Apa Lagi yang Belum Dicuri

Oleh: Sabar Hutasoit

Ilustrasi

PEKAN kemarin kita dikejutkan berita adanya mayat bayi dan orang dewasa dicuri dari makam di Sidoardjo. Belum jelas apa motif pencurian mayat tersebut. Kendati demikian, kita tidak ingin membahas latar belakang pencurian mayat dimaksud, akan tetapi ingin menyatakan setiap yang namanya pencurian adalah hal yang tabu dan merupakan tindak pidana yang layak dijatuhi hukuman.

Tampaknya, seluruh apa yang ada di bumi nusantara tercinta ini sudah dicuri. Kayu sudah, duit apalagi. Surat-surat Keputusan (SK)-pun dicuri, dokumen dicuri, rel kereta api, mur, baut, besi jembatan, lampu-lampu jalan semuanya sudah dicuri.

Tidak hanya itu, gayung juga disikat, sabun, sampo, rambutan, mangga, jeruk, pisang, melon, biji kapas semua sudah dicuri dan rasanya tidak ada lagi yang belum dicuri. Lalu apa lagi yang tertinggal dan belum tersentuh tangan-tangan pencuri di negeri ini ? Minyak, gas, batubara, emas, berlian, seluruh hasil bumi sudah dicuri.

Penegakan hukum ? wou, jangan dikata. Tampaknya yang satu ini juga sudah menjadi komoditi yang menarik untuk dicuri. Demikian juga keadilan sudah menjadi trend bagi pihak-pihak tertentu dan menjadikannya barang yang nilainya mahal sehingga perlu dan penting untuk dicuri. Kalau begitu pantaskah disebut kalau bangsa ini bangsa pencuri ? Pasti kita marah dan tak seorang-pun diantara warga NKRI yang siap mendengar julukan itu bahkan rame-rame menolaknya.

Tapi tolong sebut apa saja yang belum dicuri di negeri yang kita cintai bersama ini. Lihat tuh di ruang tahanan negara. Isinya sudah campur baur, ya pencuri sendal jepit, pencuri semangka, pencuri pisang, pencuri apa saja termasuk anggota dewan yang terhormat bahkan mantan menteri serta jenderal-pun ikut mendekam di hotel prodeo itu karena tuduhan mencuri.

Akan tetapi yang hebatnya lagi, kendati semua sudah dicuri, apakah itu kekayaan alam, isi perut bumi, dokumen negara, keadilan serta kenyamanan, pertumbuhan ekonomi nasional sesuai laporan pemerintah, masih 6,1 persen.

Bayangkan bapak ibu saudara saudariku yang tercinta, jikalau tidak ada pencuri dan semuanya aman tenteram. Sudah dapat dipastikan, untuk menggapai pertumbuhan ekonomi hingga 10 atau bahkan 15 persen sangat gampang, kecil !!! Gampil, kata bahasa prokem.

Kesejahteraan dan kenyamanan berbangsa dan bernegara akan menjadi milik kita semua. Tidak terkecuali, baik masyarakat di kaki bukit, di pedesaan terpencil, di atas bukit, di lereng gunung dan dimana saja, akan menikmati kekayaan alam Indonesia. Kesejahteraan tidak hanya hanya milik segelintir warganegara. Tapi sudah merata.

Karena itu izinkan kami menguti tulisan Bismar Siregar yang ditulis tahun 2007. Isinya: Hai engkau imam pemimpin negeri ini, putuskan dengan cepat dan tepat untuk rakyatmu. Jangan berlama-lama. Tapi bila masih berhitung dengan dukungan partai ini partai itu dan membuat kepentingan masyarakat jadi terlantar, jangan terkejut dan jangan marah dan jangan pula salahkan siapa-siapa jika rakyat akan ‘’menghukum’’ pemimpinnya kemudian melupakannya.***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar