80 Persen Lulusan AKA Diterima Bekerja di Industri

Laporan: Redaksi

ilustrasi

RUANG LABORATORIUM – Inilah suasana di salah satu ruang laboratorium di Akademi Kimia Analisis (AKA) Bogor. Umumnya ruang laboratorium diisi dengan peralatan yang telah memenuhi standar internasional. (tubasmedia.com/sabar hutasoit)

BOGOR, (TubasMedia.Com) – Akademi Kimia Analisis (AKA) Bogor merupakan perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan di bidang kimia analisis. Menerapkan kurikulum berbasis kompetensi yang didukung sarana dan prasarana serta tenaga pengajar yang berpengalaman.

Lulusan yang dihasilkan kompeten di bidang kimia analisis, berwawasan lingkungan, memiliki kemampuan menguasai komputer dan mampu berbahasa Inggris dengan baik. Lulusan juga dibekali dengan life skill, kemampuan untuk berwirausaha. 80% lulusan diterima bekerja di industri.

Direktur AKA, Ir Maman Sukirman MSi mengatakan hal itu dalam obrolan dengan tubasmedia.com di ruang kerjanya, Kamis silam. Maman didampingi Pembantu Direktur bidang Akademik, Chandra Irawan.

Kehadiran tenaga kerja jebolan AKA menurut Maman akhir-alhir ini semakin diperlukan oleh dunia usaha. Pasalnya, semua industri perlu dianalisis dan untuk jaminan mutu, secara ilmiah perlu dianalisa.

Pengawasn mutu diawali sejak pengadaan bahan baku, proses pengolahan hingga pengemasan bahkan sampai limbahnya. ‘’Semuanya itu harus diawasi oleh alumni AKA,’’ jelasnya.

Sebagai lembaga pendidikan yang alumninya dapat segera diserap pasar, AKA selalu meng-update kurikulum. Perubahan kurikulum kata Maman sangat penting agar semua yang dipelajari merupakan hal-hal yang dibutuuhkan pasar. ‘’Kita berusaha menangkap kebutuhan pasar dan melahirkan tenaga kerja yang diperlukan dunia usaha,’’ jelasnya.

Dijelaskan bahwa mahasiswa AKA yang lulus tidak hanya mengantongi ijazah, namun dilengkapi dengan sertifikat kompetensi.

Beban studi yang diampu 112 sks dan dapat diselesaikan 6 sampai dengan 10 semester. Melalui penerapan sistem kredit semester (sks) penuh mahasiswa diberikan kesempatan untuk memilih mata kuliah yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.

Akademi Kimia Analis (AKA) didirikan di Bogor pada tahun 1959 oleh Departemen Perindustrian Rakyat untuk menyelenggarakan program Sarjana Muda dengan tujuan untuk menyediakan analis tingkat akademi yang diperlukan oleh Balai Penelitian Kimi Bogor (sekarang Balai Besar Industri Agro Bogor).

Sejak tahun 1981 berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Perindustrian serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 278/M/SK/VI/81 dan Nomor 1816/U/1981, AKA dinyatakan sebagai lembaga pendidikan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan professional program Diploma III. Saat ini AKA Bogor adalah salah satu perguruan tinggi milik Kementerian Perindustrian.

Dikatakan oleh Maman, bahwa sebagai unit pendukung perindustrian, tugas AKA Bogor adalah untuk menyediakan SDM Kimia Analisis yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan mengembangkan industri. Untuk menjadi negara industri maju, industri memerlukan tambahan SDM Kimia Analisis yang cukup besar dari segi jumlah maupun dari segi kualitas dan tingkat keahlian.

Sasaran tingkat keahlian pendidikan ini adalah kemampuan analis kimia secara mandiri, mampu mengembangkan keahliannya, mampu membina bawahannya dan memiliki dan dasar keahlian manajerial. Lulusan AKA berhak menggunakan sebutan Ahli Madya (A.Md).

Pada tahun 2002, AKA Bogor mendapatkan sertifikat akreditasi perguruan tinggi dari Badan Akreditasi Nasional (BAN-PT) dengan peringkat B (skor 343 dari nilai minimal 361 untuk peringkat A pada skala maksimal 400.

Menjawab pertanyaan dikatakan Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Industri sepenuhnya mendukung segala program AKA demi meningkatkan keberadaannya. Dukungan tersebut dipandang perlu guna mengikuti gerak langkah sektor industri yang larinya sangat kencang sehingga jika AKA jalan lelet, kita akan ketinggalan kereta dan tidak berdayaguna lagi.

‘’Yah seperti saya katakan tadi, AKA harus mengikuti perkembangan pasar. AKA memproduksi manusia yang siap kerja dan bukan untuk menjadi pengangguran,’’ jelasnya. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar