80 % Pendingin Ruangan Masih Impor

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Peran industri elektronika dalam negeri dirasa perlu diperbesar. Caranya, pemerintah harus siap mendorong substitusi impor untuk produk-produk elektronika dan telematika.

Hal itu dikatakan Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Industri Elektronika dan Alat-Alat Listrik Rumah Tangga (Gabel) Daniel Suhardiman, dalam seminar webinar di Jakarta, Rabu.

Namun menurut dia, para pelaku industri elektronika di Tanah Air selalu bisa mendevelop produk-produk yang cocok untuk konsumen. Ini sangat berkaitan dengan yang pentingnya peningkatan daya saing khususnya harga dan kualitas.

Kendati belum terjadi relokasi industri yang besar katanya, produsen dalam negeri selalu konsisten melakukan investasi dalam hal peningkatan kualitas maupun model-model baru.

Menurutnya, substitusi impor ini tidak bisa hanya diserahkan ke pelaku industry. ‘’Pasalnya memang kita ini dalam perdagangan global persaingan antar negara,” kata Daniel.

Dikatakan, permintaan pasar Indonesia terhadap barang elektronik mencapai kurang lebih Rp 50 triliun, dimana ada enam kategori yaitu televisi, AC, lemari es, mesin cuci, pompa air dan kipas angin.

Disebut misalnya AC, pendingin ruangan ini 80 persennya masih impor. Tahun 2020 saat Kementerian Perdagangan menerapkan Persetujuan Impor (PI) untuk pendingin ruangan lewat Permendag Nomor 68 disebut menjadi angin segar bagi industri dalam negeri, sehingga pelaku usaha bisa melihat angkanya.

Setelah empat bulan diterapkan Permendag 68 ini, menurutnya, komposisi suplai dari dalam negeri ini meningkat dari 20 persen menjadi 30 persen.

‘’Inilah efektifitas dari PI yang saat ini kita apresiasi dari Kementerian Perdagangan, sehingga beberapa merek utama itu mulai berpikir untuk merelokasi pabriknya ke Indonesia,” jelas Daniel.

Untuk lebih memperbanyak substitusi impor produk elektronika, Gabel melihat pemerintah harus menyiapkan beberapa instrumen untuk mendukung industri.

“Yang pasti beberapa instrumen seperti tarif non barrier, seperti SNI, TKDN, lalu Lartas dalam bentuk PO dan satu lagi dari Kementerian ESDM menerapkan energi efisiensi label atau scam. Ini juga sangat penting dalam menjaga barang impor ini masuk ke Indonesia,” katanya.

Berkompetisi

Sementara itu, Dirjen ILMATE, Taufik Bawazier memaparkan, impor elektronik Indonesia mencapai 25,5 miliar dolar AS. Sedangkan ekspor produk elektronika dan telematika sebesar 12,5 miliar dolar AS.

“Walaupun kita sudah optimal juga untuk ekspor sekitar 12,5 miliar dolar, ini adalah satu pertumbuhan yang kita dorong ekspornya dari dalam negeri. Di dalamnya juga mengandung unsur bahwa industri dalam negeri mampu berkompetisi secara global,” katanya.

Dari total impor 25,5 miliar dolar AS, sebesar 13 miliar dolar AS atau 53 persen merupakan impor komponen untuk memproduksi industri elektronika dan telematika.

Substitusi Impor

Sebelumnya Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan sebagai upaya untuk mengurangi impor produk elektronika, pemerintah mendorong dilakukannya substitusi impor.

Dalam rangka pencapaian target substitusi impor dan menjaga iklim usaha investasi yang dilakukan industri elektronika, pengendalian impor sektor perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan suplai di dalam negeri.

“Strategi tersebut ditargetkan dapat meningkatkan nilai tingkat kandungan dalam negeri produk-produk Sharp di Indonesia dan optimalisasi industri bahan baku nasional juga tercapai,” ujar Agus.

Selain itu, komponen AC juga cukup besar kontribusinya terhadap impor komponen, dengan total nilai sebesar US$13,1 miliar. Salah satu komponen penting pada produk AC adalah kompresor dan Indonesia belum memiliki industrinya.

Karena itu, produsen AC seperti Sharp perlu secara mandiri memenuhi kebutuhan komponen AC terutama yang belum diproduksi di dalam negeri.

“Saya yakin market Indonesia cukup menarik. Untuk itu saya berpesan kepada Sharp agar mempertimbangkan investasi kompresor atau mengajak mitra yang selama ini memasok agar berinvestasi di Indonesia,” sebut Agus.(sabar)

 

 

Berita Terkait