America First

Oleh: Fauzi Aziz

SENANG mendengar kalimat pendek ini sebagai visi Presiden AS Donald Trump yang dalam bahasa Indonesia maknanya adalah “yang utama Amerika”.

Egois terasakan dan membuat kita berfikir dan berhitung, apa yang akan dilakukan Donald Trump dalam empat tahun ke depan sebagai presiden rakyat AS.

Kita kutip lagi penggalan pidatonya saat pelantikan yang bisa dikatakan keluar dari arus utama, tapi realistik dan jujur mau melihat negerinya sendiri dari perspektik politik ekonomi Trump.

Ada tiga substansi yang membuat kita kaget, yaitu kita tidak akan lagi menerima politisi yang semua hanya bicara dan tidak bertindak. Mereka terus mengeluh tetapi tidak pernah berbuat apa-apa. America First, berlaku untuk semua hal, seperti perdagangan, perpajakan, keimigrasian dan kebijakan luar negeri.

Kita harus melindungi perbatasan dari perusakan oleh negara lain yang membuat produk kita; mencuri perusahaan; dan menghancurkan lapangan kerja. Proteksi akan membawa kemakmuran besar dan kekuatan. Kelak hanya akan ada dua kaidah, yakni membeli produk AS dan memperkejakan orang AS. Proteksi untuk membuat AS kembali berjaya, membanggakan dan aman.

Itulah “America First” dan suka tidak suka, kita kini dihadapkan pada kondisi real politic ekonomi AS di bawah Trump seperti itu posturnya. Berani “melawan arus”, tapi jika kita ditanya, hati dan perasaan kita mungkin bisa membenarkan apa yang akan dikapitalisasi Trump dalam mengelola kebijakan ekonomi dan politik luar negeri.

Jadi nilai dasar yang akan dibangun adalah menggugah semangat nasionalisme AS, merestrukturisasi ekonominya dari dalam (inward looking) dan mengamankan kepentingan nasional AS dalam pergaulan internasional.

Dalam konteks proteksi-pun, dapat kita pahami secara konstruktif, dimana negara yang berdaulat memiliki komitmen politik untuk melindungi kepentingan bangsanya dan ini harus difahami sebagai hak sebuah bangsa dan negara berdaulat.

Yang tidak benar jika yang dilakukan adalah mengisolasi diri, atau mau hidup sendiri dan menutup diri dari pergaulan internasional. Hanya saja, Trump sebagai pebisnis ulung, nalurinya mengatakan perlu dilakukan analisis cost and benefit dengan lebih rasional.

Oleh sebab itu, Trump akan melakukan langkah baru. Misalnya dengan melakukan perkuatan aliansi lama dan membentuk aliansi baru serta menyatukan dunia yang beradab melawan terorisme.

Dalam hubungan ini, AS saat ini diawali dengan melakukan konsolidasi secara unilateral dan tercermin dari America First yang dicanangkannya. Berarti peta geopolitik AS, di tingkat global dan regional dengan semangat America New Deal ala Trump akan dimulai dengan membangun semangat baru menyatukan kekuatan baru.

Oleh sebab itu, kita dapat fahami bahwa di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, AS mempersiapkan diri membuka misteri untuk membasmi penyakit,dan memanfaatkan energi, industri serta teknologi masa depan.

AS melakukan time-out untuk mengumpulkan energi baru sambil mengatur strategi baru,k arena AS pasti tidak akan rela melepaskan kedudukannya sebagai adidaya ekonomi dunia yang sekarang ditempel oleh Tiong kok.

Terkait dengan ini, ketika berlangsung pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss,18 Januari 2017, Presiden Tiongkok, Xi Jin ping mengatakan jangan pernah menyalahkan globalisasi yang terbukti telah mendorong kemakmuran dunia.

Selain itu, Jack Ma, pendiri Alibaba, pengusaha dan sekaligus orang terkaya nomor 2 di Tiongkok mengatakan selama 30 tahun lebih, AS telah melakukan pemindahan pekerjaan ke Meksiko, Tiongkok dan India guna menghasilkan produk murah.

Globalisasi telah menguntungkan AS dan membuat korporasi AS berjaya serta meraih untung besar. Last but not least inilah wajah dunia di abad ini. Tak ada satu pun negara di dunia yang mau menjadi pecundang karena semua ingin menjadi pemenang.

Tapi apakah semua harus menjadi pemenang? Rasanya tidak dan yang lebih pas jika saling memberi manfaat. Terkait dengan ini, konsep tentang international division of labour menjadi relevan kembali untuk diterapkan.

Kalau kita selalu mencermati global situation space, pasti masih ada ruang bermain bagi Indonesia dan juga negara lain, asalkan kita mau bekerja dengan tekun mencermati lingkungan strategis yang berpengaruh.

Pertumbuhan dan pelambatan ekonomi global adalah cermin siklus ekonomi/siklus bisnis pasti akan terjadi kapan saja dan dimana saja. Yang penting pemerintah bisa melakukan tindakan counterciclycal secara tepat.

Dan dalam konteks AS di bawah Donald Trump, ia memilih menerapkan kebijakan proteksi sebagai semacam bentuk stimulus ekonomi dipandang tepat untuk menyehatkan perekonomian AS. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar