70% Lulusan STTT Bandung Langsung Bekerja

BERI PENGHARGAAN- Sekjen Kemenperin, Syarif Hidayat memberikan penghargaan kepada salah satu mahasiswi terbaik berpredikat  dengan nilai ‘’Pujian” saat menghadiri wisuda Politeknik Sekolah Tehnik Teknologi Tekstil (STTT) di Bandung, 17 Desember 2017. Pada kesempatan ini, Politeknik STTT Bandung meluluskan 365 orang dengan 53 orang (14,52%) mahasiswa/i berpredikat lulus dengan ‘’Pujian”.                                  – tubasmedia.com/ist

BANDUNG, (tubasmedia.com) – Politeknik STTT Bandung, perguruan tinggi di bawah binaan Kementerian Perindustrian yang menyelenggarakan pendidikan vokasi bidang tekstil dan produk tekstil mewisuda sebanyak 365 lulusan tingkat Diploma I-IV.

Lebih dari 70 persen dari lulusan tersebut telah diterima bekerja. Sisanya menunggu penempatan dan ada yang berwirausaha.

“Kami memberikan apresiasi terhadap keberhasilan ini karena merupakan hasil kerja sama antara para mahasiswa, orang tua, dosen dan pelaku industri,” kata Sekjen Kementerian Perindustrian, Syarif Hidayat mewakili Menteri Perindustrian pada acara Wisuda Politeknik STTT Bandung, Jawa Barat, Sabtu (17/12).

Ke-365 alumni tersebut berasal dari berbagai program studi, antara lain kimia tekstil, teknik tekstil, produksi garmen, desain fesyen, penyuluh lapangan, pakaian jadi, dan pembuatan serat. Tercatat 53 orang lulus dengan nilai Pujian atau Cum Laude.

“Kami berharap saudara-saudara yang telah bekerja pada perusahaan industri dapat menunjukkan kompetensi dan profesionalitas dalam bekerja, sehingga dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dan daya saing industri TPT nasional,” ungkap Syarif.

Selain itu, diharapkan pula mereka terus membina kerja sama dan jejaring baik sesama alumni maupun dengan pelaku-pelaku industri.

Syarif menyampaikan, dengan kapasitas yang tersedia saat ini, Politeknik STTT Bandung hanya mampu meluluskan sekitar 300 calon tenaga kerja ahli per tahun, sementara permintaan industri terus mengalami peningkatan mencapai 500 orang per tahun.

Untuk memenuhi sebagian permintaan tersebut, sejak tahun 2012 Kemenperin menyelenggarakan program pendidikan Diploma 1 dan 2 bidang tekstil di Surabaya dan Semarang. Program ini kerjasama antara Politeknik STTT Bandung dengan PT. APAC Inti Corpora serta asosiasi dan perusahaan industri tekstil di Jawa Tengah dan JawaTimur.

“Selain itu, pada tahun 2015,Kemenperin bekerja sama dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah dan PemerintahDaerah Kota Solo, juga telah membuka Akademi Komunitas Industri TPT untuk program Diploma 2 di Solo Techno Park yang seluruh lulusannya ditempatkan bekerja pada perusahaan industri,” kata Syarif.

Sistem pembelajaran di Akademi Komunitas Industri TPT Solo dilaksanakan dengan mengadopsi konsep dual system dari Jerman, yakni kombinasi pembelajaran setiap semesternya, yang menerapkan pola belajar teori dan praktek di kampus selama dua bulan dan magang di industri selama tiga bulan.

“Pengembangan pendidikan vokasional yang berbasis kompetensi saat ini menjadi salah satu program prioritas pemerintah sesuai arahan Bapak Presiden Joko Widodo untuk menyiapkan tenaga-tenaga kerja industri yang kompeten sesuai dengan kebutuhan industri,” tuturnya.

Ditegaskan, ketersediaan tenaga kerja yang kompeten sangat diperlukan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan industri TPT. Sektor padat karya ini menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 2,69 juta orang atau 17,03 persen dari total tenaga kerja manufaktur pada tahun 2015, sehingga sengat berperan mengurangi angka pengangguran dan merupakan jaring pengaman sosial dari segi pendapatan masayarakat.

Dalam upaya meningkatkan kerja sama dengan industri, pada kesempatan itu juga dilaksanakan penandatanganan Piagam Kerja Sama antara Politeknik STTT Bandung dengan tiga perusahaan yang mewakili industri TPT, yaitu PT. GKBI Investment (Jakarta), PT. Sri Rejeki Isman (Jawa Tengah), dan PT. Excellent Quality Yarns (Jawa Timur).

Penandatanganan ini dimaksudkan dalam rangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Vokasi Berbasis Kompetensi sebagai langkah konkret link and match (sasaran tepat guna) antara institusi pendidikan dengan industrinya. Tujuannya adalah untuk mendorong keterlibatan industri dalam pengembangan Politeknik STTT Bandung, dalam hal peningkatan kualitas lulusan, penyediaan tempat Praktek Kerja Lapangan, Penelitian bersama dan Pengabdian Masyarakat serta Pemenuhan kebutuhan SDM Industri.(ril/sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar