Sulitnya Keluar dari Belenggu Pembangunan

Oleh: Fauzi Aziz

DUNIA kini makin percaya diri bahwa perubahan menuju keadaan yang lebih baik harus menjadi arus utama pembangunan. Sifat hakikinya harus bisa keluar dari belenggu apapun bentuknya. Belenggu konotasinya tertawan, tertahan oleh mitos dan bahkan doktrin, serta bisa pula terperangkap oleh berbagai keadaan dimana kita tak bisa bergerak sama sekali.

Keluar dari belenggu sebuah keharusan tapi harus berilmu, mengusai bidang sain dan teknologi, serta sanggup melihat realitas agar kita tidak terjebak di menara gading.

Kita tidak boleh kehilangan waktu saat sudah niat untuk membangun sudah dicanangkan, apalagi konsep dan perencanaannya sudah dibuat. Sebab itu, langkah kebijakannya harus segera diambil untuk mulai melaksanakan pembangunan.

Inilah awal langkah agar kita bisa segera keluar dari belenggu,. Ada niat, konsep, rencana dan tindakan. Menyegerakan menjadi kata kunci supaya tak kehilangan banyak waktu. Langkah penyegeraan ini penting karena proses pembangunan memerlukan durasi yang relatif panjang.

Langkah penyeregaan memerlukan kepemimpinan yang kuat dan kemampuan manajerial yang kompeten karena tugas dan tanggungjawabnya sangat berat, yakni menghancurkan belenggu-belenggu pembangunan.

Sebab itu, bagi para pemimpin di negara-negara yang sedang membangun seperti Indonesia pasti akan berhadapan langsung dengan berbagai kebutuhan dan kepentingan yang belum tentu sejalan dengan apa yang akan dilakukan pemerintah.

Pro kontra adalah kondisi jamak yang pasti akan dihadapi para pemimpin pembangunan yang dalam prosesnya memerlukan kesabaran, ketekunan dan kebijaksanaan ketika melakukan tindakan “pembolduzeran” belenggu-belenggu penghambat pembangunan dan kemajuan.

Sekali lagi harus dicatat lagi wejangannya “John May nard Keynes”,pakar ekonomi Inggris 1883-1946,bahwa kalau kita bicara kesulitan memberantas belenggu, letak kesulitannya bukan pada bagaimana menyambut ide-ide baru, tetapi bagaimana kita keluar dari ide-ide lama.

Inilah gurita belenggu paling fundamental dan struktur yang dihadapi pemimpin pembangunan dewasa ini. Terkait dengan ini, jika pemimpin perubahan mengambil sikap one-man show atau otoriter, boleh jadi benar karena keberhasilan/kegagalan diyakini ada di pundaknya.

Ibarat sebuah laga, lawan tandingnya sangat berat, yakni belenggu ide-ide lama yang telah bercabang melilit sudut-sudut kesadaran kita. Tapi pada realitas politik yang dihadapi di depan mata, bertindak one-man-show dan otoriter pasti tidak akan disukai lawan politiknya, apalagi lantas jawaban pamungkasnya akan keluar.

Merasa tidak puas dengan keadaan status-quo, pemimpin perubahan tidak bisa lagi mengambil langkah mundur dan satu-satu cara harus mengambil sikap assertive dan mengatakan kepada lawan politiknya bahwa kita menjadi pemangku kepentingan yang ikut bertanggungjawab  menentukan keberhasilan atau kegagalan dari pembangunan yang sedang dilaksanakan.

Kerjasama dan kerja bersama menjadi satu keniscayaan. Beban yang dipikul di pundaknya adalah menghancurkan belenggu-belenggu penghambat. Mengubah aturan yang dinilai menghambat sangat mudah dilakukan. Tapi menghapus sekat-sekat kekuasaan bukan perkara mudah karena banyaknya kepentingan.

Buktinya, meskipun deregulasi sudah dilakukan berkali-kali, hasilnya belum maksimal karena pasca dideregulasi melahirkan regulasi baru sehingga akhirnya melahirkan sekat-sekat baru lagi. Menghancurkan belenggu selalu berhadapan dengan lingkaran setan, karena di balik belenggu itu selalu ada kekuasaan bersemi dan di balik kekuasaan selalu lahir wilayah zona aman.

Belenggu adalah musuh kita bersama, Karena itu, secara bersama-sama pula kita harus bisa keluar dari belenggu yang melilit kesadaran kita. Ke luar dari belenggu mencerminkan semangat kesadaran kita. Untuk bisa keluar dari belenggu, memerlukan tindakan yang berfokus pada hasil yang dapat diukur.

Berarti kualitas pekerjaan bongkar-bongkar ini jauh lebih penting dilihat tolok ukur hasil ketimbang mengandalkan tolok ukur kuantitas. Sebab itu, kita dalam membangun negeri ini lebih baik dalam posisi sebagai penggerak dan pembentuk sejarah perubahan, daripada sekedar menjadi obyek sejarah. (penulis adalah pemerhati masalah sosial, ekonomi dan industri).

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar