Terwujudkah Danau Toba Jadi Monaco of Asia ?

Oleh: Sabar Hutasoit

HARUS diakui, kondisi infrastruktur seluruh dermaga yang ada di seputar Danau Toba sangat memprihatinkan, bahkan tidak layak dipakai. Selain tidak layak dipakai, kondisinya juga sangat membahayakan nyawa penumpang yang naik turun kapal.

Tidak jelas dimana anak tangga untuk naik turun kapal dan sarana apa yang disiapkan bagi penumpang yang hendak naik turun kapal dimaksud.

Intinya, masing-masing penumpang harus cekatan untuk melompat sambil dipegangin tangan kita oleh siapa saja yang ada di pintu kapal tersebut.

Keprihatinan ini sebenarnya sudah cukup lama berlangsung, namun entah kenapa, aparat yang berwenang membenahinya sepertinya tidak ada gairah atau niat untuk memperbaiki segala infrastruktur sementara restribusi dari setiap penumpang tetap dipungut.

Itu baru persiapan dermaga yang terlihat secara kasat mata, belum lagi yang menyangkut administrasi seperti manifestasi, SKKA juru mudi kapal, sertifikat pelayaran dan sebagainya dan sebagainya.

Nah, menyangkut pelampung. Hampir semua kapal di Danau Toba tidak memiliki pelampung atau sering disebut safety jacket, kalaupun ada, paling satu buah unit tergeletak di bagian belakang kapal bertumpuk dengan kain-kain lap atau baju kru kapal yang dijemur di atas seutas tali. Pokoknya tidak professional.

Mungkin yang membuat kondisi sedemikian terbelakang karena umumnya penumpang kapal adalah teman sekampung kru kapal yang kerjanya bolak balik antar dermaga dengan keperluan berdagang misalnya.

Dan antara kru kapal dengan sebagian penumpang yang adalah teman sekampungnya, pada umumnya sudah mahir berenang di Danau Toba sehingga walau tak disediakan pelampung, penumpang tidak pernah protes.

Keselamatan Penumpang

Padahal, seiring dengan lahirnya perhatian pemerintah pusat untuk membangun Danau Toba dan sekitarnya bahkan Danau Toba dipersiapkan menjadi Monaco of Asia disambung lagi pembukaan Bandara Silangit yang dijadikan Bandara Internasional, pemerintah setempat sudah saatnya buka mata dan melepas ke-masa bodohannya selama ini untuk membenahi segala fasilitas yang diperlukan.

Bagaimana mungkin hal itu bisa terwujud jika keselamatan penumpang tidak menjadi nomor satu bagi pengelola pelayaran di seputar obyek wisata yang sudah ternama di seluruh belahan dunia ini.

Dikatakan tidak menomor satukan keselamatan penumpang, karena fakta mengatakan kru kapal motor, selama ini tidak pernah menerapkan daftar manifest dan selalu memaksakan penumpang hingga melebihi kapasitas hanya untuk mendapatkan keuntungan.  Bayangkan sebuah kapal motor kapasitas 40 penumpang dipaksa membawa lebih dari 200 orang ditambah lagi dengan barang bawaan.

Anehnya, Bupati Samosir mengaku tidak pernah tau kalau kapal motor di wilayah kekuasaannya membawa penumpang melebihi kapasitas, padahal setiap saat dia menerima distribusi dari penumpang kapal. Atau bupati tidak pernah peduli sehingga merasa tidak perlu diawasi, yang penting setoran masuk.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli pernah menyatakan pemerintah akan menyulap kawasan wisata Danau Toba di Sumatera Utara layaknya Monaco yang ada di yang berada di pinggiran Perancis.

Saat itu Rizal Ramli menyebut pemerintah pusat akan mengembangkan Danau Toba jadi The Monaco of Asia. Langkah pertama yang akan dilakukan adalah membersihkan Danau Toba karena banyak yang menanam ikan di situ. Setelah itu akan dibangun infrastrukturnya, jalan, air bersih, internet dan sebagainya.

Namun sampai tenggelamnya KM Sinar Bangun dalam perjalanan dari Pelabuhan Simanindo, Samosir, menuju Pelabuhan Tiga Ras, Simalungun, Sumatera Utara, Senin, 18 Juni 2018, infrastruktur dimaksud belum ada.

Seiring dengan itu pemerintah-pun sibuk, ada yang turun ke lokasi kejadian, ada yang memberi bantuan, ada yang mengusut kasus sehingga empat tersangka sudah ditetapkan aparat keamanan dan Menteri Perhubungan, Budi Karya menyebut tenggelamnya kapal yang merenggut seratusan lebih korban manusia momentum untuk melakukan pembenahan di sektor penyeberangan.

Dia telah menyiapkan Tim Ad Hoc untuk menegakkan aturan yang sudah berlaku, agar tragedi Danau Toba tidak terulang.

Kita beri apresiasi kepada pemerintah. Namun sebaiknya pemerintah tidak tampil seperti pemadam kebakaran setelah kejadian baru nongol. Akan tetapi harus siap menyediakan payung sebelum hujan.

Menghukum keempat tersangka atau mungkin tersangkanya akan tambah lagi, tidak cukup. Tapi yang terpenting siapkan segala fasilitas yang dibutuhkan sebuah dermaga dan sebuah kapal penumpang manusia. (penulis seorang wartawan)

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar