pada SNI 8053.1:2014.

Penelitian lain yang dilakukan adalah terobosan untuk meningkatkan mutu kertas kemas baja, sebagai salah satu upaya untuk mengurangi impor kertas kemas baja.

Penelitian peningkatan mutu kertas kemas baja, kata Judi merupakan pengembangan penelitian kertas kemas baja yang telah dilakukan sejak 2001 dan pada tanggal 6 Juni 2007, Kementerian Hukum dan HAM memberikan paten kepada BBPK dan PT Krakatau Steel dengan nomor paten: ID 0 017 490.

Produk Bambu

Penelitian berikutnya, lanjut Judi adalah serat bambu dalam rangka meningkatkan diversifikasi produk akhir bambu serta meningkatkan kualitas dan daya saing produk bambu Indonesia.

Penelitian lain yang menurut Judi tak kalah menarik adalah pemanfaatan limbah serat untuk energi yang dapat menjadi alternatif pemecahan masalah di industri kertas untuk bidang energi dan lingkungan.

Salah satu penelian BBPK adalah memecahkan permasaahan kesulitan bahan baku pembuatan kertas dan tingginya impor kertas daur ulang. Indonesia masih memerlukan bahan baku impor kertas daur ulang sebanyak 4 hingga 4,5 juta ton setiap tahunnya sebagai bahan baku pembuatan kertas kemasan kotak karton gelombang (KKG).

Melalui penelitian ini terlihat bahwa kemasan aseptic minuman bekas yang asalnya tidak memiliki daya jual, ternyata dapat dijadikan menjadi salah satu sumber bahan baku pembuatan kertas.

BBPK juga terang Judi, telah mengembangkan unit daur ulang kemasan aseptck bekas dengan kapasitas produksi berkisar sekitar 1,5 juta ton pupl air dry (AD) per hari.

Mesin yang digunakan antara lain mesin penguraian bahan baku yakni mesin hydrapulper, belt conveyer, mesin saringan berputar, mesin saringan bergetar, mesin saringan bertekanan, mesin pres lembaran pulp serta mesin pres polyfoil (aluminium foil +plastik polythylene).

Dari proses daur ulang ini, dihasilkan dua produk yaitu serat sekunder dan polyfoil dengan rendeman serat antara 30%-35%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa serat yang berasal dari kemasan aseptic minuman bekas menghasil kualitas yang setara dengan serat yang berasal dari pulp kayu.

Sedangkan hasil perhitungan biaya jasa daur ulang kemasan aseptic minuman bekas ini antara Rp 3.500 hingga Rp 3.800 per kg, (belum termasuk biaya pengadaan bahan baku).

Dijelaskan oleh Judi bahwa identifikasi masing-masing biaya berdasarkan kapasitas, memberikan nilai IRR sebesar 35,4 % dengan pay back period selama 4 tahun. Hal ini menujukkan bahwa rancangan paket teknologi penguraian kemasan aseptic, layak diusahakan sehingga dapat membuka lapangan usaha baru.

Kertas Kemas

Hasil percobaan skala laboratorium, dilanjutkan dengan skala pilot untuk melihat kinerja kertas kemas yang dibuat pada uji coba lapangan. Hasilnya ? Kertas kemas baja yang dibuat dari komponen lokal memiliki kualitas yang tidak kalah dengan kertas kemas baja impor.

Berdasarkan tinjauan ekonomi yang dilakukan pada tahun 2011, pada kapasitas produksi baja lembaran dingin sebesar 50.000 ton/bulan yang membutuhkan sekitar 62.300 m2 kertas kemas baja, maka dalam satu tahun diperkirakan dapat dilakukan penghematan devisa sebesar Rp 1,8  miliar. Hasilpenelitian menunjukkan penambahan bahan aditif dapat meningkatkan kualitas kemas baja.

Penelitian produk serat bambu menunjukkan bahwa serat bambu dapat digunakan sebagai bahan baku serat rayon untuk tekstil dan sebagai penguat yang efektif untuk komposit yang lebih ringan, ramah lingkungan (biodegradable). Kelebihan lain dari serat bambu adalah sumbernya yang melimpah dan tidak diharuskan mengikuti skema Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK).

Pemanfaatan limbah serat untuk energi atau yang dikenal sebagai refuned paper plastic fuel (RPF) merupakan penelitian yang sangat aplikatif di industri kertas dan dapat digunakan sebagai solusi alternatif di bidang energi dan lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kalori dan RPF lebih tinggi dibandingkan dengan batubara. Penggunaan RPF juga dapat mencegah terbentuknya slagging dan fouling yang dapat menimbulkan masalah pada boiler. Selain itu, subsitusi batubara dengan 10% penggunaan RPF dapat menurunkan gas rumah kaca (GRK) sampai 9 %.(sabar) 

Berita Terkait

Komentar

Komentar