Soal Pakan Ayam, Jagung, Pemerintah Jangan Beri Keterangan Palsu

JAKARTA, (tubasmedia.com) –  Harga ayam di tingkat peternak hingga saat ini masih belum kembali ke harga acuan. Ketua Peternakan dan Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton J. Supit mengatakan, supaya harga ayam ke depan tak lagi menjadi persoalan, maka banyak tugas yang harus dilakukan pemerintah.

Anton berpendapat, selama ini harga ayam sangat tergantung kepada kebutuhan dan pasokan yang dimiliki. Bila pasokan berlebihan, maka harga ayam akan menurun, sementara bila pasokan berlebih maka harga akan melonjak naik.

Melihat hal itu, dia pun mengatakan keseimbangan antara supply dan demand harus bisa dihitung dan diprediksi dengan baik.

Untuk mencapai hal tersebut, Anton pun berpendapat industri peternakan ayam harus disehatkan terlebih dahulu. Ini menyangkut ketersediaan pakan hingga pemberian alokasi impor grand parent stock (GPS).

“Dari segi bahan baku pakan, jagungnya harus terjamin, jangan industri ini menerima harga jagung yang tidak terduga. Apalagi, harga ayam itu 70% dari harga pakan dan harga pakan itu 50% dari jagung,” lanjutnya.

Dia pun mengatakan, sebaiknya pemerintah tidak memberikan pernyataan palsu. “Jangan artifisial, bila tidak ada jagung, jangan dikatakan pasokan jagung  berlebih,” tambahnya.

Untuk menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan, Anton pun mengatakan  pemerintah seharusnya tidak memberikan alokasi impor GPS dalam jumlah yang besar kepada sembarang perusahaan.

“Dalam rangka memberikan alokasi impor GPS, tentu harus ada kriteria yang jelas. Berikanlah pada perusahaan yang efisien, sehingga harga jual bisa lebih kompetitif. Beri juga pada perusahaan yang track record yang jelas,” tuturnya.

Anton pun berharap pemerintah terus berpihak pada peternak dengan memberikan bantuan berupa permodalan. Dengan begitu, industri perunggasan di Indonesia akan lebih bisa bersaing. (red)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar