Oleh: Fauzi Aziz

DI dalam konsep ekonomi liberal era Adam Smith (1725-1790), kita mendapatkan satu pemahaman bahwa pasar akan selalu tahu apa yang terbaik. Manakala terjadi gangguan, pasar bisa menciptakan titik keseimbangan baru dan ini bisa terjadi karena peran tangan-tangan tak nampak (invisible hand).

Kita sekarang berada di abad modern, era globalisasi, era digitalisasi dan era dimana kebebasan menjadi arus utama dalam kehidupan modern dewasa ini. Si invisible hand bentuknya bermacam-macam dan yang pasti ia tak pernah menampakkan hidungnya dalam pergaulan di abad globalisasi ini.

Ia bisa berbentuk manusia, iblis atau sebutan lain yang lebih keren yakni, aktor intelektual atau hackers/crakers dan mungkin ada sebutan lain yang lebih necis.

Peran invisible hand di masa lalu ketika Adam Smith mengatakannya dalam tulisannya yang terkenal An Inquiry into the nature and the cause of the wealth of Nations, invisible hand muncul secara konstruktif, yakni menyelamatkan pasar menuju titik keseimbangan baru.

Di era sekarang, dimana kegagalan pasar tidak bisa lagi dikoreksi oleh invisible hand, maka konsepnya Adam Smith dikoreksi oleh John Maynard Keyness ( 1883-1946), dimana kegagalan pasar dikoreksi dengan adanya intervensi pemerintah.

Bisa dikatakan posisi dan peran pemerintah dalam mengelola pasar adalah sebagai invisible hand juga, dimana kalau mengikuti ideologinya Alan Greenspan bahwa pasar paling tahu apa yang terbaik dan pemerintah akan melakukan tugasnya sangat baik apabila memberi jalan.

Dalam situasi ini, pemerintah sebagai invisible hand masih melakukan tindakan yang konstruktif untuk memperbaiki keadaan dan menyehatkan kembali bekerjanya mekanisme pasar secara normal.

Perkembangannya hingga kini, invisible hand bisa difahami dalam dua kutub, yakni dari yang bersifat positip konstruktif, sampai yang bersifat negatif dan destruktif. Contoh yang bersifat positip yang justru menjadi rumit ketika invisible hand melaksanakan aksinya secara bebas dan medsos dipakai wahana operasi mereka menebar berita hoax, adu domba, fitnah.

Ini semua membuat sulit bagi penikmat medsos membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan sudah terpakai sebagai media “perang proxi”, sehingga “permainan” ini sudah sangat mengganggu stabilitas, baik politik, ekonomi dan keamanan.

Invisible hand ini cenderung tidak bertanggung jawab. Letupannya bak senjata pemusnah masal. karena perilakunya bisa merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Melihat fenomena di dalam negeri saat ini, rada khawatir sepertinya di antara kita sedang digiring, baik oleh alam sadar maupun bawah sadarnya digerakkan untuk saling berkonflik dan cenderung terlibat dalam “perang proxi”.

Sensitifitas kita dirasa penting, supaya kita tidak terjebak di dunia “hitam” yang bisa membuat kita kehilangan jati diri sebagai manusia Indonesia yang bermartabat dan beradab. Kita sangat khawatir Indonesia bisa hancur dari dalam akibat kita sudah semakin terperangkap oleh gorengan maut para hackers/crakers yang dengan bebasnya “mengkapitalisasi” isu secara tidak bertanggung jawab.

Jangan berpolitik dengan cara yang salah, hanya sekedar bermain-main dengan politik. Padahal kita tahu bahwa berpolitik artinya sedang berbangsa dan bernegara. Waspadalah jangan sampai terjadi senjata makan tuan.

Pemerintah jangan serta merta bertindak represif, karenya yang ditangkapi mungkin jadi korban dari keganasan para invisible hand, yang notabene adalah para hackers/crackers yang hanya bangga jika bangsa Indonesia terpecah belah.

Kita harus berada dalam hikmat kebijaksanaan, dalam mencermati atas fenoma kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, yang jujur kini sedang terus digoyang dan digoreng, serta dibenturkan satu sama lain yang dikapitalisasi secara viral oleh entah siapa para hackers/cracker se bagai invisible hand yang men jadi aktor intelektual penghancur peradaban dan keadaban. (penulis adalah pemerhati masalah sosial dan ekonomi).

Berita Terkait

Komentar

Komentar