Suara Buruh Dijual Demi Kepentingan Pribadi

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Dukungan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) terhadap pencapresan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto pada peringatan Hari Buruh Sedunia alias May Day, Senin (1/5), sarat transaksi politik.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Bunda Mulia Jakarta, Silvanus Alvin mengatakan, dukungan Presiden KSPI Said Iqbal dan kawan-kawan itu ibarat pribahasa ‘tidak ada makan siang gratis’.

“Ini yang dibilang transaksi politik. Tidak beda seperti proses jual beli. Ada dukungan, ya ada jabatan. There is no such thing as free lunch,” kata Silvanus Alvin kepada wartawan di Jakarta, Selasa (1/5).

Dukungan tersebut dinilainya sebagai perjuangan yang tidak tulus. Pasalnya, KSPI mensyaratkan jika nanti Prabowo menjadi Presiden, ada tokoh buruh yang diangkat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans). Hal itu menurut Silvanus ibarat menjual buruh demi kepentingan pribadi.

Diakuinya hal itu lumrah selama ada konsensus dari semua anggota KSPI. Sebab, kelompok atau serikat buruh bukan dikuasai KSPI saja. Ada puluhan organisasi buruh lainnya yang juga harus diperjuangkan nasibnya. Namun, dirinya tetap menyayangkan hal itu karena ada motivasi pribadi.

“Sehingga ujung-ujungnya akan timbul sikap apatis dari masyarakat. Terutama dari kalangan milenial,” imbuhnya.

Justru aksi semacam itu kata dia akan menimbulkan sikap apatis. Sebab menurut dia, tidak semua buruh setuju dengan transaksi politik yang dilakukan oleh KSPI.

“Idealnya dukungan yang diberikan memang harus dilandasi dari kepentingan bangsa, bukan pribadi,” tambah Silvanus Alvin.

Sebelumnya, Ketua Harian KSPI Muhammad Rusdi berharap pihaknya mendapat jabatan Menakertrans jika Prabowo Subianto menjadi Presiden. (red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar