Suara Hati Anak Negeri

Mimpi_Anak_Desa

Oleh: Fauzi Aziz

BAK sebuah fatamorgana, negeri ini indah dan elok dipandang karena ditakdirkan Sang Pencipta sebagai zamrud khatulistiwa. Namun begitu dekat dengannya, walau wajah negeri ini memang indah, namun di balik keindahan tersebut ternyata banyak bopengnya.

Transformasi Indonesia menuju negara maju dan modern banyak peristiwa menarik, tetapi adakalanya menyayat hati. Cerita di balik panggung ternyata banyak terjadi “perselingkuhan” politik. Demokrasi ditransaksikan. Korupsi, kolusi dan nepotisme makin subur di balik mega proyek APBN/APBD maupun dalam pengelolaan BUMN/BUMD.

Sistem nilai berbasis budaya lokal punah tergerus oleh budaya global yang telah membuat perilaku sebagian anak bangsa kehilangan jati diri. Lingkungan sosial mengalami erosi dahsyad sehingga penganut LGBT minta diakui eksistensinya. Sadisme makin tajam, brutal, merajalela di desa dan di kota tanpa ada rasa perikemanusiaan.

Maling ternyata tidak hanya dilakukan orang yang kepepet, tapi juga oleh orang berkecukupan dan berkuasa yang lobak dan tamak. Sumber daya alam dikelola dengan sembrono sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan yang parah. Negeri sebagai pusat paru-paru dunia, ternyata saat ini menjadi produsen perusak lingkungan sehingga Indonesia adalah negara tropis yang kian memanas.

Pemanasan ini ternyata telah membuat panasnya hati sebagian anak negeri karena ketimpangan antara si kaya dan si miskin kian melebar yang diukur dengan indeks gini ratio mencapai 0,41. Suara hati menjadi pedih dan terpana ketika melihat fenomena kehidupan negeri zamrud khatulistiwa ini.

Ibarat kata maju selangkah, tetapi mundur dua langkah. Maknanya kemajuan yang dicapai ternyata pada saat bersamaan terjadi penggerusan kemartabatan dan keadaban. Hikmah kemanusian, keadaban dan keadilan mengalami erosi sehingga bermuara terjadinya konflik sosial dimana-mana.

Setiap hari tiada hari tanpa kecemasan dan konflik. Orang tua mencemaskan anak-anaknya kalau sampai terjebak dan menjadi korban kekerasan seksual, apalagi sampai menjadi pengguna narkoba. Last but not least kenyataannya Indonesia sedang berproses melakukan transformasi kebangsaan yang sedang berupaya menghebatkan diri di belahan dunia ini.

Harapannya tentu harus dilakukan tidak bersifat  at all cost karena bangsa Indonesia memiliki budayanya sendiri yang menjunjung tinggi nilai-nilai keberagamaan, kemanusiaan yang adil dan beradab. Menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta rasa persaudaraan dan gemar berkumpul dan bermusyawarah membicarakan hal-hal yang baik bagi negeri ini dan menjaga negeri ini agar jangan jatuh ke pelukan bangsa lain karena para pemimpinnya salah urus.

Suara hati anak negeri hanya bisa menyampaikan satu pesan moral bahwa kita harus bisa menjaga negeri ini agar bermanfaat bagi penduduknya yang kini berjumlah 247 juta jiwa. Demi kemajuan, tidak perlu melakukan “Great Sale” atas kekayaan negeri ini. Kekuatan politik, ekonomi dan budaya digadaikan karena pemahaman yang salah dalam mengelola negeri zamrud khatulistiwa sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang merugi karena nilai tambahnya sebagian besar dibawa keluar oleh investor asing, meskipun kita tidak anti asing. (penulis adalah pemerhati ma salah sosial ekonomi).

Berita Terkait

Komentar

Komentar