Arsitektur Ekonomi Asia Disusun di Beijing

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, ada beberapa text pembelajaran tentang Cina yang kini menjadi the presiden of  Asian economic bahwa kini Cina memegang dominasi regional yang sangat kokoh. Cina dikatakan banyak belajar dari Barat, tetapi transformasinya kemudian lebih banyak dilakukan sendiri ketimbang diimpor dari Barat.

John &Doris Naisbitt menyebutnya dengan istilah bahwa Cina dibangun menurut ukuran dan nilai-nilainya sendiiri. Dari aspek sosial budaya harus diakui bahwa Cina cukup kaya dengan yang satu ini.

KEDUA, dari berbagai diskursus kita juga tahu bahwa cara Cina mengelola kebangkitannya dan menggunakan kekuasaannya yang menanjak di kawasan Asia Timur menjadi indikator yang sangat penting untuk memperkirakan perilakunya sebagai sebuah kekuatan global. Untuk mencapai ambisinya, Cina menghadapi pekerjaan yang jauh lebih berat dalam upaya menjadi kekuatan utama di Asia Timur pada khususnya  dan Asia pada umumnya. Cina harus melawan dua pesaing, yakni Jepang dan Amerika Serikat yang “merintangi” ambisinya.

KETIGA, ambisi ekpansi ekonomi dan sebagai the president of Asian Economic untuk memegang kendali ekonomi kawasan yang kokoh dengan Cina sebagai  pusatnya tentu harus dibangun pola hubungan hirarkis yang kuat dan karena itu, agenda arsitektur ekonominya disusun di Beijing.

KEEMPAT, terbentuknya Belt and Road Initiative ( BRI)  adalah salah satu bentuk arsitektur ekonomi Asia yang disusun di Beijing. Negara-negara yang masuk dalam jaringan konektifitas BRI dapat dikatakan sebagai halaman belakang Cina, termasuk Mongolia, Rusia di sebelah utara hingga jembatan Euroasia baru.

Dan jika dilihat dari peta geostrategi sepertinya langkah tersebut dapat dibaca sebagai upaya membendung pengaruh AS di kawasan itu. Ada 6 koridor ekonomi yang ditetapkan masuk dalam jaringan BRI, yakni: Tiongkok >Mongolia>Russia; Tiongkok>Asia Tengah>Asia Barat ; Tiongkok>Pakistan ; Tiongkok> Semenanjung Indochina ; Tiongkok > Bangladesh > India > Myanmar ; dan Tiongkok > Jembatan Euroasia baru. Proyek ini dikembangkan murni atas kepentingan Cina sebagai The presiden of Asian Economic.

KELIMA, dapat dicatat bahwa pertumbuhan dramatis ekonomi Cina memunculkan kepercayaan diri yang menguat dan memungkinkan Cina mengembangkan perspektif-perspektif baru dan lebih ambisius. Ini tentu menjadi sebuah strategi yang merepresentasikan sebuah pembentukan 6 koridor ekonomi BRI tersebut dan sekaligus sebagai upaya melepaskan bayang-bayang AS di enam koridor ekonomi yang direncanakan.

Dan inilah sesungguhnya yang membedakan pengaruh hegemoni AS dan Cina. AS mengutamakan pengaruh hegemoni militer, sedangkan Cina lebih fokus membangun hegemoni ekonomi.

Langkah Cina ini dianggap realistik dan cerdas karena pembelanjaan sebagai “polisi dunia” pasti besar dan sangat menjadi beban berat APBN -AS ( ada 80 pangkalan militer di dunia).

Babak Baru

KEENAM, Cina kini sedang menulis babak baru dalam sejarahnya tidak hanya sekedar tampil sebagai Nation state, lebih dari itu telah mmunculkan diri sebagai negara benua dan juga sebagai negara peradaban. Cina berderap maju menjadi sebuah adidaya yang sangat ekspansif dan hegemonik dengan satu pikiran di jalan sosialisme, komunisme dan kapitalisme, serta konfucuisme yang dibanding menjadi sebuah sistem yang disebut ekonomi pasar sosialis dengan gaya Cina. Kini Cina ada di Dunia dan Dunia ada di Cina.

Hidup bukan sebagai negara demokrasi Barat, tapi hidup dengan pendekatan emansipasi dan partisipasi dari seluruh rakyatnya. Kekuatan kreativitas dan inovasi yang tumbuh secara bottom-up mendapatkan dukungan penuh secara top-down dari para pemimpinnya. Semua kedigdayaan itu terjadi karena keberhasilan mengelola secara konsisten progam modernitas di bidang pertanian, industri, dalam bidang sains dan teknologi, serta membangun kekuatan militernya.

KETUJUH, China sangat memahami bahwa seperti apa yang ditulis oleh Paul Kenedy dalam The Rise and Fall of The Great Powers, yakni bahwa Kemampuan Negara-Negara Untuk Menerapkan Dan Mempertahankan Hegemoni Global Pada Akhirnya Bergantung Pada Kapasitas Produktif Negara Bersangkutan.

Kekuatan militer dan politik bertumpu pada kekuatan ekonomi. Barangkali pendapat Paul Kenedy tersebut menjadi salah satu inspirasi lahirnya progam modernitas yang dikelola Cina hingga kini dengan kemajuan-kemajuan baru yang dicapai.

Satu hal yang diyakini dan ditekuni adalah premis bahwa prasyarat untuk menjadi sebuah kekuatan hegemoni, termasuk kemampuan memimpin sebuah imperium formal maupun informal adalah kekuatan ekonominya. kekuatan imperium eropa sudah berlalu. kemudian muncul kekuatan imperium amerika yang bercokol sejak abad 19 dan kini sudah mulai kedodoran karena tengah mengalami kemerosotan dan kemunduran ekonomi, yang hendak dicoba diperbaiki oleh Trump.

Tapi dunia berkata lain bahwa di abad 21 ini, kekuatan imperium asia muncul dengan digdaya memimpin hegemoni global yang dipimpin china. semoga di abad mendatang muncul indonesia sebagai kekuatan imperium global sepanjang syarat rukunnya dapat dipenuhi dan dilaksanakan sesuai tuntunannya.

Tapi kalau diacak-acak, mencla-mencle, tidak memiliki rencana modernitas yang akan dituju,dan bener karepe dewe, maka akan jauh panggang dari api untuk menjadi pemimpin global baru. Sebab itu, uruslah negeri dengan baik dan benar menurut ukuran dan nilai-nilai yang ada di Indonesia.

Pemerintah yang menghasilkan pengelolaan dalam negeri yang kompeten akan menjadi modal dasar untuk dapat melakukan hal yang sama baiknya di tingkat global. Ini barangkali salah satu syarat rukun untuk menjadi pemimpin jangkar di tingkat global.

KEDELAPAN, Indonesia dan seluruh negara Asean, pasti masuk dalam jaringan BRI, meskipun kita tahu bahwa koridor ekonominya yang disebut adalah Tiongkok > Semenanjung Indocina, Bukan Tiongkok >Asean.

Mungkin nilai strategisnya jauh lebih penting dari kepentingan Cina. Kita tahu bahwa klaim atas Laut Tiongkok Selatan adalah adalah teritorinya Cina at all. Kita tahu bahwa AS, Jepang dan Australia merasa berkepentingan karena ingin memastikan kebebasan bernavigasi dan wilayah  udara di perairan itu tetap terjamin.Akhirnya kita semakin tahu bahwa China dengan kekuatan ekonominya , yang akan menata ulang kawasan Asia Timur, termasuk Asean untuk melakukan perubahan lanskap ekonominya. Mengapa Asia Timur mendapat perhatian khusus. Ada beberapa kesan yang menarik, antara lain:  1). Asia Timur boleh dikata telah menjadi ladang bermain cukup lama. Hanya saja memang ada urusan dengan Jepang dan Korsel. Di pihak lain masih ada sengketa atas kepulauan Spratly dan Paracel. Masalah ini merupakan sumber ketegangan serius dan berkepanjangan antara China dengan Vietnam, Taiwan, Filipina, Malaysia, dan Brunei.

2). Di Asia Timur laut, perdagangan intra regional Asia Timur walaupun tanpa perjanjian formal bisa mencapai 52% dari total nilai perdagangan lima negara, yakni China, Jepang, Taiwan dan Korea (selatan dan utara). Tercapai hanya dalam satu dasawarsa, dibanding dengan angka capaian di UE yang diraih dalam waktu setengah abad. Antara tahun 1991 dan 2001,tatkala perdagangan dunia meningkat 177%, perdagangan intra regional Asia Timur melonjak sangat mencengangkan mrncapai 304%, walaupun  dihantam krisis likuiditas Asia tahun 1997/1998.

Bebas Aktif

KESEMBILAN, soal hubungan Cina-Indonesia kita harapkan menjadi sebuah hubungan diplomatik yang biasa saja lazimnya dilakukan terhadap negara lain sesuai semangat politik luar negeri yang bebas aktif. Ini penting sehingga prinsip-prinsip kesetaraan harus ditegakkan dimana kedua pihak bisa mempertahankan kedaulatannya masing-masing. Bagi Indonesia sesuai alenia pertama UUD 1945 tegas dinyatakan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan. Jadi Indonesia bisa melakukan kemitraan strategis dengan negara manapun di dunia sepanjang dapat membebaskan diri segala macam bentuk kolonisasi oleh negara lain, baik di bidang politik, ekonomi dan budaya karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. BRI jelas dapat berpotensi menjadi ancaman sekaligus peluang dan tantangan bagi platform diplomasi Indonesia saat ini dan ke depan.Kebijakan politik ekonomi luar negeri Indonesia harus meresponnya demi sebesar-besarnya kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

KESEPULUH, akhirnya kita juga menjadi tahu bahwa selama ini China adalah menjadi negara tujuan ekspor dari negara -negara seperti  dari sejumlah negara Asean seperti Malaysia, Thailand dan Indonesia. Umumnya berupa bahan-bahan setengah jadi. Mengapa demikian?. Karena selama ini China adalah tempat perakitan akhir dari banyak produk perusahaan MNC milik AS, KE, Jepang, Taiwan dan Korea Selatan, sebelum barang-barang diekspor ke negara tujuan akhir, termasuk ke Indonesia.

KESEBELAS, Cina selama ini memegang peran sebagai investor yang semakin penting di kawasan Asean, seperti di Indonesia di industri ekstratif dan infrastruktur, seperti kereta api, jalan tol, kilang minyak, PLTU dari batubara dan gasifikasi batubara guna mempercepat arus sumber daya alam ke pasar China. Indonesia ditarget untuk pengembangan industri ekstratif dan pembangunan infrastruktur. Inilah kemudian rame soal TKA asal China. Last but not lease akibat dampak covid-19  telah menimbulkan ketegangan baru dengan AS dan sekutunya, sehingga timbul rencana relokasi  perusahaan MNC asal AS, Jepang, UE, dan Korsel.

Jika benar mungkin ada yang nyasar ke Indonesia, seperti salah satu perusahaan AS akan pindah ke daerah penghasil bawang merah dan telor asin di Kabupaten BREBES. Yang jelas selama ini dari total investasi langsung China ditujukan ke Asia. Asia menjadi wilayah tujuan investasi paling penting bagi China. Dan kita tahu bahwa investasi China di ASEAN (ada 10 negara)  dilakukan untuk mengimbangi kemerosotan investasi barat di kawasan asean dalam beberapa tahun terakhir. Dengan demikian kita menjadi faham bahwa inilah mengapa belt and road initiative dikembangkan yang didukung pembiayaannya oleh Asia Infrastructure Invesment Bank (AIIB). Begitulah kondisi obyektif setelah China berhasil menghebatkan dirinya. Biasanya akan menjadi ekspansif dan hegemonik. (penulis, pemerhati ekonomi dan keuangan, tinggal di Jakarta)

Berita Terkait

Komentar

Komentar