Sinta: Wartawan Harus Katakan Benar Kalau Benar, Salah Kalau Salah…

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Wartawan Katolik diajak mengembalikan marwah jurnalistik dengan mengedepankan fakta dan kebenaran dalam menyajikan berita. Mereka tidak boleh terjerumus dalam penyebaran informasi bohong yang mampu memecah persatuan Indonesia.

Hal itu disampaikan Sinta Nuriyah Wahid, istri presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, dalam acara “Buka Buku Tahun Baru Bersama ke-14 Tahun 2019” yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Gedung Dwi Warna Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Jumat (25/1/2019) malam.

“Katakan yang benar itu benar, yang salah adalah salah. Wartawan memiliki peran penting menjaga keutuhan Indonesia dengan menyampaikan informasi yang benar dan terverifikasi,” kata  Sinta saat memberikan sambutan.

Wartawan memiliki peran penting menjaga keutuhan Indonesia dengan menyampaikan informasi yang benar dan terverifikasi.

Ketua Presidium Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Juventus Prima Yoris Kago, menilai, ajakan Sinta penting karena dunia jurnalistik saat ini mengalami pergeseran independensi. Karena itu, ajakan itu diharapkan mampu dijalankan para wartawan demi keberlangsungan jurnalistik Indonesia ke depan.

“Apa yang disampaikan bu Sinta Nuriyah merupakan ajakan untuk mengembalikan kewajiban dan tanggung jawab jurnalis supaya memberikan informasi yang jujur, berimbang, dan edukatif,” kata Juventus yang turut hadir dalam acara tersebut.

Acara bertema “Terima Kasihku Padamu” ini turut memberikan penghargaan kedapa sejumlah tokoh yang dianggap berkontribusi dalam perjalanan bangsa Indonesia. Di antaranya, Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Buya Syafii Maarif, Letnan Jenderal Purnawirawan Sayidiman Suryohadiprojo, mantan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdatul Ulama Ahmad Mustofa Bisri, Sinta Nuriyah Wahid, Harry Tjan Silalahi dan Martha Tilaar.

Ketua PWKI, AM Putut Prabantoro, mengatakan, penghargaan tersebut merupakan wujud terima kasih dari kaum muda PWKI kepada para pemikir bangsa yang telah memberikan dedikasi bagi Indonesia.

“Kami juga ingin meminta doa restu untuk meneruskan jalan mereka dalam menjaga kesatuan Indonesia. Jadi, kalau wartawan, kami meminta doa restu dari mereka supaya dapat menulis yang benar,” pungkas Putut.

Putut menuturkan, setiap tahunnya, PWKI selalu mengangkat tema kebangsaan yang akan menjadi pedoman PWKI dalam menjalankan roh organisasi wartawan ini sepanjang tahun. “Karena itu, tema terima kasih ini akan menjadi semangat PWKI dalam menjalani tahun 2019,” ujarnya. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar