Apa Pentingnya NX ?

Oleh: Fauzi Aziz

 

 

PERTAMA, kita diajari dalam kehidupan agar bisa selalu menarik manfaat setiap ada hasil. Jawabannya adalah agar kita tidak menjadi bangsa yang merugi di setiap kita menghadapi peluang dan kesempatan yang ada di depan kita. Itulah barangkali X ( ekspor) -M (impor) = NX, yaitu ekspor neto. Ekspor neto berarti harus bisa menghasilkan surplus ekspor. Artinya jika yang terjadi adalah surplus impor terus menerus, maka kita termasuk golongan bangsa yang merugi akibat tak pandai berniaga.

KEDUA, selanjutnya ilmu tersebut juga memberikan sebuah wisdom pembelajaran agar kita mampu ngumpulin devisa dalam jumlah besar supaya kita punya cadangan untuk dapat membiayai pembangunan dan berbagai kegiatan investasi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Selain itu, diberikan sebuah energi baru agar bangsa yang bersangkutan dapat membentuk Sovereign Wealth Fund ( SWF) yang sumber dananya tidak berasal dari pinjaman.

China ketika bergabung di WTO tahun 2001, nawaitunya bulat, yaitu China di panggung dunia dan dunia boleh berada di pelataran China. Artinya, China mengekspor dan di saat yang sama, paman panda putih juga mengimpor. Setelah masuk club WTO tersebut, volume perdagangan ekspornya meningkat 20% hingga 30% per tahun. Tahun 2008 volume perdagangan luar negeri ( ekspor, impor) mencapai USD 2,5 triliun. Peran China sebagai pemain utama di pasar global sudah sangat terang benderang.

KETIGA, NX-lah yang menjadi obsesi bagi negara manapun di dunia karena buat sebuah negara berdaulat memiliki reputasi global itu penting dan niscaya. Para investor portofolio maupun FDI selalu mencermati bahwa prestasi dan reputasi dengan angka NX yang tinggi dan tumbuh setiap tahunnya dari negeri yang pinter dagang selalu menarik perhatian untuk menjadi tujuan investasi. Indonesia untuk menapakkan kaki di panggung dunia masih harus bekerja keras untuk menciptakan masa depan yang cerah bersama rakyat. Karena itu, bagi Indonesia yang semakin terkait erat dengan dunia, hanya punya satu pilihan, yakni jangan sampai menjadi bangsa  yang merugi akibat gagal faham memahami konsep X-M = NX.

KEEMPAT, itu saja dulu kita benahi seluruh tatanan yang ada. Rasanya untuk sampai dengan akhir tahun 2024 , Indonesia masih perlu fokus pada pertumbuhan ekonomi. Peningkatan faktor NX harus dijadikan sumbu pemicu dan pemacu pertumbuhan ekonomi. Investasi akan datang jika pertumbuhan NXnya bisa tumbuh rata-rata 15-20% hingga 2024.Ini cara yang bisa membantu sektor manufaktur keluar dari jebakan pertumbuhan rendah selama ini. Peran diplomasi ekonomi sangat membantu upaya ini. Tiga tahun ke depan waktu yang pendek. Prestasi dan legacy kebijakan ekonomi harus fokus di bagian hilir, yaitu meningkatkan NX. Kita kerahkan segenap sumber daya untuk bisa mencapai yang kita buru, yakni menghimpun devisa hasil ekspor.

KELIMA, upaya itu penting karena dua alasan pokok, yakni : 1) kita butuh devisa hasil ekspor untuk membayar utang luar negeri, dan membiayai impor barang dan jasa yang masih dibutuhkan untuk produksi dan investasi. 2) untuk menghindari jangan sampai terjadi bahwa membiayai utang dan impor barang dan jasa bersumber dari dana pinjaman juga dengan menerbitkan SBN maupun kredit ekspor dari negara pemasok. Dalam jangka waktu ke depan rasanya itu yang menjadi target paling realistis , dan kita harus ingat bahwa semua negara akan melakukan hal yang sama untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi dan resesi ekonomi.

KEENAM, mengapa kita harus fokus mengenai pentingnya XN? Satu hal karena secara “laten” kita sering menghadapi tekanan defisit neraca transaksi berjalan , dan terjadi sejak tahun 2011. Defisit ini selalu ada hubungannya dengan  neraca pembayaran karena ketika defisit transaksi berjalan terjadi berarti uang yang keluar lebih banyak dari yang masuk. Neraca transaksi berjalan menjadi fondasi yang sangat penting bagi stabilitas nilai tukar mata uang. Defisit transaksi berjalan adalah fenomena sektor riil. Bagi BI, mengusir defisit tersebut biasanya dilakukan dengan menaikkan suku bunga acuan untuk memperlambat kegiatan ekonomi dengan harapan impor akan turun.

KETUJUH, pada akhirnya, kita harus bisa melihat realitas, yaitu bahwa semua negara berusaha untuk mengendalikan impor dan meningkatkan ekspor karena ilmunya memberikan pelajaran bahwa X-M= NX. Tidak ada yang salah dengan upaya tersebut karena secara alamiah impor memang harus bisa dikontrol dan ekspor harus digenjot karena hukum besinya seperti itu mengajarkan. Terkait dengan ini , maka menurut hemat penulis, Indonesia bisa mengusulkan kepada WTO sebagai berikut ; 1) setiap anggota WTO diberikan fleksibilitas untuk mengelola kebijakan ekspor dan impornya sesuai dengan kepentingan nasionalnya masing-masing negara. 2) secara unilateral dapat diberikan kebebasan pula untuk melakukan pengendalian impor, baik menggunakan instrumen moneter, keuangan maupun perdagangan yang bersifat sementara. 3) indikasi yang bisa digunakan adalah jika neraca transaksi berjalan dan neraca pembayaran mengalami tekanan defisit berkelanjutan. Hal yang dapat dilakukan misalnya jika ratio impor terhadap PDB mencapai 60% , negara-negara berkembang dapat melakukan pengendalian impor sesuai hukum nasionalnya. Bagi negara maju, ratio bisa lebih tinggi, misal 70% terhadap PDB negara bersangkutan. 4) Keputusan ini cukup diberitahukan kepada WTO, dan negara mitra dagang. XN adalah simbol bahwa produktifitas ekonomi nasional cukup tinggi. Salam sehat. (penulis pemerhati ekonomi dan industri, tinggal di Jakarta)

Berita Terkait

Komentar

Komentar