Strategi Revitalisasi Daya Saing Sebuah Keniscayaan

Oleh: Fauzi Aziz

NEGARA-negara di dunia yang tingkat daya saingnya dirasakan lemah, tidak ada jalan mengatasinya kecuali merevitalisasinya agar di pasar internasional tetap mendapatkan tempat sebagai pemain bisnis global yang handal.

Kita lihat AS sebagai contoh. Negeri Paman Sam yang kita baca dari beberapa textbook, sejak tahun 1960-an, kinerja dan daya saing ekonominya terkikis. Faktanya ditandai oleh defisit neraca perdagangan, penurunan pangsa pasar produk manufaktur di dunia, penurunan keuntungan perusahaan-perusahaan AS dan penurunan pendapatan para pekerjanya.

Jadi jika kita baca arah kebijakan ekonomi Donald Trump dengan tema America First-nya sangat bisa difahami, termasuk diantaranya rencana menurunkan tarif pajak bagi perusahaan. Dalam textbook, kita temukan juga sebuah fakta bahwa AS menerapkan strategi teknologi yang salah arah.

Hampir seluruh inovasi teknologinya masih memusatkan pada tiga sektor utama, yakni industri pertahanan, obat-obatan dan pertanian. Ketiga sektor tersebut memperkerjakan lebih dari separoh ilmuwan dan insinyur bangsa tersebut serta menggunakan 80% dana litbang federal, serta “membiarkan” sektor-sektor lainnya berkurang daya saingnya di pasar global.

Negara di dunia lain yang mengalami pengikisan daya saing ekonominya adalah Uni Eropa. Inilah mengapa banyak aturan masuk ke kawasan tersebut diperketat dan paling menonjol adalah pengaturan tentang standar.

Dengan demikian, Uni Eropa juga menghadapi masalah dalam daya saing globalnya sehingga lebih memilih menyelamatkan diri dengan menerap kebijakan proteksi. Oleh sebab itu, AS dan Uni Eropa sering dikatakan sebagai dua kekuatan ekonomi blok Barat, yang tak sanggup lagi menjadi penjaga sistem multilateral karena kondisi perekonomiannya melemah. Mereka pada tahun 2008/2009 terjebak krisis utang akibat salah urus.

Isu daya saing ini sudah terlalu sering dibahas dan didiskusikan. Namun bila kita cermati dari serangkaian diskursus yang ada, hal yang dapat difahami adalah lebih banyak terkait masalah daya saing bangsa. Penjelasannya cenderung makro, arahnya lebih menjurus ke arah pentingnya Invesment Grade, cost doing business, sehingga sarannya, perlu deregulasi dan penataan aspek kelembagaan, keringanan pajak dan sebagainya.

Pendek kata, hal yang direkomendasikan lebih menjurus ke arah pentingnya liberalisasi ekonomi suatu negara. Dengan demikian mainstreamnya masih sangat Washington Concensus banget kontennya, sehingga langkahnya lebih ditekankan pada mengurangi peran pemerintah secara signifikan dalam mengurus perekonomian nasionalnya.

Lepas dari itu, merevitalisasi daya saing, kita perlukan karena telah menjadi kebutuhan yang harus dicukupi mencapai kondisi umum dalam satu siklus ekonomi/bisnis, yakni efisiensi dan produ tifitas.

Fondasi utama daya saing pada dasarnya tergantung dari dua faktor tersebut. Ini tentu harus dilakukan bersama antara pemerintah dan dunia usaha. Sebab itu, hal-hal yang menonjol menjadi perhatian sebagai isu sentral perbaikan daya saing antara lain dapat disebutkan: 1). Menguatkan infrastruktur dengan cara meningkatkan investasi publik baik di bidang infrastruktur fisik, teknologi, pengembangan SDM maupun yang secara spesifik dibangun melayani kebutuhan IKM.
2). Mendorong inovasi, dilakukan dengan mengalokasikan lebih banyak dana pemerintah untuk pengembangan teknologi baru dan bisnis. Melakukan akselerasi penyebaran pengetahuan baru teknik-teknik manufaktur ke sektor IKM.

Tiongkok dan India selalu menjadi contoh terbaik dalam menjalankan progam inovasi mandiri. Pemerintahnya memberikan dukungan belanja publik dalam jumlah memadai. 3). Mengurangi aturan/deregulasi. 4) Meningkatkan investasi dalam modal manusia. Belanja publik diarahkan lebih banyak bagi pelatihan dan peningkatan belanja untuk litbang oleh sektor industri/bisnis.

5). Mempromosikan investasi dengan cara meningkatkan tabungan publik dan privat guna membangun lingkungan makro-ekonomi yang stabil, yang akan menguatkan fondasi bagi kegiatan investasi sehingga perbaikan iklim investasi penting dilakukan terus menerus untuk mendapatkan derajat invesment grade dengan rating rata-rata baik.

Indonesia sebenarnya lebih mementingkan investasi langsung karena berkaitan dengan produksi. Hal ini berarti terkait dengan pendirian pabrik-pabrik baru, pengadaan teknologi baru, pembukaan zona industri, menambah lapangan kerja baru yang secara langsung akan menciptakan produksi baru atau menambah produksi yang sudah ada, baik melalui PMDN/PMA dan memperkuat basis produksi sektor IKM.

6). Selalu melihat lingkungan strategis yang berpengaruh di tingkat nasional, regional dan global untuk menjadi bahan penetapan kebijakan internasional.

Juga meninjau kembali komitmen internasional yang sudah ada, baik WTO, Asean (Asean+1,Asean plus+3 dsb), maupun dalam kerjasama yang lain, misal di RECP, Apec dan dengan Uni Eropa.

Itulah gambaran framework-nya yang ada selama ini, ketika hendak mencari upaya merevitalisasi daya saing ekonomi/industri/bisnis suatu bangsa. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar