Wahyu Katentreman di Tiong-Jiu Kelenteng

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

SEMARANG (TubasMedia.Com) – Terjadi perpaduan kultur yang harmonis saat berlangsung Tiong-Jiu (HUT) Kelenteng “Siu Hok Bio” Semarang. Hari pertama, sarat ritual budaya leluhur Tionghoa, hari kedua digelar wayang kulit semalam-suntuk dengan lakon “Wahyu Katentreman” kultur asli “Wong Jawa”.

Sehari sebelumnya 68 Kiem-sien (arca dewa) dari berbagai kelenteng Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat tiba di Kelenteng Siu Hok Bio Semarang. Malamnya, Kiem-sien tuan rumah, Kongco (Maha Suci) Hok Tiek Cing Sien (Dewa Bumi), disemayamkan di Kio (tandu kehormatan) warna merah.

Minggu dini hari setelah Lamking (parita) usai, Kongco Hok Tiek Cing Sien, diikuti semua Kiem-sien/Kongco tamu dalam situasi senyap dibawa ke Kelenteng Agung “Tay Kak Sie” Semarang (Utara 2 Km). Di kelenteng ini dilakukan sembahyang massal sampai pagi hari.

Kemudian dilakukan arak-arakan akbar. Kio Kongco Hok Tiek Cing Sien diikuti Kio para Kongco tamu, diarak ke Kelenteng Siu Hok Bio. Berbagai tontonan kental budaya Cina seperti Liong, Sam-sie dan musik tradisional ikut mengiringinya. Ribuan warga Tionghoa berbaur masyarakat pribumi menonton acara itu sepanjang route arak-arakan.

Sore hari Kiem-sien tamu pulang ke daerah masing-masing tapi acara belum rampung. Malamnya digelar wayang kulit berlakon “Wahyu Katentreman”, oleh Dalang spesialis Ki Joko Sunarno dari Boyolali. “Sengaja kami pilih lakon itu, simbol kedamaian hidup di antara kita semua,” ujar Ketua yayasan kelenteng, Eveline Winarsa BA. (yonotio)

Berita Terkait

Komentar

Komentar