Ancaman Perang Dagang AS, Justeru Bawa Angin Segar bagi Produk Industri Indonesia

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Ancaman Presiden Amerika Serikat, (AS) Donald Trump yang memperingati Indonesia soal perang dagang, jangan dianggap sebagai lonceng kematian bagi industri dalam negeri, tapi merupakan lonceng kehidupan.

Hal itu Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka. Muhdori kepada wartawan di ruang kerjanya kemarin. Peringatan Donald Trump justeru akan membuka peluang lebih luas lagi kepada produk ekspor Indonesia untuk memasuki negara paman Sam tersebut.

Sebagaimana diberitakan, Donald Trump mengancam akan mencabut fasilitas The Generalized System of Preferences (GSP/Sistem Preferensi Umum) atas 124 produk Indonesia termasuk industri tekstil dan produk tekstil dan alas kaki yang diberikan pemerintah AS selama ini.

Dengan akan dicabutnya fasilitas tersebut banyak suara yang menyebut bahwa produk industri TPT dan alas kaki Indonesia, akan tersisi dan kesulitan masuk AS.

Namun Muhdori mengatakan, ancaman tersebut justru membawa angin segar bagi industri TPT dan alas kaki Indonesia dengan catatan pemerintah AS harus memberlakukan kebijakan barunya di bidang perdagangan kepada seluruh negara.

Selama ini jelas Muhdori, perlakuan AS kepada negara pengekspor tidak merata. Misalnya bea masuk (BM) produk TPT dan alas kaki dari Vietnam, India dan Bangladesh selaku kompetitor Indonesia, dibebaskan sementara Indonesia dikenakan BM antara  12,5 %-20 %.

Dari selisih BM ini saja, lanjut Muhdori, selama ini daya saing kita sudah melemah, dimana harga garmen Indonesia menjadi lebih mahal 20 % disbanding produk negara kompetitor. Akan tetapi jika kebijakan baru AS diberlakukan sama dengan negara kompetitor kita, daya saing produk Indonesia akan jauh lebih unggul.

‘’Artinya, produk TPT dan alas kaki kita akan semakin besar membanjiri pasar AS, karena produk kita memiliki keunggulan,’’ katanya.

Lebih Unggul

Ditegaskan oleh Muhdori bahwa produk TPT nasional nantinya akan jauh lebih unggul dibanding produk Vietnam, India dan Bangladesh karena memang industri TPT nasional sudah lebih terintegrasi dibanding negara kompetitor ditambah lagi dengan upah pekerja yang lebih kompetitif.

Ditanya seberapa besar peningkatan pangsa pasar industri TPT nasional ke pasar AS dengan kebijakan baru nanti, Muhdori menyebut jika selama ini total ekspor TPT nasional ke pasar AS senilai US$ 4,31 miliar, nantinya ditargetkan naik menjadi US$ 5,5 miliar.

Untuk itu, pihaknya saat ini sedang konsentasi meningkatkan kapasitas produksi untuk melayani peningkatan permintaan pasar AS.

‘’Kita sudah harus persiapkan kemampuan pasok manakala permintaan Amerika mengalir ke Indonesia dan hal ini teramat memungkinkan untuk terjadi. Pokoknya saat ini pelaku industri TPT kita sedang menanti hari yang menggebirakan,’’ jelasnya. (sabar)

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar