Selamat Jalan Pak Hartarto

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Hartarto Sastrosoenarto, telah tiada. Dia dengan tenang menghadap Tuhannya pada Minggu (14/5) pukul 21.32 WIB di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Jakarta.

Mantan Menteri Perindustrian (Menperin) yang juga ayahanda Menteri Perindustrian saat ini Airlangga Hartarto meninggal dunia pada usia 85 tahu.

Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 30 Mei 1932 ini menikah dengan R. Hartini Soekardi dan pasangan ini dikarunia lima anak; Gunadharma, Airlangga Hartarto, Indira Asoka, Gautama dan Maya Dewi.

Humas Kementerian Perindustrian (Kemperin) menyebutkan jenazah disemayamkan di Rumah Duka, Jalan Tirtayasa VII No. 34-36 Jakarta Selatan. Jenazah dimakamkan di San Diego Hills hari ini (Senin 15/5) pukul 15.00 WIB.

Hartarto merupakan Menteri Perindustrian ke-17 di era mantan Presiden Soeharto. Pria bersuara bariton ini menjabat sebagai Menteri Perindustrian periode 1983-1993 dan Menteri Koordinator beberapa bidang periode 1993-1999 di era yang sama. Tidak hanya itu, Hartarto juga menjadi ad-interim Menteri Negara Koordinator Bidang Perekonomian pada era Presiden BJ Habibie.

Berita wafatnya Hartarto mengundang simpati dan empati dari politisi dan mantan pejabat pemerintahan.

“RIP Bpk Hartarto Sastrosoenarto, mantan Menperin 1983-1993, ayahanda dr Menperin @airlangga_hrt . Semoga arwah beliau diterima disisiNya,” tulis Sekjen Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Turut berduka cita atas wafatnya Ir. Hartarto mantan Menperin dan ayahanda Menperin @airlangga_hrt,” cuit mantan Sekretaris Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Banyak kenangan selama Hartarto menjabat Menteri Perindustrian. Paling tidak, dia telah meletakkan pondasi dan kerangka acuan untuk membangun sektor industri di Indonesia. Hartarto, dulu sangat terkenal melalui strateginya membangun industri yang dikenal dengan sebutan “Pohon Industri”.

Melalui program “Pohon Industri”, Hartarto bersama seluruh stafnya bergerak dan bergegas mengelola sektor industri dari hulu sampai hilir.

Satu lagi hal yang sangat mengesankan adalah kedekatannya dengan insan pers yang dulu dikenal dengan panggilan kuli tinta. Secara berkala, Hartarto selalu mengadakan pertemuan dengan para wartawan, bahkan tidak segan bertanya kepada wartawan tentang strategi apa lagi yang hendak ditempuh demi membangun industri nasional.

Kini Hartarto telah tiada. Tapi karyanya membangun bangsa ini melalui sektor industri tidak akan sirna. Selamat jalan sahabatku…(sabar)

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar