Aksi Geng Motor Harus Ditindak Tegas

Oleh: Anthon P. Sinaga

Ilustrasi

Ilustrasi

BEBERAPA hari terakhir ini, masyarakat dikejutkan dengan aksi geng motor yang memakan banyak korban. Apakah itu bermula dari aksi brutal para geng motor, ataupun tindakan balas dendam akibat aksi brutal tersebut. Semuanya menjadi rumit dan tidak jelas. Namun yang pasti, aksi geng motor ini cukup menghebohkan, apalagi dikaitkan lagi dengan adanya keterlibatan aparat TNI.

Umumnya, yang ikut-ikutan geng motor adalah anak-anak muda, berusia 15-29 tahun. Sebagian tentu belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) kendaraan bermotor kelas C, seperti dipersyaratkan harus berusia 17 tahun. Menurut pencatatan Organisasi Buruh Internasional (ILO), pemuda berusia 15-29 tahun merupakan 19,9 persen dari 7,7 juta pengangguran terbuka di Indonesia. Yakni, tertinggi di antara negara-negara di Asia Pasifik.

Dari data ILO ini bisa diduga, bahwa kebanyakan peminat geng motor ini adalah anak-anak muda yang tidak mempunyai kegiatan produktif, alias berstatus pengangguran. Oleh karena itulah semua pihak, terutama pemerintah, harus berupaya untuk memberikan lapangan kerja yang menghasilkan, atau menyalurkan minat mereka yang suka kebut-kebutan ini menjadi pengukir prestasi yang positif atau sebagai pembalap yang andal.

Sehingga, untuk menghentikan kegiatan geng motor ini, selain harus ada tindakan tegas, harus juga dibarengi dengan tindakan preemtif (penangkalan), berupa identifikasi sosial ekonomi, kultural dan pengarahan ke pilihan identitas anak-anak muda yang positif. Perlu identifikasi profil anak-anak muda berusia 15-29 tahun tersebut, untuk bisa disalurkan ke jenis pekerjaan tetap, atau ke professi tertentu, sesuai latar belakang pendidikan dan kulturalnya.

Artinya, mereka perlu dibantu atau diarahkan menjadi pribadi yang mandiri. Di sinilah diharapkan adanya peranan pemerintah, melalui instansi-instansi terkait, yang harus melakukan jemput bola. Demikian pula, diharapkan bantuan peranan lembaga sosial masyarakat, maupun uluran tangan dari para dermawan, baik pelaku usaha jasa, niaga maupun industri untuk mempekerjakan mereka.

Secara umum, anak-anak muda juga berproses untuk mencari identitas. Untuk itulah mereka perlu diarahkan, agar jangan masuk ke dalam identitas grup yang salah. Identitas geng motor bagi sebagian anak muda mungkin dianggap suatu kebanggaan, atau ikut-ikutan, padahal dari nama geng itu sendiri, sudah mempunyai konotasi negatif. Apalagi, bila ada persyaratan untuk bisa masuk geng, harus mampu melakukan tindak kekerasan. Disinilah perlu peranan orang tua untuk mengarahkan anak-anaknya kepada kelompok pergaulan yang positif, serta pandai-pandai memilih teman. Seberat apa pun kehidupan kerluarga, orang tua tidak bisa lepas tanggung jawabnya.

Tindakan Tegas

Melihat kejadian akhir-akhir ini, memang sudah harus dilakukan segera tindakan tegas terhadap pelaku kriminal atau pelanggar UU Lalu Lintas tersebut. Di Jakarta, memang sudah lama terjadi kegiatan trek-trekan oleh geng motor ini. Umumnya dilakukan setelah lewat tengah malam, di jalan-jalan tertentu. Tidak hanya suara bising dari sepeda motor yang mengganggu masyarakat, karena knalpotnya sengaja dibuka atau dimodofikasi, tetapi juga kengerian melihat atraksi pembalapnya yang harus menyentuh benda kecil di tengah jalan sambil memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Hal ini tidak jarang mengancam keselamatan pembalapnya, maupun anak-anak muda penontonnya.

Oleh karena itulah petugas keamanan perlu meningkatkan patroli dan langsung membubarkan setiap ada kerumunan pesepeda motor yang ditengarai bagian dari geng motor. Selama ini, petugas kepolisian yang kebetulan mengetahui, maupun masyarakat sekitar yang merasa terganggu, tidak jarang ikut mengusir geng motor ini. Akan tetapi, geng motor ini hanya pindah sementara ke tempat lain dan tidak lama kemudian sudah kembali lagi, apabila petugas dan masyarakat pengusir sudah tidak ada lagi di tempat.

Ulah geng motor ini memang sudah keterlaluan, bahkan seperti Jumat (13/4) dinihari lalu terjadi peristiwa tragis yang diduga tindakan balas dendam terhadap ulah geng motor sebelumnya. Tidak kurang dari seorang anak muda yang tidak tahu persoalan tewas dibunuh dan lima orang anak muda lainnya luka-luka serius, serta sebuah mobil dan enam sepeda motor dirusak dan ada yang dibakar.

Hal ini diduga ada kaitan dengan ulah geng motor tanggal 31 Maret lalu yang mengeroyek seorang anggota TNI AL, Kelasi 1 Arifin di Jalan Benyamin Sueb, Pademangan, Jakarta Utara. Gara-garanya hanya sepele. Geng motor ini tidak mau terima ditegor oleh Arifin, karena menghalangi sebuah truk yang akan lewat. Arifin dan seorang temannya sesama anggota TNI AL, diduga pengawal truk pembawa barang tersebut. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar