JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian meyakini suatu negara dikatakan maju karena industrinya tangguh. Untuk itu, Indonesia sebagai negara berkembang yang merupakan emerging market (pasar terbesar), harus bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) dan mampu meningkatkan produktivitasnya.

“Beberapa upaya strategis yang telah dilakukan oleh pemerintah, seperti paket kebijakan ekonomi dan penurunan harga gas, diharapkan mampu mendongkrak kinerja pertumbuhan industri nasional yang signifikan di tahun ini,” kata Plt. Sekjen Kemenperin Haris Munandar pada Seminar Indonesia Economic Outlook 2017 di Jakarta, Selasa (31/1).

Haris mengungkapkan, sasaran pembangunan industri non-migas tahun 2017, antara lain pertumbuhan ditargetkan mencapai 5,5 persen, sumbangan terhadap perekonomian nasional sebesar 18,7 persen, kontribusi ekspor industri terhadap total ekspor 76,8 persen, penyerapan jumlah tenaga kerja sebanyak 16,3 juta orang, dan nilai tambah yang diciptakan dari luar Pulau Jawa sekitar 28,4 persen.

“Agar bisa mencapai target-target tersebut, kami telah menetapkan enam kebijakan prioritas untuk medukung pengembangan industri nasional,” ujarnya.

Keenam kebijakan itu adalah penguatan SDM melalui vokasi industri, pendalaman struktur industri melalui penguatan rantai nilai, mendorong kinerja industri padat karya dan berorientasi ekspor, pengembangan IKM melalui platform digital, pengembangan industri berbasis sumber daya alam, serta pengembangan perwilayahan industri.

Oleh karena itu, Haris menegaskan, pihaknya optimistis melalui program hilirisasi industri dapat meningkatkan nilai tambah bagi sumber daya alam di Indonesia.

“Misalnya, dari sisi hilirisasi di sektor pertambangan, seperti di Kawasan Industri Morowali yang tengah mengembangkan industri smelter berbasis nikel pig iron untuk menjadi stainless steel,” sebutnya.

Menurut Haris, jika hilirisasi di sektor tersebut berjalan lancar, Indonesia akan menghasilkan empat juta ton stainless steel pada tahun 2018-2019 dan menjadi produsen ketiga terbesar di dunia setelah Tiongkok dan Eropa.

“Saat ini, perkembangan hilirisasi industri berbasis logam mencakup 32 perusahaan dengan total nilai investasi US$16,3 miliar di 22 kabupaten/kota dan 11 provinsi,” tuturnya. (ril/sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar