Serapan Minyak Sawit Untuk Bahan Bakar Nabati, Perlu Diperluas

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Serapan minyak sawit untuk bahan bakar nabati dalam negeri perlu diperluas, tidak hanya sebagai substitusi minyak solar/diesel.

Selain itu Indonesia juga perlu mendorong industrialisasi biohidrokarbon dari minyak sawit (biofuel 100%) dengan produk green diesel, green gasoline, dan green avtur/berbasis kernel oil.

Demikian Plt Dirjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian, M Khayam pada seminar “Mendorong Pertumbuhan Industri Green Fuel Berbasis Kelapa Sawit dan Bahan Nabati Lainnya dalam Rangka Menyehatkan Neraca Pembayaran Nasional” di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, kemarin.

Disebutkan, impor BBM (bahan bakar minyak) terbesar Indonesia justru berasal dari jenis gasoline/bahan bakar mesin bensin yang pertumbuhannya semakin meningkat signifikan.

Pertumbuhan impor BBM gasoline ini menekan neraca perdagangan dan neraca pembayaran nasional; serta menekan nilai tukar rupiah terhadap US Dollar.

Untuk itu dibutuhkan penyelesaian yang urgent dan komprehensif, paripurna dengan memanfaatkan sumber daya domestik yang tersedia, khususnya minyak sawit sebagai bahan baku.

Menurut Khayam, skema produksi yang digunakan berupa co-processing (bersamaan dengan pengolahan petroleum crude oil di kilang) atau stand alone refinery/biorefinery. Kedua skema di atas dapat terwujud karena Teknologi Katalis Merah Putih Pertamina – ITB.

Berdiri Sendiri

Produk green fuel yang paling niscaya untuk dibangun secara cepat dan urgent adalah green gasoline dengan keunggulan (a), tidak membutuhkan gas hidrogen, (b), dapat dibangun secara berdiri sendiri, (c), tidak berkompetisi dengan biodiesel FAME existing, (d), ceruk pasar gasoline yang sangat besar dan merata di seluruh wilayah Indonesia dan (e) menghasilkan produk samping LPG Nabati yang juga dibutuhkan oleh masyarakat.

Bahan baku produksi green gasoline yang cocok secara tekno ekonomi katanya adalah IPO (Industrial Palm Oil) yang merupakan salah satu jenis dari produk IVO (Industrial Vetegable Oil) dengan keunggulan kandungan asam lemak bisa lebih tinggi dari pada processed palm oil (PPO) lainnya, rute produksi lebih sederhana (hanya penghilangan getah/gum dan logam), serta yield pemrosesan dari buah sawit lebih tinggi daripada konvensional (23-28% vs 20-21%).

Spesifikasi Produk IPO ini berbeda dengan minyak sawit mentah/CPO dan juga berbeda dengan produk RBD Palm Oil (Refined Bleached Deodorized) Palm Oil yang selama ini digunakan sebagai bahan baku uji coba katalis produksi green fuel di kilang Pertamina atau pilot plant laboratorium ITB.

Kemenperin diharapkan dapat mendukung penyusunan Rancangan SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk mewujudkan industrialisasi IVO sebagai bahan baku industri biohidrokarbon (biofuel 100%) sebagai pembeda dengan produk CPO.

Keunggulan IVO, menggunakan buah sawit lewat matang (petani rakyat tidak tergantung tengkulak yang mendikte kualitas buah petani), berasal dari buah sawit yang diproduksi skala rakyat/kecil menengah, harga relatif rendah karena proses semi kering (tidak butuh energi tinggi) dan dilengkapi penghilangan logam (demetalized; aman untuk katalis dan sesuai dengan technical requirement katalis).

Tantangan

Dikatakan, tantangan pengembangan IVO yang harus ditangani pemerintah adalah a), bagaimana rekayasa dan rancang bangun peralatan produksi IVO yang local based dan murah, b), koordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk membangun sistem agribisnis yang menghasilkan IVO dengan menghindari kompetisi dengan pangan dan FAME, c), membuat pilot project pabrik IVO

yang bermitra dengan Pertamina untuk pengamanan supply bahan baku dan d), korporatisasi petani rakyat mitra Pertamina/BUMN dengan bantuan IT (implementasi Industry 4.0).

Mengingat nilai strategis industri produksi bensin nabati untuk mengurangi tekanan pada neraca perdagangan nasional dan memperkuat nilai tukar rupiah terhadap US Dollar, maka roadmap komersialisasi industri green gasoline yang akan disusun Kementerian Perindustrian perlu mempertimbangkan konsep pencadangan lahan kelapa sawit bagi pasokan bahan baku industri green fuel sebagaimana dilakukan pada sektor pertambangan batu bara. (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar