Suara Rakyat Sedang Dihitung

Oleh: Sabar Hutasoit

 

PILKADA/Pileg dan Pilpres yang disebut pesta demokrasi atau juga dijuluki sebagai pesta rakyat itu sudah diambang pintu. Artinya, pesta yang dimaksud akan segera berlangsung. Tapi benarkah kegiatan itu pesta?

Bagi sekelompok pihak mungkin dirasakan itu pesta yang menyenangkan tapi bagi kebanyakan pihak, bisa dianggap kegiatan itu bukan pesat dan biasa-biasa saja bahkan memelahkan.

Kelompok masyarakat misalnya. Saat pesta itu dipersiapkan jauh-jauh hari, masyarakat diberlakukan sebagai pihak yang sangat dibutuhkan, penting dan tidak bisa diremehkan. Kenapa ? Karena tanpa rakyat yang menjatuhkan pilihan kepada sepasang calon pemimpin itu, pasangan itu tinggalhanya pada batas calon dan tidak terpilih.

Oleh karenanya, saat pesta itu dipersiapkan oleh pihak-pihak tertentu, suara rakyat sedang dihitung. Sampai rakyat yang jauh di pelosok sana di kaki bukit dan di lembah yang dalam, dihitung secara cermat dan jangan sampai ada yang terlupakan. Intinya, rakyat selama persiapan pesta ditempatkan pada posisi yang utama.

Namun setelah pesta rakyat selesai dan pemimpinnya-pun sudah terpilih karena suara rakyat tadi, lalu apa yang terjadi. Rakyat tetap tinggal sebagai rakyat, menghitung suara-pun sudah usai, yang dipilih langsung menduduki kursi kekuasaannya.

Kemudian yang sering terjadi setelah itu, rakyat yang menjadikan figur tadi menjadi pemimpin, tidak pernah diperhitungkan. Posisi rakyat hanya sebatas dihitung dan tidak akan pernah diperhitungkan. Jangankan diperhitungkan janji-janji yang sering diucapkan pemimpin semasa kampanye, seketika itu dilupakan. (penulis adalah seorang wartawan)

Berita Terkait

Komentar

Komentar