Share Industri Manufaktur Terhadap PDB Baru 18 %

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Indonesia masih akan terus berupaya menarik investor menanamkan modalnya di Indonesia untuk mencapai share industri manufaktur terhadap PDB hingga 30 persen.

Hal itu diungkapkan Dirjen ILMATE Kemenperin, Putu Suryawirawan dalam pertemuan dengan wartawan di Jakarta, kemarin.

Share industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) katanya mengutip World Bank, minimal harus mencapai angka 30 persen, baru bisa disebut negara industri sementara Indonesia hingga kini baru sekitar 18 persen.

Indonesia memang pernah mencapai angka 27 persen. Namun karena terjadinya berbagai krisis, capain itu anjlok kembali hingga ke titik 18 persen.

”Ini sekarang yang harus kita kejar dan hanya melalui penambahan investasi, angka itu bisa didongkrak,’’ jelasnya.

Guna menarik investor, semua lini harus dipersiapkan, ya infrastruktur, iklim berusaha, kesiapan sumber daya manusia dan sumber daya alam.

Turun

Sementara itu dikatakan bahwa rendahnya pertumbuhan industri logam dasar pada tahun 2016, telah berimbas negatif terhadap pertumbuhan Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE), yang mengalami penurunan. Jika tahun 2015 sebesar 5,46% turun menjadi 3,87% di tahun 2016.

Tahun 2015, kata Putu, sektor industri logam dasar mencapai 9%, tapi di 2016 hanya tumbuh 2% sehingga pertumbuhan sektor ILMATE yang tadinya 5,46% di tahun 2015 menjadi 3,87% di tahun 2016.

Pada 2016, industri logam tumbuh 1,94%, industri mesin tumbuh 2,85%, industri alat transportasi tumbuh 4,52% dan industri elektronika tumbuh 8,49%.

Pertumbuhan ILMATE tersebut memberikan kontribusi sebesar 4,93% terhadap PDB pada tahun 2016. Karena itu lanjut dirjen, pihaknya akan fokus mengembangkan industri logam dasar sebagai salah satu sektor prioritas melalui peningkatan investasi.

Perlambatan

Dia mengakui, tahun 2016 terjadi perlambatan ekonomi dunia ditambah lagi over suplai baja. Oleh karena itu, di tahun 2017 pihaknya bersama asosiasi akan mengendalikan impor baja supaya tidak terjadi over suplai baja murah yang ditimbun di dalam negeri.

“Kami menargetkan pada tahun 2017 pertumbuhan ILMATE mencapai empat koma sekian persen dengan fokus pengembangan industri logam dasar,” ungkapnya.

Putu menambahkan, sektor industri logam dasar menjadi prioritas untuk dikembangkan agar bisa mendorong kemandirian industri baja di dalam negeri.

Putu menambahkan, industri prioritas berbasis mineral meliputi empat jenis logam yaitu besi baja, aluminium, tembaga dan nikel. “Hilirisasi mineral bijih besi, bauksit, tembaga dan nikel mempunyai dampak yang signifikan bagi perekonomian melalui investasi dan peningkatan nilai tambah,” paparnya.

Selain itu, lanjut Putu, Kemenperin juga fokus melakukan pengembangan industri elektronika dan telematika pada penumbuhan dan pengembangan industri komponen, industri telekomunikasi atau telepon selular dan industri perangkat lunak.

Kemudian pengembangan industri permesinan dan alat mesin pertanian, yang fokus pada industri pembangkit energi, industri alat berat, industri barang modal, komponen, bahan penolong dan jasa industri, dan industri alat kesehatan.

Selanjutnya, pengembangan industri alat transportasi yang fokus pada kendaraan bermotor, industri kedirgantaraan, industri perkapalan dan industri kereta api. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar