AS Inward Looking

Oleh: Fauzi Aziz

DONALD Trump resmi dilantik menjadi Presiden AS yang ke-45 menggantikan Barack Obama. Trump akan berbenah dari dalam dan mengatakan AS harus bangkit kembali agar tetap menjadi negara yang kuat di dunia.

Logika ekonominya mengatakan bahwa “proteksi” adalah tindakan yang tepat dilakukan untuk memperbaiki postur ekonominya, sehingga secara jelas terbaca, AS akan menjalankan kebijakan yang bersifat Inward Looking.

Negara mitra dagang pasti akan mencermati apa yang akan menjadi kebijakan ekonomi Trump. Salah satu yang tercatat dari pemberitaan adalah bea masuk untuk impor dari Tiongkok akan dinaikkan dan aliansi dengan Uni Eropa dan Asia akan ditinjau kembali.

Banyak pihak menilai AS akan menjadi unilateris ketimbang memilih menghargai pentingnya hubungan yang bersifat multilateral dan regional. Dalam hal regionalisasi, sudah jelas AS menolak Trans Pacifik Partner ship (TPP).

Dalam perspektif hubungan internasional, ketika AS di bawah Trump mengambil sikap sebagai uniletaris, sudah dapat dipastikan hubungan yang bersifat bilateral akan lebih banyak dilakukan dengan negara mitra dagang terutama yang tidak dipersepsikan sebagai sebagai pesaing utama dan selama ini dinilai kooperatif dengan AS.

Beberapa catatan berikut adalah opini yang mencoba mengelaborasi kepemimpinan Trump untuk negerinya, yaitu:
Pertama, Trump nampaknya sangat percaya diri bahwa untuk memulihkan ekonomi AS, kebijakan Inward looking dengan menerapkan proteksi adalah merupakan keputusan politik yang tepat.
Seperti apa bentuknya akan kita tunggu. Yang sudah disebut, secara unilateral, AS akan membatasi impor barang-barang dari Tiongkok dengan menaikkan tarif bea masuk.

Bagaimana impor dari negara lain. Apakah akan diberlakukan sama, seperti dari Uni Eropa, Rusia, Jepang, Korsel, India, Indonesia dan negara negara Asean lain atau dari Mexico dan negara lain di kawasan Amerika Latin.

Kalau memang arahnya pembatasan impor, boleh jadi akan diberlakukan dengan tindakan yang sama. Nampaknya pendekatan America buy America akan dijalankan secara taat azas. Jika ini benar?, bisa dikatakan sebagai pertanda bahwa AS akan menjalankan “perang dagang”, atau boleh jadi hanya test the water kepada seluruh mitra dagangnya siapa ke depan yang akan tetap loyal dan siapa yang tidak.

Premis ini jika benar, berarti negeri Paman Sam dibawah Trump akan mengembangkan diplomasi ekonomi secara bilateral dan Indonesia sebaiknya segera bersiap diri dengan kemungkinan itu, agar ekspor kita dapat meningkat di masa mendatang.

Pada tahun 2015, ekspor non migas Indonesia ke AS, USD 15,3 miliar, Tiongkok USD 13,3 miliar, Jepang USD 13,1 miliar, India USD 11,6 miliar, Singapura 8,7 miliar, Malaysia USD 6,2 miliar, Korsel USD 5,4 miliar dan ke Thailand USD 4,6miliar.

Dari sisi impor, Indonesia mengimpor barang-barang dari AS pada tahun 2015 hanya USD 7,5 miliar, berarti Indonesia mempunyai surplus USD 7,8 miliar.

Kedua, kita tidak tahu disadari atau tidak oleh Trump, keputusan untuk menerapkan kebijakan proteksi adalah seperti menjilat ludah sendiri karena AS selama ini kita kenal sebagai mbah-nya sistem ekonomi liberal dan demokrasi.

Lebih lanjut, apa kira-kira pesan AS untuk WTO, IMF dan Bank Dunia untuk “mengamankan” kepentingan nasional negeri Paman Sam dalam percaturan ekonomi global. Apa yang disuarakan AS dibawah kepemimpinan Trump di forum G-20. Jangan-jangan forum ini “tidak diperlukan” lagi olehnya seperti Trump mengatakan bahwa NATO sudah tidak diperlukan. Pasalnya, AS yang kita kenali sebagai yang selalu mendorong pentingnya multilateralis, kini dibawa kembali oleh sang presiden yang ke 45 ke unilateralis.

Ketiga, kita bisa mengatakan itulah AS, tapi apakah “sesekeptis” itu kita memandangnya ketika mendengar langkah politik dan ekonomi yang akan dilakukan Trump dalam masa 4 tahun ke depan. Sang penjaga sistem multilateral global itu, kini berbalik arah. Boleh dibilang 180 derajat putar arahnya, dari penjaga sistem multilateral global, menjadi penjaga sistem unilateral.

Kira-kira tak peduli dengan sistem multilateral. Persepsi Trump terhadap negerinya, boleh jadi terpotret sebagai sikap profesional seorang petarung bisnis yang memandang korporasinya harus direstrukturisasi karena banyak masalah internal yang harus dibenahi.

Kita tahu hutang AS jumlahnya sangat besar, yang porsinya melampaui batas kepatutan karena mencapai 60 % lebih dari GDP AS. Restrukturisasi ekonomi ala Trump kelihatannya merupakan strategi breakthrough yang akan dilakukannya agar ekonominya kembali bangkit hingga mencapai level sebelum terjadi krisis finansial 2008-2009.

Kita tahu walaupun AS negara kaya dan paling maju di dunia, negara ini memiliki banyak orang miskin (subprime) yang memiliki rating kredit buruk, menunggak kartu kredit dan tagihan kredit kendaraan bermotor serta kredit perumahan.

Probem yang muncul kala itu adalah terjadi resiko finansial mismatch akibat kesalahan kebijakan pemberian pinjaman. Meskipun krisis itu bisa diatasi, tapi penyakit ini jangan sampai terulang lagi. Oleh sebab itu, memperbaiki daya beli rakyat miskin di AS jauh lebih penting. Bagaimana kondisinya ke depan,ki ta tunggu saja cara kerja Trump membenahi ekonomi AS dan bagaimana sepak terjangnya di kawasan regional Asia Pasifik dan di tingkat global terpaksa harus menanti dengan sabar dan harap-harap cemas. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

 

Humbanghas
Humbanghas

Berita Terkait

Komentar

Komentar