Aneh

Oleh: Edi Siswojo

Ilustrasi

Ilustrasi

DI dunia pers ada kalangan yang berpendirian kalau ada kejadian orang diuber anjing, teriak-teriak, jatuh dan digigit kakinya itu bukan berita. Tapi, jika ada peristiwa orang menguber anjing, menjambret buntutnya dan menggigit kepalanya itu baru berita dan layak dimuat dalam surat kabar, majalah dan tabloid.

Pendirian itu memilih peristiwa yang layak diberitakan pers merupakan kejadian yang menarik karena aneh, heboh dan sadistis. Apakah kalau tidak ada peristiwa menarik surat kabar, majalah dan tabloid dibiarkan kosong melompong atau diisi iklan saja? Tentu saja, tidak!

Di sekitar kita banyak peristiwa yang sama menariknya dengan peristiwa orang menguber anjing, menjambret buntutnya dan menggigit kepalanya. Misalnya, “nyanyian” mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin dari tempat persembunyiannya.

Syair lagu itu menyebutkan ada aliran dana miliaran rupiah dari proyek pembangunan wisma atlet di Palembang masuk ke dalam kantong sejumlah petinggi Partai Demokrat, seorang menteri dan kalangan anggota DPR. Disebutkan pula ada satu boks uang rupiah yang digelontorkan ke kongres Partai Demokrat di Bandung tahun lalu untuk memenangkan Anas Urbaningrum dalam perebutan Ketua Umum DPP Partai Demokrat.

Peristiwa M. Nazaruddin yang “menyanyi” dari tempat gelap itu menarik, mengandung keanehan, menghebohkan dan sadistis. Sebuah peristiwa–yang menurut pendapat kalangan pers tersebut–layak dimuat sebagai berita surat kabar, majalah dan tabloid juga televisi dan radio. Bahkan telah menjadi menu perbincangan sehari-hari di masyarakat.

Partai Demokrat boleh kecewa mendengarkan dan membaca “nyanyian” M. Nazaruddin yang bergemuruh seperti gelombang tsunami yang menghantam dan menghancurkan bangunan citra partai yang dibangun selama ini.

Pemilih Partai Demokrat dalam Pemilu juga tidak dilarang kecewa. Rakyat pun boleh ikut “mengelus dada” terhadap polisi yang sampai sekarang belum bisa menangkap M. Nazaruddin. Rasa kecewa itu sah-sah saja, tidak melanggar konstitusi negara.

Kalangan pers di Indonesia sebaiknya bisa memilih dan memilah peristiwa menarik yang terjadi di atas planet bumi ini. Jangan main telan begitu saja. Tidak semua peristiwa yang aneh, heboh dan sadistis itu layak untuk memenuhi–selera–kebutuhan pembaca. Pers punya tanggung jawab moral dan sosial dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya! ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar