Artis Direkrut Partai Politik? Hati-hati

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Indonesia hampir tidak punya prinsip, terutama di dunia politik. Buktinya ketika ada artis di negara maju jadi pemimpin sejak beberapa periode yang lalu, para selebriti di Indonesia ramai-ramai terjun ke dunia politik dan sebagian dari mereka menjadi anggota legislatif dan ada juga yang memimpin daerah.

Hal ini, menurut pengamat sosial masyarakat dari Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Hotman Siahaan, tidak lepas dari peranan partai dengan tujuan untuk mendapatkan kursi sebanyak-banyaknya di DPR atau menjadi pemimpin di pemerintahan.

Saat musim pilkada, publik disuguhi hadirnya politisi musiman dan umumnya kehadirannya bukan karena pertimbangan perjuangan ideologis. ‘Mereka hanyalah politisi semu yang sekedar mengejar kekuasaan, karena jabatan baginya sebagai posisi yang menjanjikan kemakmuran, kehormatan, dan kemudahan mendapatkan akses bagi kepentingan hidupnya dan didukung oleh partai,” kata Hotman kepada Tubas, baru-baru ini.

Sementara itu, politisi gaek dari Partai Golkar, Lili Asdjudiredja menyayangkan getolnya sejumlah partai menggaet artis untuk dijadikan anggota dewan atau jadi pimpinan daerah. Seharusnya kata Lili para pemimpin parpol harus seselektif mungkin untuk merekrut orang-orang terkenal di panggung hiburan untuk jadi caleg atau jadi calon pemimpin daerah.

“Terjun ke politik itu sebenarnya tidak cukup hanya bermodalkan ketenaran nama, tapi yang terpenting adalah pemahamannya berbangsa dan bernegara, penguasaannya akan sejarah berdirinya negeri ini dan kepedulian terhadap nasib rakyat,” katanya.

Karena itu tegas Lili, jika panggung politik diisi hanya oleh karena namanya tenar di dunia hiburan sementara dia tidak tau tentang sejarah bangsa dan tata negara, hancurlah negeri ini. “Hati-hati dan jangan kecewakan rakyat,” Lili mengingatkan.

Hotman menambahkan, keberadaan suatu negeri salah satunya ditentukan oleh aktivitas para politisinya. Kalau suatu negeri lebih banyak politisi semu atau para politisi itu sendiri yang mengalami krisis, maka dipastikan kehidupan suatu negeri akan karut marut seperti dialami Indonesia saat ini.

Dijelaskan, seharusnya politisi bermakna sebagai ahli politik, ahli kenegaraan dan orang yang berkecimpung dalam bidang politik. Faktanya, kini politisi lebih dimaknai sebatas orang-orang yang bergelut dalam kekuasaan. Mulai dari kepala negara hingga para anggota dewan disebut sebagai politisi. (aru/sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar